Bencana di Lereng Gunung Slamet dan Kerusakannya

Ilustrasi banjir bandan. Foto:BNBP

cssmora.org,- Yogyakarta – Hujan yang berlangsung berhari-hari membuat aliran sungai di Gunung Slamet berarus deras dan bercampur lumpur, batu, dan kayu besar menerjang permukiman, fasilitas umum dan infrastruktur vital. Adanya banjir bandang ini terjadi pada 23-24 Januari 2026 dan telah melumpuhkan area lereng Gunung Slamet.

Banjir bandang yang telah merusak berbagai fasilitas di lereng Gunung Slamet ini, berasal dari hujan deras yang terjadi sejak Jum’at, 23 Januari 2026 di sore hari dan berlanjut Sabtu dini hari yakni pada tanggal 24 Januari 2026. Dari hujan deras tersebut membuat debit air di sekitar Gunung Slamet meningkat drastis serta air sungai tersebut membawa material sedimen dari hutan dan lahan pertanian ke hilir, terutama di wilayah Purbalingga, Pemalang, dan Tegal.

Bencana ini membuat beberapa di wilayah Jawa Tengah rusak parah. Di Purbalingga, 36 rumah rusak berat, 6 rumah rata dengan tanah, dan sebagian tertimbun batu dan lumpur. Bencana ini juga membuat 2 jembatan penghubung terputus menyebabkan akses jalur utama terblokir dan puluhan kendaraan tersapu arus, serta 500 jiwa warga mengungsi ke lokasi pengungsian karena rumah yang ditempati tidak layak untuk dihuni.

Di Pemalang, banjir bandang melanda di 6 desa, merusak rumah dan menghanyutkan mobil serta material besar lainnya. Sekitar 380 jiwa terdampak. 119 jiwa mengungsi di sejumlah titik pengungsian serta 2 jembatan antar dusun terputus dan kerugian infrastruktur signifikan tercatat.

Di Tegal, tepatnya di kawasan Pancuran 13 yang merupakan ikon wisata air panas telah luluh lantak tak tersisa. Bencana ini juga membuat 3 jembatan utama wisata terputus, merusak akses menuju area pemandian, dan banyak fasilitas pedagang rusak. Adanya kerusakan di tempat wisara tersebut, pemerintah setempat menutup sementara kawasan wisata tersebut demi keselamatan publik.

Banjir bandang ini tidak hanya merusak fasilitas publik saja. Beberapa warga dilaporkan 2 meninggal dunia dan 2 luka berat. Bukan hanya itu saja, ribuan jiwa terpaksa mengungsi dan membutuhkan bantuan darurat serta fasilitas pengungsian.

Pihak pemerintah dari berbagai instansi telah bergerak cepat untuk memitigasi bencana tersebut. Baik dari Kementrian Sosial mendirikan dapur umum dan menyalurkan ribuan paket logistik. BPBD, TNI, Polri, dan relawan aktif melakukan evakuasi, pembersihan material, pembukaan jalur darurat, serta koordinasi logistik. BNPB ikut serta dalam memitigasi bencana di lereng Gunung Slamet dengan menyalurkan bantuan logistik senilai ratusan juta kepada pemerintah daerah sebagai bagian dari pemulihan pasca-bencana. Wakil Gubernur Jawa Tengah mengunjungi lokasi terparah di Pemalang dan menyerukan perlunya memperkuat hutan lindung di wilayah hulu untuk menurunkan risiko banjir bandang di masa depan.

Rasa duka cita dan prihatin dari CSSMoRA terhadap musibah atau bencana alam yang terjadi di lereng Gunung Slamet. CSSMoRA juga memandang bahwa penanganan bencana tidak cukup berhenti pada tahap tanggap darurat dan evakuasi saja. Tapi juga, meminta semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan memberi edukasi tentang bencana. Agar hal serupa tidak terjadi dan meminimalisir korban apabila bencana ini terjadi kembali.

Bencana alam bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Bencana alam telah memakan korban dan kerusakan fasilitas sebagaimana yang terjadi di lereng Gunung Slamet. Pencegahan dan penanganan tidak cukup setelah bencana terjadi. Perlu adanya mitigasi dan kesiapsiagaan agar bencana alam yang terjadi bisa meminimalisir dampak kerusakannya. CSSMoRA juga menekankan perlu adanya sikap peduli terhadap lingkungan dan mitigasi, agar hal serupa bisa diminimalisir.

Penulis : Tim Literasi PSDM CSSMoRA Nasional

Editor : Putri (Kepala Bidang Publikasi dan Dokumentasi Kominfo CSSMoRA Nasional) 

 

 

 

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *