Gempa Bumi Mengguncang Daerah Istemewa Yogyakarta

cssmora.org,- Yogyakarta – pada siang hari, Selasa, 27 Januari 2026, di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dilaporkan telah terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 4,4–4,5 yang mengguncang wilayah Yogyakarta. Guncangan dirasakan cukup kuat sehingga menyebabkan warga panik dan berhamburan keluar bangunan untuk menyelamatkan diri.

Berdasarkan data BMKG, gempa bumi tersebut berpusat di Kabupaten Bantul, dengan episenter berada di darat akibat aktivitas Sesar Opak. Menurut BMKG, gempa ini merupakan gempa bumi dangkal dengan kedalaman hingga 10 km, yang disebabkan oleh aktivitas patahan aktif Sesar Opak, bukan akibat pergeseran lempeng di dasar laut (megathrust).

Fenomena alam berupa gempa bumi di Bantul bukanlah hal baru, mengingat wilayah ini dilalui oleh Sesar Opak yang merupakan patahan aktif dan membentang dari muara Sungai Opak hingga ke arah Klaten. Kuatnya guncangan yang memicu kepanikan warga disebabkan oleh kedalaman gempa yang relatif dangkal, yakni sekitar 10 km, sehingga energi yang dilepaskan merambat dengan cepat ke permukaan. Bukan hanya dari kedalaman saja yang membuat gempa tersebut terasa mencekam. Dari karakteristik tanah di sebagian besar DI Yogyakarta yang berupa endapan vulkanik muda cenderung bersifat amplifikasi, sehingga guncangan terasa lebih hebat dari kekuatan aslinya.

Getaran gempa berskala menengah ini juga terasa di beberapa kota Jawa Tengah. Seperti Solo, Wonogiri, Magelang, hingga Sukoharjo. Gempa ini juga membuat perjalanan Kereta Api terganggu. Dilaporkan sebanyak 16 perjalanan kereta api harus melakukan berhenti luar biasa (BLB). Langkah ini diambil oleh pihak KAI untuk memastikan keamanan jalur, jembatan, dan terowongan sebelum kereta kembali diizinkan melintas.

Hingga tulisan ini dibuat, belum terdapat laporan mengenai kerusakan bangunan berskala besar maupun korban jiwa. Meskipun sempat terjadi kepanikan sesaat di pusat-pusat keramaian, situasi berangsur-angsur kembali kondusif. BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, terutama terkait potensi tsunami yang dipastikan tidak terjadi.

Dalam hal ini, CSSMoRA mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mudah menerima informasi yang tidak jelas kredibilitas sumbernya saat bencana alam terjadi. CSSMoRA juga menghimbau masyarakat agar tidak cemas ketika gempa terjadi, serta menerapkan prosedur keselamatan dasar dengan metode Drop (merunduk), Cover (melindungi kepala di bawah meja), dan Hold On (bertahan). Prosedur ini dinilai lebih aman dibandingkan berlari secara panik saat guncangan sedang memuncak.

Gempa bumi tektonik ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang rawan terhadap berbagai bencana alam. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa kuatnya guncangan gempa tidak hanya ditentukan oleh besaran magnitudo, tetapi juga oleh karakteristik tanah serta kedalaman pusat gempa. Melalui peristiwa ini, CSSMoRA mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran kebencanaan, tetap tenang, serta senantiasa bersikap siapsiaga dan bijak dalam menyikapi setiap informasi yang diterima.

Penulis : Tim Literasi CSSMoRA Nasional

Editor: Ainul Adhim Munawi

 

 

 

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *