Bagi Gen Z, bahasa gaul tak sekedar cara berkomunikasi secara informal. Bahasa gaul jelas sudah menjadi bagian dari identitas diri serta menjadi sarana kuat mengekspresikan kepribadian sekaligus sudut-pandang Gen Z pada dunia. Apalagi, di era media sosial yang terusberkembang. Bahasa gaul menjadi semakin penting karena memudahkan untuk ngobrol dengan teman sebaya (Harlinda, 2024). Pun saling terhubung satu sama lain dengan budaya populer saat ini.
Saat ini, ada Vindes. Perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif, yang digagas Vincent dan Desta. Dua bintang film yang menggunakan bahasa gaul dalam kontennya untuk menarik minat para Gen Z dengan menyelipkan frasa atau kata-kata populer di kalangan remaja. Contohnya, penggunaan singkatan seperti “btw” (by the way), “lu” (kamu), atau “santuy” (santai) yang membuat tulisan terasa lebih akrab dan santai. Tak cuma itu, bahasa gaul Vindes juga memperkaya narasi dengan humor dan gaya percakapan yang lebih informal yang sering kita temukan dalam berbagai bersi dari kontennya. Seperti super cool (supakul), bulu tangkis (tepok bulu), di balik behind, tahukah you know dan masih banyak lagi konten yang dihasilkan guna lebih mudahmenarik perhatian dan memikat hati Gen Z.
Selain bahasa gaul, bahasa slang juga kerap digunakan oleh Gen Z. Adapun perbedaan mencolok antara bahasa gaul dan bahasa slang itu terkait pada cara penggunaannya yang berbeda, serta konteks komunikasinya. Bahasa gaul, seperti yang digunakan dalam konten Vindes, terasa lebih fleksibel dan terus berkembang seiring dengan perubahan sosial dan menjadi bahasa keseharian. Dalam bahasa gaul, seorang penulis dapat menggunakan frasa atau kata-kata yang populer di kalangan Gen Z tanpa harus terikat pada aturan. Contoh bahasa gaul yang lebih umum dan santai “nongki di kafe nih, guys?”.
Sedangkan bahasa slang cenderung lebih khas dan terbatas pada kelompok atau komunitas tertentu yang menggunakannya sebagai “identitas” atau ciri keanggotaan. Bahasa slang bisa jadi sulit dipahami oleh orang yang tidak akrab dengan kelompok atau budaya tertentu. Penggunaan slang juga cenderung lebih stabil dan jarang berubah, kecuali ada perubahan dalam kelompok yang menggunakannya. Contoh bahasa slang lebih spesifik dan khas, misalnya “Dia tuh kece abis, bro!”.
Di zaman now, Gen Z telah menjadi subjek“perhatian” yang besar dalam berbagai bidang, termasuk industri kreatif. Dikenal karena interaksi Gen Z yang intens dengan teknologi digital dan media sosial. Generasi Z telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek budaya, termasuk dalam penggunaan bahasa. Bagi Gen Z, bahasa itu bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga ajang ekspresi diri. Di masa lalu, penggunaan bahasa gaul dalam industri kreatif telah dipraktekkan Ebet Kadarusman, pembawa acara talkshow Salam Canda yang telah menarik banyak perhatian karena
keunikannya dalam acara “Good Pagi Selamat Morning”. Begitu sohor pria yang akrab disapa ”Kang Ebet” itu hingga telah menarik perhatian Peter F Gontha, pejabat eksekutif PT Bimantara Citra–perusahan yang menaungi radio itu dan RCTI menawariEbet untuk membuat acara talk show. Menurut portal Kompas, itulah kelahiran talkshow beken “Salam Canda”.
Kembali ke Duo Vindes. Kedua pesohor itu tidak hanya sebatas menciptakan konten yang menarik melalui penggunaan “bahasa gaul”. Mereka juga berperan sebagai wadah untuk menyalurkan inovasi dan kreatifitas. Melalui inisiatif seperti Vindes Music Project yang pada tanggal 7 Desember tahun 2023 lalu, Iwan Fals menggabungkan kolaborasi dengan Sawung Jabo dalam melantunkan syairnya (Noviana, 2023).
Lalu, lewat inisiatif lain, dalam turnamen Vindes Sports, Tepok Bulu 2022 lalu sukses mencapai 8 juta viewers penonton dalam kanal YouTube Vindes (Astuti, 2022). Salah satu indikasi kunci keberhasilan Duo Vindes adalah pemahaman mereka yang mendalam akan pentingnya “culture” dalam meraih hati Gen Z. Dalam setiap konten yang mereka buat, seperti penyelipan kata gaul maupun slang atau dengan menghadirkan influencer bahkan artis ternama dari kalangan Gen Z.
Hal ini membuat konten mereka terasa lebih akrab dan hangat bagi para Gen Z. Sehingga mereka mampu membangun ikatan kokoh dengan penggemarnya, yang kemudian berkontribusi pada kesuksesan keduanya sebagai content creator dalam membangun ketertarikan yang menghasilkan keuntungan. Seperti konten “IQBAAL” dimana Iqbal Ramadhan pemeran utama film Dilan 1990 itu menjadi host utama yang membahas seputar kehidupan yang ada di tahun 90-an, mulai dari fashion, film, otomotif, musik dan masih banyak lagi. Tentunya, acara ini menjadi peluang bisnis tersendiri bagi Vindes untuk para Gen Z yang memiliki hobi ataupun ketertarikan pada era 90-an.
Dengan keunikan dalam memproduksi konten, Duo Vindes telah mencapai kesuksesan luar biasa dengan followers Instagram yang mencapai lebih dari 1 juta followers. Magnet utama Vindes adalah penggunaan bahasa gaul yang khas dan kekinian sehingga para Gen Z merasa senang dengan adanya konten yang “fresh” yaitu konten menghibur dan menarik.
Berkat pemakaian bahasa gaul, Duo Vindes telah berhasil membangun komunitas loyal penggemarnya. Merujuk pada kumpulan referensi data serta fakta empiris, terlihat pemakaian bahasa gaul maupun slang dalam industri kreatif telah menjadi tren yang semakin populer dan tentunya menguntungkan. Pemakaian bahasa gaul sudah ikut menunjang produktivitas. Itulah cara yang efektif untuk mendekati dan berinteraksi dengan Gen Z. Pendekatan yang menggabungkan kreativitas, pemahaman mendalam akan identitas Gen Z, dan keberhasilan membangun komunitas inklusif.
Namun, lebih dari itu, Duo Vindes telah membuktikan bahwa penggunaan bahasa gaul tidak hanya menjadi “trend”, tetapi juga merupakan “marketing strategy” yang efektif untuk menarik perhatian dan membangun koneksi yang kuat dengan Gen Z. Melalui konten yang penuh warna dan memukau, mereka telah mengubah bahasa slang menjadi “alat” untuk ekspresi diri dan identitas, sambil tetap mempertimbangkan pentingnya memahami konteks penggunaannya. Vindes telah sukses memperkuat
hubungan dengan penggemar mereka, menegaskan bahwa dalam dunia digital yang terus berkembang, penggunaan bahasa gaul bukan hanya sebuah cara untuk berkomunikasi, melainkan juga menjadi sarana membentuk komunitas yang solid dan mendukung.
Daftar Pustaka
Astuti, F. D. (2022, July 18). Vindes Sport Tepok Bulu 2022 Capai Lebih Dari 8 Juta Views. Okezone Sports. Retrieved April 4, 2024, from https://sports.okezone.com/read/2022/07/18/2/2631655/vindes-sport-tepok-bulu-2022-capai-lebih-dari-8-juta-views
Harlinda, D. S. (2024, 03 20). Bahasa Gaul dan Bahasa Slang Sebagai Komunikasi Gen Z. Bahasa Gaul dan Bahasa Slang Sebagai Komunikasi Gen Z. https://kumparan.com/dea-harlinda/bahasa-gaul-dan-bahasa-slang-sebagai-komunikasi-gen-z-22LnD9zDxZh/3
Kompas.com. (2010, 03 20). Pesan Manis dari Kang Ebet. Pesan Manis dari Kang Ebet. Retrieved 04 15, 2024, from https://nasional.kompas.com/read/2010/03/20/09045645/pesan.manis.da
ri.kang.ebet?page=all
Kompas.com. (2023, May 9). Iqbaal Ramadhan Punya Acara Baru di Vindes, Apa itu? Kompas.com.
https://www.kompas.com/hype/read/2023/05/09/164137366/iqbaal-ramadhan-punya-acara-baru-di-vindes-apa-itu
Noviana, R. (2023, December 7). Iwan Fals Akan RilisAlbum Baru dari Syair Sawung Jabo – Musik. VOI. Retrieved April 4, 2024, from https://voi.id/musik/336873/iwan-fals-akan-rilis-album-baru-dari-syair-sawung-jabo#google_vignette
Sirajul, Z. F., Nursyirwan, E., & Elva, R. R. (2024, Maret Kamis). Perubahan Perilaku Komunikasi Generasi Milenialdan Generasi Z di Era DIgital. Perubahan PerilakuKomunikasi Generasi Milenial dan Generasi Z di Era DIgital. https://komunikasi.untag-sby.ac.id/berita-997-mengenal-gaya-komunikasi-gen-z.html
Abu Shidqi Alhafiz (CSSMoRA Universitas Airlangga 2023)





