KEPINGAN YANG HILANG

Hidup adalah kepingan puzzle. Terdapat banyak potongan bagian-bagian yang tercecer, kemudian tinggal menyesuaikan kepingan tersebut dan merangkainya menjadi utuh kembali.

Nala, seorang gadis berusia 20 tahun yang memiliki kebiasaan membaca jurnalnya setiap pagi, mempelajari satu buku ke buku yang lain untuk keberlangsungan hidupnya. Pagi harinya selalu sibuk dengan menggeluti materi-materi yang selalu ia baca berulang kali, begitupun dengan pagi di hari ini, esok atau lusa dan pagi-pagi seterusnya.

Pagi ini pukul 08.00, ia sudah bersiap menuju toko bunga, tempat ia bekerja saat ini. Bersamaan dengan langkahnya terdapat seorang pria yang selalu mengiringinya setiap hari, ia adalah Rama, sahabatnya. “Pagi, bidadari,” sapa pria di sampingnya. Nala mengukirkan senyum indah membalas pria itu. Keduanya mempercepat langkah mengejar waktu. “Nala, jangan lupa hari ini kau harus merangkai bunga untuk perayaan pernikahan Bu Venta dan Pak Joko.” Nala membelalakkan matanya, kemudian menepuk pundak Rama. “Terima kasih, Ram. Kau adalah penyelamatku.” Rama terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Nala kemudian berlari masuk ke toko bunga, sedangkan Rama masih melanjutkan perjalanannya menuju kantornya yang tak jauh dari toko bunga Nala.

Hari ini adalah hari yang sibuk di akhir pekan Nala. Ia membuat banyak sekali karangan bunga pesanan para pelanggannya. Dan terakhir, ia membuat sebuah karangan bunga mawar putih yang cantik sekali untuk dirinya sendiri. Hari menjelang sore, waktunya toko tutup. Setelah membereskan semuanya, Nala mengunci toko, dan tepat sekali, Rama sudah siap menunggunya. “Kau siap?” Nala menghembuskan napasnya kemudian mengangguk. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan kota di senja yang mulai memeluk pelitanya.

Nala meletakkan karangan bunga mawar putih tadi di atas gundukan tanah dengan nisan bertuliskan Astuti binti Zainuddin. Kemudian ia merogoh tasnya, mengambil sebuah buku album, lalu membuka lembar demi lembar di sana. Dia mengusap foto seorang wanita yang terlihat sangat bahagia di sana. Satu bulir air mata keluar dari sudut matanya. Pria di sebelahnya mengusap punggung wanita itu halus. “Ram, aku gak bisa ingat wajah ini,” katanya sambil menunjuk foto itu. Rama menatap mata sendu Nala, kemudian menarik tubuh gadis itu ke pelukannya. Ini adalah hari di mana Nala kehilangan sosok terpenting dalam hidupnya—ibunya. Sore itu, Nala menangis tersedu. Sekeras apapun ia mengingat wajah ibunya, hasilnya selalu nihil. Semakin lama, kepingan puzzle dalam hidupnya mulai hilang satu per satu. Tak peduli seberapa banyak kepingan yang ia punya, kini kepingan-kepingan itu terkikis oleh waktu.

Malam itu, sepulang dari makam ibunya, Nala terbaring di rooftop atas rumahnya bersama Rama. Nala tidur berlandaskan tangan Rama sebagai bantalnya. Seperti biasa, setiap Nala merasa sedih, Rama akan menemaninya, menceritakannya banyak kisah agar Nala tertidur. Malam ini, Rama bercerita tentang dua anak kecil yang selalu tertawa riang, berlari-larian sepanjang hari tanpa memikirkan satu beban pun. Dua anak kecil itu tak lain adalah Nala dan Rama yang bersahabat sedari mereka kecil.

Cerita Rama benar-benar membuat Nala tertidur seperti putri kecil. Beberapa menit, Rama termangu menatap wajah teduh Nala. Mengusap anak rambut Nala yang tertiup angin, kemudian mengangkat tubuh Nala yang ringan ke dalam kamar gadis itu. “Tetaplah hidup untukku, karena aku sangat menyayangimu melebihi apa pun,” ucap lelaki yang sedang berlutut di samping kasur seorang gadis yang tertidur pulas. Ia mengecup kening gadis itu pelan, kemudian beranjak meninggalkan gadis itu.

Pukul 05.30 pagi, Nala terbangun setelah mendengar alarmnya berbunyi nyaring. Dia membuka matanya perlahan, melihat sekitar. Banyak sekali tulisan di sana.
“Setelah kau bangun, kau harus membaca jurnal di atas meja.”
“Kau mengidap disabilitas berbentuk fading memory (memori memudar), yang membuatmu selalu melupakan kejadian-kejadian di masa lampau.”
“Hari ini adalah ulang tahun Rama.”

Beberapa tulisan yang tertempel di dinding kamarnya membuatnya semakin kebingungan. Dia pun mulai membuka jurnalnya di atas meja, membaca catatan-catatan hariannya. Kemudian membuka ponselnya yang bergetar karena sebuah notifikasi bertuliskan Rama’s Birthday. Dia mengambil seutas foto dua orang remaja berlawanan jenis tertawa riang di sana.

Pukul 08.00 pagi, Nala sudah bersiap dengan sekotak hadiah yang sudah ia siapkan kemarin. Rama sudah sampai di rumahnya untuk menjemputnya. Hari ini, mereka akan pergi ke danau tempat di mana mereka dulu sering bermain bersama-sama.

Rama dan Nala melakukan piknik bersama, makan masakan buatan Nala, mendengarkan dongeng-dongeng Rama, bercengkrama, dan tentu saja, mengabadikan momen yang mungkin besok sudah ia lupakan. Di sela-sela perbincangan mereka, Nala memberikan hadiahnya kepada lelaki itu. Lelaki itu sangat antusias membukanya. Tangan Nala sudah siaga untuk mengambil video. “Thank you, Nal. That’s so amazing. I like it,” pria itu terlihat memeluk sebuah syal rajut yang Nala berikan.

Kini, Nala sedang sibuk mencoret-coret buku catatannya. Itu adalah kegiatan yang wajib ia lakukan di manapun dan kapanpun. Sedangkan Rama, ia pergi untuk membeli beberapa cemilan dan juga minuman. Sepulang dari membeli semua keperluan, Nala sudah terlelap di atas tikar yang mereka bentangkan tadi. Rama tersenyum, mengusap kepala gadis itu.

Nala terbangun karena gerakan tangan Rama itu. Dia terkejut mendapati dirinya tertidur, sedangkan di sampingnya ada lelaki asing yang mengusap-usap kepalanya. Nala terperanjat ketakutan, lalu berlari tak tentu arah. Rama dengan sigap mengejarnya, lalu memeluk gadis itu. Gadis itu berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan lelaki asing itu. Gadis itu tersungkur menyerah. Rama mengusap puncak kepala Nala, sesekali juga mencium puncak kepala gadis menyedihkan itu.

“Jangan takut, aku Rama, sahabatmu. Senang bertemu denganmu lagi.”

Di hari-hari berikutnya, ingatan Nala semakin memburuk. Ia bahkan melupakan sahabat yang selalu menemani hari-hari sulitnya, Rama. Tak jarang Nala menangis tanpa tahu penyebabnya. Ia hanya merasa dirinya kosong. Dia lelah dengan keadaan yang terus mempermainkannya. Namun, Rama selalu ada untuknya. Dia selalu mengingatkan Nala tentang siapa dirinya, apa yang terjadi kemarin, dan orang-orang sekitarnya. “Jika aku tidak bisa mengingat siapa aku dulu, apakah aku masih menjadi orang yang sama?” tanyanya dalam hati.

Nala mungkin sudah melupakan semuanya, tapi ia tetap gigih untuk berusaha. Bersama Rama yang selalu membersamainya. Tak peduli seberapa banyak, mereka akan memulai dari awal, lagi. Kini, Nala mulai menerima bahwa dia tidak bisa menahan ingatannya selamanya. Tapi dia bisa menulis, bisa merasakan, dan bisa hidup di saat ini.

“Aku tidak tahu siapa aku kemarin, tapi hari ini, aku ingin tersenyum,” katanya dalam setiap akhir halaman jurnalnya.


Tyas Norma Yunita

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *