Kata kunci : Kepemimpinan, Demokrasi, Jujur dan Bertanggung jawab
Pendahuluan
Di tengah kompleksitas tantangan global dan lokal, dunia kepemimpinan kontemporer sering kali dihadapkan pada krisis integritas, akuntabilitas, dan legitimasi. Rasulullah saw. adalah figur yang paling dihormati dan diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia. Beliau bukan hanya seorang Rasul yang membawa wahyu dari Allah Swt. Tetapi juga seorang pemimpin, suami, ayah, teman, dan panutan dalam segala aspek kehidupan. Masyarakat modern Generasi Z merindukan figur pemimpin yang tidak hanya berbicara secara teknis tetapi juga memiliki petunjuk moral yang kuat, mampu membawa perubahan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah Rasulullah khususnya dalam tradisi Islam, mengutip sebagai paradigma kepemimpinan yang immortal dan universal. Mereka bukan sekadar pembawa pesan ketuhanan, melainkan juga pemimpin yang bisa menempatkan kepedulian sosial serta bertanggung jawab sebagaimana beliau bersabda “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks kepemimpinan pendidikan Islam, terdapat karakteristik khas yang harus dimiliki, seperti kejujuran, tanggung jawab, demokrasi, kemampuan untuk memotivasi, serta keterampilan dalam membangun hubungan yang baik dengan peserta didik, tenaga pendidik, dan masyarakat.3 Kejujuran adalah landasan utama yang membedakan mereka, membangun kepercayaan mutlak dari pengikut, yang merupakan mata uang paling berharga dalam kepemimpinan apa pun. Sementara itu, prinsip
demokrasi tercermin dalam praktik syura atau bermusyawarah, di mana keputusan tidak diambil secara otoriter tetapi melalui pertimbangan kolektif dan hikmat kebijaksanaan. Akhirnya, sikap bertanggung jawab atas setiap tindakan dan kebijakan, baik kepada masyarakat maupun secara transendental kepada Yang Maha Kuasa, menjamin bahwa kepemimpinan mereka selalu terarah untuk kemaslahatan bersama, bukan kepentingan pribadi atau golongan. Bahkan, dalam sebuah hadis beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia Adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR Ahmad).
Oleh karena itu, esai saya ini berargumen bahwa keteladanan kepemimpinan Rasulullah dengan memfokuskan pada tiga pilar utama : jujur, demokrasi, dan bertanggung jawab, bukan hanya relevan tetapi justru masih sangat dibutuhkan sebagai sumber inspirasi Generasi Z dan solusi bagi pembentukan karakter pemimpin masa kini. Dalam menghadapi berbagai tantangan kepemimpinan saat ini seperti krisis moral, ketidakadilan yang berkembang, dan penyalahgunaan wewenang mengikuti contoh kepemimpinan Nabi Muhammad saw. menjadi sangat penting dan layak untuk dieksplorasi lebih jauh.
Pembahasan
Kepemimpinan versi Rasulullah saw.
Istilah pemimpin atau leader mengandung nilai tertentu. Biasanya, kata ini dipahami secara positif, yaitu menunjuk pada seseorang yang memiliki kapasitas istimewa. Banyak di antara kita yang lebih mudah diidentikkan sebagai pemimpin dari pada hanya manajer atau politisi. Sering kali juga, kata leadership lebih merujuk pada peran dan tanggung jawab dari pada sebatas perilaku.
merupakan satu kesatuan. Dalam bahasa Inggris, pemimpin disebut leader, sedangkan aktivitasnya disebut leadership. Dalam Islam, konsep kepemimpinan dikenal dengan istilah khalifah. Kata khalifah sendiri berarti pengganti atau wakil. Setelah Rasulullah saw wafat, gelar khalifah dipakai untuk empat Khulafaur Rasyidin dan memiliki makna yang berdekatan dengan kata amir (jamak: umara) yang berarti penguasa. Al-Quran menggunakan istilah imam dan khalifah untuk menyebut pemimpin. Kata imam berasal dari akar kata amma-yaummu yang bermakna mengarahkan, menjadi sandaran, sekaligus memberi teladan.
Karakteristik pemimpin pendidikan dalam perspektif Islam pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan karakteristik yang diperlukan dalam pendidikan secara umum, Namun, dalam konteks kepemimpinan pendidikan Islam, terdapat figur teladan yang sangat luar biasa, yakni Rasulullah saw. yang menjadi panutan bagi para pemimpin pendidikan. Beliau selalu memperlakukan orang dengan adil dan jujur, serta memimpin tidak hanya melalui perkataan, tetapi juga dengan tindakan dan keteladanan. Setiap kata yang beliau ucapkan selalu konsisten dengan tindakan beliau.
Rasulullah saw. adalah seorang pemimpin yang luar biasa dan manajer hebat dalam sejarah kepemimpinan dunia. Kesederhanaan hidupnya penuh dengan nilai-nilai kebaikan yang dapat menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi umat Islam, beliau dikenal dan dihormati sebagai seorang pemimpin yang unggul dalam berbagai bidang, termasuk demokrasi, jujur, bertanggung jawab, fokus pada kehidupan akhirat, dan rasa kemanusiaan yang mendalam.
Dari sifat yang di atas adalah sifat kepemimpinan Rasulullah saw. yaitu sifat-sifat yang menjadi cerminan kepribadian Nabi Muhammad saw. dalam melaksanakan perannya sebagai pemimpin umat. Secara lebih terperinci, sifat-sifat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Demokratis
Konsep demokrasi dalam arti modern (kekuasaan di tangan umat sepenuhnya) tidak secara langsung ada dalam Islam, karena dalam Islam, sumber hukum dan kekuasaan tertinggi adalah Allah. Namun, prinsip-prinsip partisipasi, musyawarah, dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan sangat ditekankan dalam kepemimpinan Rasulullah saw. Prinsip ini dikenal dalam Islam sebagai “syura” (musyawarah), yang memiliki kemiripan dengan nilai-nilai demokrasi, terutama dalam hal konsultasi dan partisipasi masyarakat. Dalil utama yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…” (QS. Asy-Syura: 38)
Dalam praktiknya, Rasulullah saw. sering bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan terkadang mengambil pendapat mayoritas meskipun berbeda dengan pendapat pribadinya. Misalnya, dalam Perang Badar, Rasulullah saw. menerima usulan dari sahabatnya, Al-Hubab bin Al-Mundzir, mengenai strategi penempatan pasukan setelah bermusyawarah terlebih dahulu. Rasulullah saw berkata, “Sungguh engkau telah memberikan pendapat yang baik,” lalu beliau melaksanakan usulan tersebut.
Dalam Perang Uhud, Rasulullah saw. juga mengikuti keputusan mayoritas sahabat meskipun berbeda dengan pendapat pribadinya dan inilah yang menjadi cerminan umat dari sifat kepemimpinan Rasulullah saw.
2. Shidiq ( Jujur )
Kejujuran adalah salah satu sifat utama yang menonjol dalam kepemimpinan Rasulullah saw. Banyak dalil dan hadis yang menegaskan hal ini. Salah satu hadis yang sangat terkenal adalah sabda Rasulullah,
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu berkata jujur dan berusaha jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka. Seseorang yang terus berdusta dan berusaha berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tetap menyuruh Ali bin Abi Thalib mengembalikan barang-barang titipan Quraisy meskipun mereka adalah musuh yang hendak membunuhnya.10 Ini adalah salah satu contoh dari beliau sifat kejujuran dalam kepemimpinannya dan yang menjadi cerminan umat dari sifat kepemimpinan Rasulullah saw.
3. Bertanggung Jawab
Tanggung jawab adalah salah satu sifat kepemimpinan Rasulullah saw. yang banyak terekam dalam riwayat-riwayat hadis. Salah satu hadis yang paling jelas tentang tanggung jawab pemimpin adalah sabda beliau,
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa tanggung jawab adalah prinsip utama dalam kepemimpinan Rasulullah saw., dan setiap pemimpin wajib menjaga, menasihati, dan memenuhi hak-hak rakyatnya dengan penuh amanah dan tanggung jawab.
Dari uraian sifat-sifat Rasulullah di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Rasulullah saw. dibangun atas dasar musyawarah, kejujuran, dantanggung jawab yang tinggi. Ketiga sifat ini bukan hanya mencerminkan pribadi beliau sebagai pemimpin umat, tetapi juga menjadi pedoman universal bagi setiap pemimpin sepanjang masa. Apabila nilai-nilai ini diamalkan, maka kepemimpinan akan berjalan dengan adil, amanah, serta membawa keberkahan bagi seluruh umat.
Rekomendasi
Menurut pandangan saya, kepemimpinan Rasulullah saw. masih sangat relevan jika diterapkan pada konteks zaman sekarang, khususnya bagi Generasi Z dan juga bagi para pemimpin di Indonesia. Rasulullah bukan hanya seorang tokoh agama, tetapi juga seorang pemimpin yang mampu menyeimbangkan antara nilai spiritual, moral, dan sosial.
Salah satu sifat beliau yang paling berkesan adalah sikap demokratis. Rasulullah selalu melibatkan sahabat dalam musyawarah sebelum mengambil keputusan penting. Bagi saya, hal ini adalah bukti bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya datang dari satu orang, tetapi juga lahir dari kebersamaan. Sikap seperti ini sangat sesuai dengan karakter Generasi Z yang suka dengan keterbukaan, partisipasi, dan kebebasan berpendapat.
Selain itu, sifat jujur Rasulullah adalah kunci mengapa beliau sangat dipercaya umatnya. Kejujuran menurut saya adalah fondasi utama yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemimpin. Di Indonesia, kita sering melihat krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin karena masalah integritas. Jika saja para pemimpin benar-benar meneladani kejujuran Rasulullah, saya yakin bangsa ini akan lebih maju karena rakyat merasa aman dan percaya terhadap kebijakan yang dibuat.
Tidak kalah penting, Rasulullah juga mencontohkan sikap bertanggung jawab. Beliau tidak pernah menjadikan kepemimpinan sebagai sarana mencari keuntungan pribadi, tetapi sebagai amanah yang harus dijaga. Menurut saya, inilah nilai yang sangat dibutuhkan oleh pemimpin Indonesia sekarang. Bertanggung jawab bukan hanya soal menyelesaikan janji politik, tetapi juga tentang keberanian menghadapi risiko, menjaga keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Bagi saya pribadi, jika pemimpin Generasi Z suatu saat mampu menyatukan sifat demokratis, jujur, dan bertanggung jawab seperti yang dicontohkan Rasulullah, maka kita akan memiliki pemimpin yang bukan hanya modern dan adaptif, tetapi juga bermoral dan berintegritas tinggi. Indonesia jelas membutuhkan sosok pemimpin dengan karakter seperti ini agar kepercayaan publik kembali tumbuh dan arah bangsa bisa lebih terjamin menuju kebaikan.
Penutup
Penutup ini saya sampaikan bahwa kepemimpinan Rasulullah saw. masih relevan untuk Generasi Z dan pemimpin Indonesia saat ini. Beliau bukan hanya tokoh agama, tetapi pemimpin yang mampu menyesuaikan nilai spiritual, moral, dan sosial.
Sifat demokratis beliau tercermin dalam kebiasaan bermusyawarah dengan para sahabat, yang sejalan dengan karakter Generasi Z yang menghargai keterbukaan dan partisipasi. Sifat Jujur beliau menjadi dasar kepercayaan umat, dan menurut saya inilah kunci yang dibutuhkan Indonesia untuk mengatasi krisis integritas pemimpin. Sementara sifat Bertanggung jawab Rasulullah menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan sarana mencari keuntungan pribadi, melainkan menjaga keadilan dan kepentingan rakyat.
Bagi saya, jika Generasi Z dan pemimpin Indonesia mampu memadukan nilai demokratis, kejujuran, dan tanggung jawab sebagaimana dicontohkan Rasulullah, maka akan lahir sosok pemimpin yang modern sekaligus bermoral, berintegritas, dan dipercaya rakyat, sehingga mampu membawa bangsa ini menuju arah yang lebih baik.
وهللا أعلم بالصواب
Tebuireng, 18 September 2025
DAFTAR PUSTAKA
Referensi jurnal dan artikel:
Hadari Nawawi. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003.
Kunzita Ladiana Manzil dan M. Imamul Muttaqin, “Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam (Pengertian, Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah, Karakteristik Kepemimpinan Pendidikan Islam, dan Keberhasilannya),” Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa 1, no. 7 (2024): 735
Kunzita Ladiana Manzil dan M. Imamul Muttaqin, “Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam (Pengertian, Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah, Karakteristik Kepemimpinan Pendidikan Islam, dan Keberhasilannya),” Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa 1, no. 7 (2024): 738
Nur Aisah Rahmah dan Ahmadi, “Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW: Menjadi Pemimpin yang Responsible,” Jurnal Ilmiah Nusantara (JINU) 2, no. 4 (Juli 2025):292
Hadari Nawawi. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003.
Nurmaini, “Kisah Inspiratif Rosulullah dan Khulafaur Rasyidin Dalam Menjaga Keutuhan dan Persatuan Umat Islam,” Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial 2, no. 7 (Maret 2025)
Referensi kitab turost:
Abu al-Qasim Ibnu ‘Asakir. Mu‘jam al-Syuyukh. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Aḥmad Ḥasan al-Zayyāt. Majallat al-Risala. 1388 H, hlm. 966.
Al-Qāḍī Saʿīd al-Qummī. Sharḥ Tawḥīd al-Ṣadūq, hlm. 501.
Ibnu Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyyah, Juz 2.
Muhammad Zakwan Adlan (CSSMoRA Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, 2023)





