Diam ketika semuanya berjalan tak sesuai yang di harapkan.
Diam ketika pengharapan tak menemukan jalan.
Diam ketika langkah kaki terseok seok kesakitan.
Bahkan hanya untuk sekedar melihat kebelakang pun enggan.
Enggan melihat jejak tangis yang menyesakkan.
Enggan melihat jejak tragis akan pahitnya perjalanan.
Atau bahkan enggan untuk melihat masa kecil yang membahagiakan.
Karena sekarang kita tahu.
Bahwa yang di belakang adalah sesuatu yang tak bisa terulang.
Entah sebanyak apapun caci maki yang menikam.
Entah seberapa banyak sumpah serapah akan takdir yang di dapatkan.
Hanya bisa terkenang di lubuk hati yang terdalam.
Karena Dewasa itu diam.
Diam , lakukan kemudian ikhlaskan
Maftukhatul Khoiriyyah (CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim 2024)






