Pendidikan inklusif telah menjadi salah satu agenda penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak tunagrahita, merupakan bagian dari generasi bangsa yang berhak memperoleh pendidikan yang layak dan bermartabat. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan masih terjadi. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024) menyebutkan bahwa angka partisipasi sekolah anak berkebutuhan khusus masih jauh tertinggal dibandingkan anak reguler. Sementara laporan UNESCO (2022) menegaskan bahwa lebih dari 90% anak penyandang disabilitas di negara berkembang mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kondisi ini tentu menghambat upaya mencetak generasi emas yang cerdas, mandiri, danberkarakter pada tahun 2045.
Dalam tradisi Islam, perhatian terhadap kaum lemah, dhuafa, dan difabel telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Islam mengajarkan prinsip kesetaraan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk dihormati. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 70).
Ayat ini menegaskan bahwa semua anak manusia, termasuk anak tunagrahita, memiliki martabat yang sama dan berhak memperoleh penghormatan serta kesempatan yang setara. Rasulullah SAW sendiri menunjukkan kepedulian besar terhadap orang-orang yang dianggap lemah. Dalam hadis disebutkan: “Kalian ditolong dan diberi rezeki hanyalah karena keberadaan orang-orang lemah di antara kalian.”
(HR. Bukhari).
Dengan demikian, memberikan ruang belajar yang adil bagi anak tunagrahita bukan hanya kewajiban pendidikan nasional, tetapi juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang diwariskan Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Dalam konteks inilah AKSARA (Aplikasi Literasi Sosial Budaya dan Karakter Pancasila) dirancang sebagai sebuah media interaktif adaptif berbasis gamifikasi. Aplikasi ini hadir bukan sekadar untuk memberikan hiburan atau latihan kognitif sederhana, tetapi untuk memperkuat literasi sosial, budaya, dan karakter Pancasila pada anak tunagrahita dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Nilai-nilai yang terkandung dalam AKSARA sejalan dengan tiga teladan besar Rasulullah SAW, yakni kepemimpinan yang bijaksana, semangat persatuan umat, serta kepedulian sosial. Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin yang penuh keteladanan. Dalam sebuah hadis beliau bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim).
Kepemimpinan yang digambarkan Rasulullah tidak hanya terbatas pada ranah politik atau sosial, tetapi juga menyentuh ranah pribadi. Setiap individu dididik untuk menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Konsep inilah yang diadaptasi dalam fitur Arena Belajar dan Dunia Simulasi AKSARA. Anak tunagrahita melalui aplikasi ini dilatih untuk membuat pilihan-pilihan sederhana, bertanggung jawab terhadap konsekuensinya, serta dilatih kemandirian dalam proses belajar. Hasil penelitian Nugraha & Setiadi (2021) menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis simulasi interaktif mampu meningkatkan keterampilan adaptif anak tunagrahita hingga 35% lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional. Dengan demikian, kepemimpinan yang diteladani Rasulullah dapat ditanamkan melalui pendekatan teknologi yang adaptif.
Selain kepemimpinan, Rasulullah juga dikenal sebagai pemersatu umat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10).
Ayat ini menegaskan pentingnya ukhuwah, baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) maupun ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Prinsip persatuan dan kebersamaan ini diterapkan dalam AKSARA melalui fitur Galeri Permainan dan Pojok Koleksi, yang mengenalkan anak-anak pada budaya nusantara, seperti pakaian adat, rumah adat, hingga lagu daerah. Melalui pengenalan budaya yang beragam, anak tunagrahita tidak hanya dilatih untuk mengenal identitas bangsa, tetapi juga diajarkan untuk menghargai perbedaan. Hal ini sejalan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila yakni gotong royong dan kebhinekaan global. Penelitian Sari et al. (2023) membuktikan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis budaya lokal mampu meningkatkan motivasi belajar anak berkebutuhan khusus hingga 40%, karena materi terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Lebih jauh lagi, Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang penuh kepedulian sosial. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107).
Kasih sayang Rasulullah tercermin dalam perlakuannya terhadap anak-anak, orang miskin, yatim, dan penyandang disabilitas. Beliau tidak pernah mendiskriminasi mereka, melainkan menjadikan mereka bagian penting dari masyarakat. Semangat kepedulian inilah yang dihidupkan dalam AKSARA. Fitur Hadiahku, Jejak Prestasi, dan Kembangkan Diri dirancang untuk memberikan penghargaan kepada anak tunagrahita atas setiap usaha kecil yang mereka lakukan. Meskipun sederhana, pemberian reward terbukti sangat efektif. Penelitian Rokhim et al. (2023) menunjukkan bahwa strategi gamifikasi dengan sistem penghargaan mampu meningkatkan rasa percaya diri (self-efficacy) anak tunagrahita, sehingga mereka merasa dihargai dan semakin termotivasi untuk belajar.
Lebih penting lagi, AKSARA tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan inklusif. Implementasi aplikasi ini melibatkan sekolah, guru, orang tua, bahkan pemerintah. Kolaborasi ini mengingatkan pada prinsip musyawarah yang diajarkan Rasulullah dalam memimpin umat. Dengan melibatkan berbagai pihak, pendidikan anak tunagrahita tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi agenda bersama untuk membangun bangsa yang inklusif.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa AKSARA merupakan sebuah inovasi pendidikan inklusif yang tidak hanya berfungsi sebagai media belajar berbasis teknologi, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai-nilai luhur yang diwariskan Rasulullah SAW. Melalui AKSARA, nilai kepemimpinan dapat ditanamkan kepada anak tunagrahita dengan cara melatih kemandirian dan tanggung jawab mereka. Nilai persatuan umat diwujudkan dengan pengenalan budaya nusantara yang memperkuat rasa kebhinekaan dan gotong royong. Sementara itu, nilai kepedulian sosial dihadirkan melalui sistem penghargaan yang membuat anak merasa dihargai dan didukung.
Dengan menggabungkan data empiris, prinsip-prinsip ajaran Islam, dan pendekatan gamifikasi berbasis teknologi, AKSARA memiliki potensi besar untuk menjembatani anak tunagrahita agar tidak tertinggal dalam pendidikan. Kehadiran AKSARA sekaligus menjadi wujud nyata implementasi prinsip rahmatan lil ‘alamin dalam dunia pendidikan, di mana tidak ada satu pun anak yang tertinggal karena keterbatasan yang dimilikinya.
Oleh karena itu, AKSARA bukan hanya sebuah aplikasi, melainkan simbol komitmen bangsa untuk menghadirkan pendidikan inklusif yang berlandaskan nilai Pancasila sekaligus meneladani ajaran Rasulullah SAW. Upaya ini diharapkan mampu berkontribusi pada pencapaian visi Indonesia Emas 2045, yaitu membentuk generasi unggul yang beriman, berakhlak mulia, berkarakter, serta peduli terhadap sesama.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (BPS). (2024) Statistik Pendidikan 2024. Jakarta: BPS.
Nugraha, A. & Setiadi, D. (2021) ‘Karakteristik dan kebutuhan edukasi anak tunagrahita’, Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, 17(2), pp. 200–215.
Rokhim, M., Lestari, N. & Pratama, A. (2023) ‘Pengaruh gamifikasi berbasis reward terhadap motivasi dan self-efficacy anak tunagrahita’, Jurnal Pendidikan Khusus, 12(1), pp. 45–58.
Sari, W., Amin, M. & Hidayat, R. (2023) ‘Pendekatan pembelajaran berbasis budaya lokal untuk anak berkebutuhan khusus’, Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 26(3), pp. 345–360.
UNESCO. (2022) Global education monitoring report 2022: Inclusion and education – All means all. Paris: UNESCO.
Milla Adeliya (CSSMoRA Institut Teknologi Sepuluh Nopember)





