Tabayyun Terhadap Hasil Hisab, Mahasiswa CSSMoRA UIN Walisongo Lakukan Rukyah Hilal Ramadhan

Penentuan awal bulan qamariyah khususnya Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah memang tak pernah sepi diperbincangkan pakar Astronomi (Ilmu Falak). Penentuan awal bulan ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan hisab dan rukyah. Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan awal bulan pada kalender hijriyah. Sedangkah rukyah, adalah kegiatan mengamati bulan (hilal) pada saat matahari terbenam, yaitu penampakan bulan baru setelah terjadi ijtimak (konjungsi). Rukyah ini dapat dilakukan dengan alat bantu optik seperti teleskop dan theodolit atau dengan mata telanjang sekalipun.

Rukyah dilakukan pada akhir bulan qamariyah yaitu tanggal 29 setiap bulan khususnya dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah karena bulan tersebut berhubungan dengan prosesi Ibadah umat Islam. Rukyah dilakukan dengan mengamati bulan secara langsung di lapangan. Rukyah juga tetap dilakukan proses perhitungan terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana posisi bulan (hilal) yang akan dirukyah sehingga memudahkan perukyah dalam mengamati bulan (Hilal).
Untuk menentukan awal bulan Ramadhan, CSSMoRA UIN Walisongo Semarang menggelar rukyatul hilal awal Ramadhan, Selasa (15/5). Pelaksanaan pemantauan hilal dilakukan oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia bekerjasama dengan HMJ Ilmu Falak. Pemantauan hilal ini dilaksanakan di Assalaam Observatory, Pondok Pesantren Modern Assalaam Solo.

Menurut perhitungan atau hisab, khususnya untuk markaz Assalaam Observatory, posisi bulan (hilal) berada dibawah ufuk atau bernilai negatif, sehingga tidak mungkin dapat teramati. Menurut A.R Sugeng Riyadi, kepala Assalam Observatory, hilal tidak dapat terlihat karena posisinya berada di bawah ufuk ditambah dengan kondisi alam yang mendung, sehingga bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Syawal jatuh pada hari Kamis, 17 Mei 2018.

Selain Departemen PSDM, Departemen Pemberdayaan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRAUIN Walisongo juga melakukan pemantauan hilal awal Ramadhan, Rabu (16/5) di Pelabuhan Kendal. Menurut perhitungan, hilal akan teramati karena posisi hilal sudah pada ketinggian 12◦ diatas ufuk. Meski sudah diprediksi bisa teramati, namun tidak satupun dapat melihat hilal. Hal ini disebabkan karena kondisi alam yang mendung. Meski hilal tidak dapat teramati, awal bulan Ramadhan tetap jatuh pada hari kamis 17 Mei 2018 dikarenakaan pada hari Rabu, bulan Sya’ban sudah berumur 30 hari sehingga tidak mungkin diistikmalkan.

Menurut Ahmad Izzuddin, ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia, hasil Hisab merupakan hipotesis verifikatif, sehingga perlu dibuktikan dengan observasi lapangan (Rukyah) untuk meyakinkan apakah hilal dapat benar-benar terlihat atau tidak sama sekali sehingga meski ketinggian hilal menurut hisab dapat terlihat, belum tentu dilapangan dapat terlihat sehingga inilah moment tabayyun terhadap hasil hisab. (lelaki subuh)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *