Sentuhan Kasih Semesta: Fondasi Kepedulian Sosial Rasulullah SAW

Kasih sayang dan kepedulian sosial merupakan nilai-nilai fundamental yang membentuk tatanan kemanusiaan dan menjadi inti ajaran Islam, sebagaimana dicontohkan secara nyata oleh Rasulullah SAW. Universalitas kasih sayang beliau melampaui batas-batas agama, etnis, dan sosial sehingga menjadi fondasi kepedulian sosial yang relevan hingga masa kini (Bunyamin, 2014). Sebagai rahmatan lil’alamin, Rasulullah SAW menunjukkan perhatian tidak hanya kepada umatnya, tetapi kepada seluruh makhluk dengan menegaskan pentingnya empati dan kepedulian sosial yang bersifat inklusif. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai kasih sayang ini menjadi kunci utama dalam membentuk karakter individu yang berperilaku baik dan peduli terhadap sesama sehingga pemahaman mendalam terhadap fondasi kasih sayang Rasulullah SAW sangat penting untuk mengimplementasikan kepedulian sosial yang relevan di tengah kehidupan masyarakat modern (Abbas et al., 2025).

Rasulullah SAW merupakan teladan utama dalam menerapkan kasih sayang yang bersifat luas dan universal. Kasih sayang beliau bukan sekadar kelembutan hati, tetapi diwujudkan dalam perilaku nyata seperti mudah memaafkan, berbuat baik, dan memperhatikan sesama tanpa membatasi golongan atau latar belakang (Hasanah, 2017). Konsep kasih sayang ini diilhami oleh sifat rahmah yang menjadi ciri khas kenabian beliau sehingga kasih sayang meliputi seluruh makhluk ciptaan Allah, menjadikan Rasulullah sebagai rahmatan lil’alamin (Bunyamin, 2014). Firman Allah SWT dalam QS At-Taubah:128 juga menegaskan bahwa Rasul sangat menginginkan keselamatan dan kebaikan bagi umatnya dengan sifat belas kasih yang mendalam (Salmi, 2019). Kasih sayang universal ini mendorong terbentuknya masyarakat yang harmonis dan adil yang menjunjung tinggi toleransi dan penghormatan antar sesama.

Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah memberikan teladan kepedulian sosial yang mendalam dan menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks keluarga, beliau menempatkan perhatian besar terhadap pendidikan dan pembinaan anak serta menekankan tanggung jawab anak terhadap orang tua, khususnya saat menua dan memerlukan perawatan. Kepedulian Rasulullah tidak terbatas hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga meluas ke masyarakat luas tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial, agama, maupun status ekonomi. Beliau menunjukkan sikap empati dan bantuan kepada tetangga dan orang yang membutuhkan, bahkan kepada yang bermusuhan sekalipun, seperti tercermin dalam tindakan kasih sayang yang tulus dan konsisten (Fuadah dan Diana, 2025). Prinsip kepedulian sosial ini menjadi kewajiban moral dan dasar universal yang mengikat umat manusia secara sosial dan etis, mengedepankan nilai keadilan, toleransi, serta saling tolong-menolong sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang harmonis (Handayani et al., 2024).

Implementasi kepedulian sosial yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah SAW terwujud dalam berbagai tindakan nyata, seperti saling membantu, berbagi harta, dan menjaga keharmonisan sosial. Rasulullah menegaskan pentingnya sikap empati dan perhatian terhadap kelompok minoritas, fakir miskin, dan orang yang mengalami ketidakadilan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial umat Islam (Mukhtar, 2021). Prinsip keadilan dan empati yang diajarkan beliau menunjukkan sifat universal yang
melintasi batas budaya dan waktu, memotivasi pembentukan masyarakat inklusif yang berkeadilan sosial (Suhartawan, 2021). Kepedulian ini tidak hanya terhenti pada sekadar retorika, tetapi diwujudkan dalam perilaku sosial yang memperkuat ukhuwah dan solidaritas antarindividu serta kelompok dalam komunitas.

Di era globalisasi yang ditandai dengan kompleksitas sosial, kulturnya yang majemuk, serta tantangan diskriminasi dan konflik identitas, nilai kasih sayang semesta yang diajarkan Rasulullah SAW menjadi solusi sosial yang sangat relevan. Konsep rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin) ini mengajarkan sikap empati, toleransi, dan keadilan yang universal sehingga menjadi pedoman utama dalam membangun masyarakat yang damai dan menghargai perbedaan (Sadili, 2020). Penelitian menunjukkan bahwa kasih sayang Rasulullah yang menjadi dasar dakwah moderat menjauhkan umat dari sikap kekerasan dan intoleransi, justru mengedepankan welas asih dan kebaikan terhadap seluruh makhluk (Muvid, 2021). Nilai-nilai ini terus menerus memegang peranan penting dalam membentuk tata sosial modern yang inklusif dan harmonis, sesuai dengan pesan universal Islam sebagai agama rahmat dan kasih sayang yang abadi. Dengan demikian, ajaran kasih sayang Rasulullah tidak hanya relevan secara historis, tetapi tetap menjadi landasan etis penting di era modern untuk mewujudkan keharmonisan sosial dan perdamaian dunia.

Kasih sayang universal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW merupakan fondasi utama dalam membangun kepedulian sosial yang inklusif dan berkeadilan. Melalui teladan dan ajarannya, Rasulullah menanamkan nilai-nilai empati, keadilan, dan toleransi yang tidak hanya berlaku dalam lingkup umat Islam, tetapi meluas ke seluruh manusia dan makhluk Allah. Kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari oleh Rasulullah membuka ruang bagi pembentukan masyarakat harmonis yang saling menghormati dan menolong antar sesama tanpa memandang perbedaan latar belakang. Di era modern dengan tantangan globalisasi dan keanekaragaman sosial yang kompleks, nilai kasih sayang semesta tetap relevan sebagai solusi sosial untuk meredam konflik, diskriminasi, dan intoleransi. Dengan demikian, menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai kasih sayang dan kepedulian sosial Rasulullah SAW menjadi kunci strategis dalam mewujudkan masyarakat damai, toleran, dan beradab.

Referensi

Abbas, N., Jannah, U., Utami, F. S., Marhamah, S., & Safitri, A. A. (2025). Konsep Kasih Sayang dan Empati dalam Hadits Nabi Muhammad Perspektif Pendidikan Islam. Islamic Education, 5(1), 1-12.

Bunyamin, H. (2014). Menyelami Sifat Kasih Sayang Rasullah Saw. Jurnal Komunikasi dan Sosial Keagamaan, 16(2), 134-145.

Fuadah, A., & Diana, R. R. (2025). Analisis Cerita Nabi Muhammad SAW dalam Mengembangkan Kepekaan Sosial Anak Usia Dini. Journal Ashil: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 79-96.

Handayani, E. P., Afnibar, A., & Ulfatmi, U. (2024). Modeling Dalam Teori Belajar Sosial Dan Keteladanan Rasulullah SAW. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 1(10), 7951-7960.

Hasanah, H., & Salmi, S. (2017). Nilai Edukasi Kasih Sayang Dalam Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah SAW. Jurnal Dedikasi Pendidikan, 1(2), 184-191.

Mukhtar, M. (2021). Kepedulian Sosial Dalam Perspektif Hadis. Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam, 23(1).

Muvid, M. B. (2021). Menjunjung Tinggi Islam Agama Kasih Sayang Dan Cinta Kasih Dalam Dimensi Sufisme. Reflektika, 16(2), 241-267.

Sadili, I. (2020). Konsep al-Rahmah al-Muhammadiyah serta terapanya pada dakwah moderat. Hikmah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 15(1), 65–80.

Salmi, S. (2016). Nilai Edukasi Kasih Sayang dalam Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah SAW (Doctoral dissertation, UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

Suhartawan, B. (2021). Kepedulian Sosial Di Tengah Wabah Covid 19 Dalam Perspektif Hadis. DIRAYAH: Jurnal Ilmu Hadis, 2(1), 1-18.


Wafa Nurul Fauziah (CSSMoRA Universitas Pendidikan Indonesia, 2024)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *