“Mau kemana?”
“Acara BM, Pak”
“Gak boleh!”
“Loh… kenapa pak?”
“Santri tidak boleh keluar, selama tiga hari, karena ada acara…!”
“Lah… ini kan mau ikut acara pak!”
“Gak boleh!”
Tomy menghembuskan nafas, masih belum percaya, dirinya malah dilarang keluar. Padahal, dirinya sudah lama mempersiapkan banyak hal, hanya untuk ikut andil dalam Bahstul Masail tahun ini.
“Biarlah Tomy…kamu tidak akan bisa menang debat, jika melawannya,” Seru Eja yang ikut bersamanya.
“Tapi Eja… masak kita tidak ikut BM (bahtsul masa’il). Kamu tidak ingat, tiga hari kita membuat persiapan matang-matang, tiga hari kita tidur larut malam. Teus menerus menghirup debu di kitab yang tak pernah terjamah. Lalu… sekarang? Kita gak ikut BM hanya karena satpam sialan ini?”
“Ya.. mau gimana lagi Tomy. Emang kamu punya cara lain, heh?”
Tomy memutar pandangan, berfikir sejenak. Dan … Ah! Ide itu mucul.
“Ayo ikut aku Eja!” Tomy langsung menarik tangan temannya yang masih terheran-heran, apa sebenarnya rencana Tomy.
***
Di tempat BM, Tomy tampil sangat heroik. Seakan dia yang menjadi singa podium dalam acara itu. Apa yang dia persiapkan selama ini, tampak sangat berguna. Semua hasil rumusan BM itu, berasal dari pendapat yang dikemukakan oleh dirinya.
Selepas acara, dia mendapat sorotan dari peserta-peserta yang lain. Tak jarang peserta lain berpapasan dengan tomy, lalu berjabat tangan, dan mengatakan, hebat. Sejenak dia melupakan kejadian menjengkelkan dengan satpam tadi, dan mulai merasa senang dengan apa yang telah dia persiapkan selama ini ternyata tidak sia-sia.
“ITU ORANGNYA…!!!” Di tengah kesenangan Tomy, ada bentakan yang cukup keras dari kejauhan. Demi melihat orang yang membentak, para peserta spontan melihat ke arah sumber suara. Tomy terkejut dengan apa yang dia lihat. Lima orang berseragam satpam berlarian menuju ke arah Tomy.
“Gawat Eja… lari” Tak perlu perintah dua kali, Eja ikut membuntuti Tomy. Berlarian menuju jalan berkelok-kelok. Persis di kelokan yang kesekian, Tomy menarik tangan Eja. Masuk ke dalam celah di balik dinding, lumayan untuk jadi tempat persembunyian.
“CARI ORANGNYA, JANGAN SAMPAI LEPAS…!!!” Dari tempat persembunyian Tomy, masih terdengar teriakan satpam dari kejauhan.
“Ah! Sial, kenapa mereka mengejar kita?”
“Entah lah, Tomy”
Tomy masih menggeram marah, sambil mengeintip keluar.
“Oke, kita tunggu di sini lima menit sebelum keluar”
Eja hanya mengangguk. Terlihat dari wajahnya yang harap-harap cemas, bahwa dia agak ketakutan.
Lima menit berlalu.
“Ayo cepat!” bisik Tomy, menunggu Eja keluar dari tempat persembunyian
Baru saja mereka berdua melewati dinding, mereka dikejutkan dengan orang yang duduk, melepas letih, di dekat dinding. Melihat dua orang yang nongol dari balik dinding.”HEI… INI ORANGNYA!!!” sepersekian detik kemudian,Tomy dan Eja langsung terkepung oleh lima satpam. Ah! Bagaimana lagi, mereka kalah jumlah.
***
Di ruang intograsi kesatpaman. “Apa salah kami, pak? ”Tomy langsung bertanya ketika berhadapan dengan kepala satpam. Kepala satpam menoleh. “Kalian masih belum merasa, heh? Kalian belum merasa telah melompati pagar tiga meter di belakang pondok?” Tomy terkejut mendengarnya, tapi dia tetap berusaha bersikap normal. “Jangan asal nuduh, pak! Mana buktinya kalok kami lompat pagar?” Tomy berusaha membela diri. Namun tiba-tiba “KLIK” Pintu ruangan terbuka, disusul seseorang masuk. Postur tubuhnya seperti anak kecil, tapi dia menggunakan seragam satpam. Demi melihat sosok tersebut, Tomy dan Eja saling bersitatap, terkejut. Mereka ingat orang tersebut. “Ah! Sial… dia orang orang yang berpapasan denganku dan Eja ketika baru turun dari pagar tiga meter itu. Kukira dia hanya anak kecil biasa, yang tidak sengaja lewat jalan sana dan akan mudah akan melupakan apa yang dia lihat” batin Tomy sambil menggeram. “jika saja aku tau, dia itu satpam, akan kusumpal mulutnya dengan kaus kaki lalu kuikat dia di pohon”.
“Tapi pak, kami gak mungkin melakukan hal itu, jika kami diperbolehkan keluar” Tomy terus mencoba membela diri.
“Eh! Masih ngeyel, kamu tidak tau, peraturan pesantren, tidak boleh melompat pagar”
“Ya kan, kami tidak boleh lewat gerbang, pak!” Tomy terus mendesak.
“Itu bukan urusan saya, yang terpenting kalian sudah terbukti melompat pagar belakang pesantren” sergah kepala satpam sambil menoleh ke rekannya yang ada di belakangnya. “Jalu! Bawa dua orang ini ke sel, cukur habis rambutnya, dan suruh baca yasin empat puluh satu kali selama satu bulan” kepala satpam berdiri, meninggalkan tempat, menyisakan Tomy, Eja dan Jalu si satpam.
***
Satu bulan berikutnya, setelah Tomy dan Eja menyelesaikan bacaan, dan selama itu juga
mereka berdua menahan malu, kepalanya botak.
“Eja… kamu sudah nerima kelakuan satpam kepada kita?”
“Gak bakal aku lupa, Tomy, kalok kamu mau aku punya rencana balas dendam buat satpam – satpam sialan itu” Tomy terbelalak mendengar ucapannya Eja, tanpa banyak pikir, Tomy mengangguk, mengiyakan ajakannya.
“Oke… kalok gitu, kita beraksi besok, karena kita masih harus ke kantor satpam untuk memproses surat penyelesaian sanksi”
***
Besoknya, pada malam hari. Tomy memasuki kantor satpam.
“Apa keperluanmu?” tanya salah satu penjaga dalam kantor.
“Mau proses penyelesaian sanksi, pak”
“Tunggu lima menit lagi, kepala satpam masih ada rapat di dalam, nanti saya akan panggil kamu” jawab satpam memberi perintah.
“Aduuuuh… pak! Boleh numpang Wcnya pak” Tomy merintih sambil memegang perut dan memasang raut muka yang tidak enak dipandang.
“Iya, disebelah sana” si penjaga menunjuk lorong sebelah kanan dan tanpa basa-basi Tomy langsung menyusuri lorong ter sebut, mencari WC di sana.
Lima menit kemudian.
Tomy berada di ruangan kepala satpam dan memberikan surat-surat penyelesaian sanksi.
“Heh! Kok hanya kamu yang datang, mana satunya?”
“Dia lagi sakit, pak. Jadi saya sendiri yang membawa suratnya” tanpa banyak basa-basi, kepala satpam menanda tangani dua surat di hadapanya dan memberi cap stempel. Selesai. Tomy langsung menerima surat itu dan tiba-tiba “KLEK” lampu mati, gelap menyusupi setiap sudut ruangan. “Heh! Ada apa ini?” kepala satpam terkejut. Sebaliknya Tomy tidak terlihat terkejut sama sekali karena hal itu memang bagian dari rencananya. Secepat kilat tangannya langsung meraksek ke laci di sebelah kepala satpam dan mengambil kuci di sana. “ Hei! Apa yang kau lakukan”. Tanpa banyak bicara Tomy mengambil kaus kaki di sakunya, mencecelnya ke mulut kepala satpam yang ternganga karena marah. Selesai. Tomy keluar. Menuju pintu dengan cepat. Satpam lain masih belum mencurigai Tomy yang keluar dari ruangan kepala satpam. Mereka malah sibuk mengomel di depan komputer karena pekerjaannya belum selesai. Tomy keluar dan menutup pintu depan. Menguncinya dan melemparkan kuncinya ke semak-semak. “Eh! Siapa yang menutup pintu? Kenapa ditutup?”. Sejurus kemudian kepala satpam keluar dari ruangannya “MANA ANAK TADI…!!!”. “Sudah keluar boss!” jawab salah satu dari mereka. “KEJAR DIA… DIA SUDAH MENCURI KUNCI KANTOR!”. Para satpam terkejut, langsung berlarian menuju pintu depan. Sayang, mereka terlambat, mereka sudah terkunci. Mereka tidak bisa mendobraknya. System keamanan di kantor satpam sangat ketat. Di setiap jendela dipasangi jeruji besi. Mereka tidak mungkin bisa keluar dari sana. “EH! GIMANA NIH… PINTU TERKUNCI, PAK!”. Para satpam mulai bergemuruh. “EH! INI BAU APA?”. “AH! INI BAU TAI!”. “TAI SIAPA NIH?”. Semua satpam menutup hidung mereka dan mulai sadar, bahwa kakus di kamar mandi telah dirusak oleh anak tadi. Kotoran terus menyembur,mambanjiri ruang demi ruangan.
Sementara di luar sana, Tomy dan Eja berjalan menuju kamarnya sembari tersenyum, sesekali tertawa membayangkan apa yang sedang terjadi di kantor satpam. “Itu akibatnya jika berurusan dengan kita, Tomy”. Mereka bersitatap , Lantas tertawa.
Biodata penulis, Abror Fathoni
Lahir di kabupaten Banyuwangi, tepat pada tanggal 13 Januari 2024. Saya menamatkan MI dan
di saerahnya sendiri, sebelum pindah ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Di pondok itulah
saya menyelesaikan SMP dan SMA, dan dilanjutkan ke perguruan tinggi berbasis pesantren, Ma’had
Aly, dengan jurusan Fikih Ushul Fikih. Sampai hari ini, saya masih menempuh perkuliahan saya di
semester 5.
Selama kuliah, saya sudah berpengalaman mengikuti berbagai organisasi. Salah satunya di
GAMIS, sebagai organisasi yang memiliki visi menyebarkan ilmu dalam bentuk majalah. Selain itu,
saya juga masih aktif di organisasi CSSMoRA, sebagai oraganisasi yang berada di naungan PBSB.
Abror Fathoni (CSSMoRA Mahad Aly Situbondo 2023)






