Pendahuluan
Bayangkan sebuah peradaban tanpa arah: lidah berbicara, tetapi hati kelu; tangan bekerja, namun nurani mati; manusia berkumpul, tetapi jiwa tercerai. Dari kegersangan itulah lahir cahaya agung, Rasulullah SAW, fajar yang merobek gulita, samudra yang menampung dahaga, obor yang menyalakan peradaban. Namun, dunia hari ini kembali digelayuti kegelapan: krisis moral, polarisasi sosial, dan kepemimpinan yang sering jauh dari nilai kemanusiaan. Kita hidup di tengah kemajuan, tetapi kehilangan empati; terhubung secara digital, tetapi tercerai dalam nurani. Esai ini lahir untuk menegaskan kembali pesan kepemimpinan Rasulullah SAW: bahwa sejati pemimpin adalah pelayan, persatuan hakiki adalah iman, dan kepedulian sosial adalah denyut kehidupan.
Pembahasan
Ketika Cahaya Menolak Tenggelam
Sejarah kepemimpinan dunia penuh dengan raja, kaisar, dan panglima. Namun, ada satu sosok yang meninggalkan jejak berbeda: Rasulullah SAW. Beliau memimpin bukan dengan pedang semata, tetapi dengan hati; bukan dengan ambisi pribadi, tetapi dengan visi peradaban. Al-Qur’an menegaskan:
Artinya:” Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”(QS. al-Ahzab [33]: 21). Ayat ini bukan sekadar sanjungan, melainkan deklarasi bahwa kepemimpinan beliau adalah standar peradaban.
Fakta sejarah membuktikan, dalam dua puluh tiga tahun kepemimpinan, beliau mampu mengubah masyarakat jahiliyah yang tenggelam dalam fanatisme, diskriminasi, dan tirani menjadi umat yang berperadaban. Dari kota kecil Madinah, lahir sistem politik berbasis Piagam Madinah, dokumen sosial-politik yang menjamin kebebasan beragama dan kesetaraan warga.
Tidak mengherankan jika Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad SAW di urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang Sejarah. Dengan akhlaknya, beliau meluruhkan keangkuhan para penguasa; dengan kebijaksanaannya, beliau menata masyarakat yang tercerai; dan dengan visinya, beliau menyalakan obor peradaban yang tak pernah padam hingga kini.
Jiwa-jiwa yang Berikat Benang Tak Kesat Mata
Persatuan bukanlah hasil paksaan, melainkan buah dari iman yang menyatukan hati. Rasulullah SAW hadir bukan sekadar sebagai pemimpin politik, tetapi sebagai perekat jiwa – jiwa yang sebelumnya tercerai-berai. Al-Qur’an menegaskan:
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai….”(QS. Ali ‘Imran [3]: 103).
Ayat ini tidak berhenti pada seruan, tetapi terbukti nyata dalam sejarah. Suku Aus dan Khazraj yang telah berabad-abad berperang, di bawah kepemimpinan Rasulullah, berubah menjadi satu barisan. Hati mereka yang dulunya panas oleh dendam disatukan oleh kalimat Tauhid, benang tak kasat mata yang lebih kokoh dari kontrak politik mana pun.
Piagam Madinah menjadi saksi, bagaimana beliau merajut persatuan antara kaum Muslimin dengan Yahudi dan kabilah-kabilah lain, membangun masyarakat multiagama yang saling menghormati. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menyebut persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar sebagai “penyatuan yang tidak pernah dikenal dalam sejarah Arab sebelum Islam.”
Dengan iman sebagai simpul, umat yang tercerai itu bukan hanya bersatu, tetapi menjadi umat terbaik yang diutus untuk manusia. Benang tak kasat mata itu hingga kini tetap hidup, menjadi tali pengikat bagi siapa pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tangan yang Menggenggam Luka Orang Lain
Kepedulian sosial Rasulullah SAW tidak hanya berhenti pada kata-kata indah, tetapi hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beliau adalah orang pertama yang merasakan derita umatnya, mengulurkan tangan sebelum diminta, dan berbagi meski dalam keadaan sempit. Rasulullah bersabda:
Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka, bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan (sakit) dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim, no. 2586).
Riwayat menunjukkan, beliau kerap menyisihkan makanan untuk fakir miskin, bahkan ketika di rumahnya sendiri tak selalu ada yang bisa dimakan. Dalam Perang Khandaq, beliau ikut mengikatkan batu di perutnya karena lapar, agar sahabat tidak merasa berjuang sendirian. Ibnu Hajar menegaskan, sikap ini adalah simbol solidaritas Rasulullah terhadap penderitaan
umat.
Dengan kasih sayang, Rasulullah bukan hanya memberi, tetapi menggenggam luka orang lain, merawatnya dengan perhatian, menyembuhkannya dengan cinta, hingga masyarakat lahir sebagai satu tubuh yang hidup dalam kepedulian.
Penutup
Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah SAW bukan sekadar figur spiritual, melainkan poros yang menggerakkan peradaban. Dari beliau kita belajar bahwa kepemimpinan adalah keberanian untuk melayani, persatuan adalah iman yang merajut hati, dan kepedulian sosial adalah denyut nadi umat. Empat belas abad berlalu, namun cahaya itu tetap menyala, melintasi zaman yang kian gaduh.
Dr. Yusuf al-Qaradawi pernah menulis bahwa “Rahasia terbesar kebangkitan Islam bukanlah pedang atau harta, melainkan akhlak Rasulullah yang memikat hati musuh sekalipun.”Kutipan ini menegaskan bahwa teladan beliau bukan sekadar doktrin, tetapi energi yang membangkitkan kehidupan.
Maka, tugas kita hari ini bukan sekadar mengagumi, tetapi menyalakan kembali obor itu: menjadi pemimpin yang amanah, umat yang bersatu, dan manusia yang peduli. Selama umat ini meneladani Rasulullah, cahaya itu takkan pernah padam, ia akan terus hidup, bahkan di tengah gelapnya zaman.
Ai Nurussaadah (CSSMoRA Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, 2024)





