Serapah yang Paling Anjing

Oleh : Madno Wanakuncoro

 

tiba di pojok sajadah,

kau jatuh,

untuk selanjutnya berdoa

–serapah yang paling anjing bagimu.

 

ujung-ujungnya keringat

menggelinding di pelipis mata,

beraroma madu, kala itu

dan tidak seperti biasanya;

 

aku mencium damar

yang kurang ajar

kadang cendana,

randu, atau kenanga

juga kenangan.

 

saat itu kau lancang bertanya

: “sejak kapan Tuhan begini Maha Menyiksa?”

sayang, aku bukan Dia

–yang mengabulkan apa yang kau sangka pada-Nya.

 

 

Bandung, April 2018

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *