#PBSB

Perjalanan Keselamatan: Dzûn Nûn al-Mishrî dan Ajaran Spiritualitas tentang Dosa dan Pertobatan

Dzûn Nûn al-Mishrî, seorang sufi terkemuka yang dikenal dengan ajaran-ajarannya tentang spiritualitas, menggambarkan dosa sebagai pohon yang berbuah penyesalan dan kesedihan. Menurutnya, para ahli balaghah, yang mahir dalam berbicara dan memiliki pemahaman tentang Allah dan Rasul-Nya, seringkali menjadi penanam pohon dosa meskipun mereka menyadari dosa tersebut. Dampak dosa terhadap jiwa sangat buruk. Dosa dapat menjadikan jiwa kotor dan terperosok ke dalam kegelapan, juga membuatnya gelisah dan tidak tenang. Bagi mereka

Melepas Belenggu Kekerasan Dan Memperjuangkan Hak Perempuan

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan tanpa memiliki pilihan dalam hal tersebut. Meskipun ada individu yang mungkin ingin mengubah jenis kelaminnya karena berbagai faktor, secara biologis manusia dibedakan menjadi dua jenis kelamin. Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang perempuan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan dan merugikan. Sistem patriarki yang sangat kuat pada masa itu bahkan mendorong praktik mengubur bayi perempuan sebagai tradisi di kalangan masyarakat Arab. Dalam

Tradisi dan Agama

Dalam suatu masyarakat, tradisi seringkali tumbuh dari perspektif seorang tokoh atau pembesar di lingkungannya. Keyakinan akan kebenaran tradisi ini lambat laun meresap kuat dalam jiwa masyarakat, meskipun banyak yang kurang mengetahui asal usul tradisi tersebut. Banyak individu cenderung ‘mengikuti’ jejak para pendahulu mereka, bahkan menjadikan tradisi sebagai panduan untuk menentukan arah kehidupan. Kendala muncul ketika mereka dihadapkan pada fakta-fakta rasional, di mana mereka cenderung menolak mentah-mentah fakta tersebut karena tradisi

Kontribusi Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah bagi Konsep Nagari Madani yang Ideal dalam Perspektif Kaum Zillenial

Topik dan pembahasan perempuan inspiratif saat ini sangatlah penting diangkat ke ruang publik. Peran perempuan dimasa lalu hingga sekarang tidak dapat dikesampingkan dan menjadi hal penting untuk diketahui. Perjuangan dan pemikiran mereka, tokoh perempuan membawa kepada kemajuan bangsa dan agama. Keikutsertaan perempuan dalam semua aspek kehidupan menjadi hal positif dan menimbulkan konsep keadilan gender tanpa ada diskriminasi dengan alasan apapun. Perempuan dengan segala kemampuannya memiliki kesempatan yang sama dalam berkontribusi

Toleransi Bukan Sekadar Teori. Harus Mengalir dari Dialog dan Pengalaman

Toleransi adalah konsep yang sering kita dengar dan bahkan sering diajarkan dalam pendidikan kita. Ini adalah nilai yang sangat dihargai dalam masyarakat modern yang beragam. Namun, apakah toleransi hanya sebatas konsep teoritis yang kita pelajari dalam buku-buku atau sebuah tindakan nyata yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Tulisan ini akan menjelaskan mengapa toleransi tidak bisa hanya sebatas teori, tetapi harus melibatkan dialog dan pengalaman nyata dalam memahami fenomena ini.

AS-SUYUTHI; CERDIK CENDIKIA MULTI-FAN KEISLAMAN

1. NAMA DAN GARIS KETURUNAN IMAM SUYUTHI Nama lengkap beliau adalah al-Imam al- Hafidz abu al-Fadhl Jalaludin Abdurrohman bin Kamaluddin Abi al-Manaqib Abi Bakr bin Nasiruddin, Muhammad bin Sabiquddin Abi Bakr bin Fakhruddin Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khidir bin Najmuddin Abu as-Sholah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad bin Syekh Hamamudin al-Hmam al-Khudhoiri al-Asyuthi. Adapun penamaan Abdurrohman merupakan nama yang diberikan orang tua nya pada hari ketujuh dari kelahirannya. Di

Bupati dan Wakil Bupati Wakatobi Mendukung Penuh Program Pengabdian CSSMoRA

CSSMoRA – Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) melakukan silaturahmi sekaligus audiensi dengan Bupati dan Wakil Bupati Wakatobi terkait Program Pengabdi Muda Nusantara (DIMTARA) bertempat di Kantor Bupati Wakatobi (24/01/23). Dalam hal ini, Ketua Umum Nasional CSSMoRA, Nusul Akbar menyampaikan bahwa CSSMoRA akan melakukan program pengabdian masyarakat di salah satu desa yang ada di Wakatobi, tepatnya di komunitas Suku Bajo, Desa Mola Nelayan Bakti, Wangi-Wangi Selatan.

Puteh

Puteh mengambil parang dari pinggang. Melayangkan tebasan. Dan mulai menebang. Merah darah keluar dari sayatan batang. Puteh melawan rasa ngilu dan takut. Ia melanjutkan menebang. Sekali. Dua kali. Lalu pada kali ketiga, sesuatu menarik kakinya.