Pantaskah Pelukis/Fotografer Dilaknat?

(Sebuah Refleksi tentang Hadis “kullu mushawwirin fi an-nar”)

Keindahan merupakan sesuautu yang dapat dibuat melalui berbagai media, salah satunya media seni,  baik seni rupa, seni sastra, seni ruang maupun seni suara. Dalam seni rupa misalnya, ada yang berupa lukisan, kaligrafi, patung, fotografi, dan lain-lain. Setiap orang memiliki haknya untuk menikmati keindahan dalam kehidupannya, misalnya dengan menghias apapunyang ada pada dirinya maupun yang ada disekitarnya ataupun menghias tubuhnya dan tempat tinggalnya. Dan hal tersebut tentu saja dilakukan dengan mempunyai tujuan masing-masing orang, misalnya sebagai hobi, sekedar koleksi, atau yang lainnya. Dalam beberapa hadis, Rasulullah saw  bersabda bahwa kegiatan menggambar (read: tashawwur) itu dilarang. Padahal Secara antropologis, realitas masyarakat ketika hadis itu disabdakan masih berada dalam situasi masyarakat transisi dari kepercayaan animisme dan politeisme ke kepercayaan monoteisme, oleh karena itu pelarangan itu sangat relevan. Kemudian, hadis-hadis sangat terkait dengan kebiasaan masyarakat dulu yang masih rentan terhadap kemusyrikan, yaitu kebiasaan menyembah patung-patung berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri. Namun, melihat keadaan masyarakat sekarang dengan segala perkembangan peradabannya, kegiatan semacam itu (tashawwur) merupakan salah satu wujud dari kreatifitas dari seseorang yang sudah dianggap lumrah. Permasalahannya, bagaimana memahami maknanya secara benar, kemudian apabila dikembalikan kepada dasar hukum hadis Rasulullah yang mengharamkan kegiatan tashawwur, apakah secara otomatis kita menghentikan segala macam kegiatan tersebut?

 

Nabi Saw Bersabda

 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَـقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ. فَقَالَ: إِنِّي رَجُلٌ أُصَوِّرُ هَـذِهِ الصُّوَرَ. فَأَفْتِنِي فِيهَا. فَقَالَ لَهُ: ادْنُ مِنِّي. فَدَنَا مِنْهُ. ثُمَّ قَالَ: ادْنُ مِنِّي. فَدَنَا حَتَّى وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ. قَالَ: أُنَبِّئُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللّهِ . سَمِعْتُ رَسُولَ اللّهِ يَقُولُ «كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ. يَجْعَلُ لَهُ ، بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا، نَفْساً فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ>> , وَقَالَ: إنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً، فَاصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لاَ نَفْسَ لَهُ. فَأَقَرَّ بِهِ نَصْرُ بْنُ عَلِيَ[1]

 

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq dari Sa’id bin Abu al-Hasan ia berkata ada seseorang yang datang kepada Ibnu Abbas dan berkata; ‘Hai Abdullah, saya adalah orang yang menggambar semua gambar ini. oleh karena itu, berilah fatwa kepadaku mengenai gambar-gambar tersebut!” Ibnu Abbas berkata kepadanya; “Mendekatlah kepadaku!” orang itu pun mendekat. Akan tetapi Ibnu Abbas masih berkata “Mendekatlah lagi kepadaku!” lalu orang itu mendekat lagi hingga Ibnu Abbas dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang itu. Kemudian Ibnu Abbas berkata; ‘Aku akan menceritakan kepadamu apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah Saw, bahwasanya beliau telah bersabda: “Setiap orang yang menggambar (mushawwir) akan masuk ke dalam neraka. Allah akan menjadikan baginya, dengan setiap gambar yang dibuat, sosok yang akan menyiksanya di neraka Jahannam kelak.’ Ibnu Abbas berkata; ‘Jika kamu memang harus tetap melakukannya juga, maka buatlah gambar pepohonan atau benda lain yang tak bernyawa.” Kemudian Nasr bin Ali menetapkannya. (HR. Muslim)

 

Al-Khaththabi berkata, “Hanya saja siksaan para pembuat gambar sangat keras, karena dahulu gambar disembah sebagai tandingan Allah.Begitu pula memandang gambar menimbulkan fitnah dan sebagian jiwa terpikat olehnya.”Dia berkata pula, “Maksud gambar di sini adalah patung makhluk yang memiliki ruh.”Dikatakan,“Dibedakan antara siksaan dan hukuman.Siksaan digunakan untuk semua yang menyakitkan baik perkataan maupun perbuatan, seperti teguran dan pengingkaran.Adapun hukuman khusus bagi perbuatan,maka keberadaan para pembuat gambar sebagai manusia paling keras hukumnya.”Demikian disebutkan asy-Syarif al-Murtadha dalam kitab al-Gharar.

Pada perkataan   تصوير (menggambar/melukis) yang tersebut di dalam hadis Nabi saw apa yang dimaksud dengan perkataan tersebut dalam hadis yang mengancam para pelukis dengan siksa yang berat? Orang-orang yang biasa bergumul dengan hadis dan fiqh menganggap ancaman ini berlaku kepada mereka yang dikenal sekarang dengan istilah fotografer (dalam  bahasa Arab disebut “ المصور ” al-Mushawwir) yang menggunakan alat yang disebut kamera dan mengambil bentuk yang disebut foto (dalam bahasa Arab disebut “ صورة ” shurah)

Lafadz shurah dalam bahasa Arab berasal dari bentuk mufrod “ صور” yang mana terdapat pada nama Allah “ المصور” yang berarti Dia-lah Dzat yang membentuk dan menyusun segala sesuatu yang ada kemudian memberikan kepada setiap ciptaan-Nyabentuk yang khusus dan pribadi yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Menurut Ibn Sydah: ash-Shurah الصورة ” bermakna bentuk السكل”  ”. Kemudian bentuk jamak dari Kata  صور yaitu  . صُور, صِورٌ, صُورٌ, وقد صوّرة فتصوّر

Al-Qur‟an menjelaskan bahwa pekerjaan ”membentuk rupa‟ adalah salah satu pekerjaan Allah swt yang telah menciptakan berbagai rupa yang indah, khususnya makhluk hidup yang bernyawa dengan makhluk utamanya manusia.

Allah Swt. Berfirman

uqèd “Ï%©!$# óOà2â‘Èhq|Áム’Îû ÏQ%tnö‘F{$# y#ø‹x. âä!$t±o„ 4 Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd Ⓝ͕yèø9$# ÞOŠÅ3ysø9$# ÇÏÈ

Artinya: Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran: 6)

Kemudian dalam redaksi hadis yang lain, terdapat istilah tamasil  “تماثيل” seperti redaksi hadis riwayat Imam Nasa‟i berikut:

أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي الشَّوَارِبِ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ: حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ الله بْنِ عَبْدِ الله عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِي طَلْحَةَ ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُولُ: «لا تَدْخُلُ المَلائِكَةُ بَيْتاً فِيهِ كَلْبٌ وَلا صُورَةُ تَمَاثِيلَ

pada lafadz tamatsil tersebut diartikan dengan istilah patung  tiga dimensi, atau ada yang menyebutnya berhala. Dalam kamus bahasa Arab, lafadz “ التِّمثال” sama dengan lafadz “الصورة”, bentuk jamaknya adalah “التماثيل” artinya menyerupai sesuatu, menggambarkan sesuatu sampai serupa, terlihat sama.Menggambarkan sesuatu dengan tulisan atau selainnya. Dalam hadis أشد الناس عذابا ممثل dari الممثلين  bermakna مصور

Kemudian التِّمثال yaitu istilah untuk menjelaskan sesuatu yang dibuat menyerupai ciptaan Allah. Bentuk jamaknya التمثيل .

Kontekstualisasi hadis-hadis hukum gambar dengan masyarakat era ini yang lebih mengedepankan nilai-nilai estetika juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Dengan melihat riwayat-riwayat hadis yang sudah diteliti kualitasnya serta berdasarkan pen-syarah-an oleh ulama yang berpengalaman, bentuk karya tiga dimensi yang dilarang yaitu semua makhluk yang bernyawa, yang membuat, memiliki maupun memajangnya ditujukan untuk kepentingan penyembahan, serta untuk menandingi ciptaan Allah swt.

 

Namun ketika semua tujuan itu sudah ditiadakan, serta syarat yang menjadikan pengharaman itu telah dihilangkan, maka hukum haram itu pun akan berganti menjadi mubah (boleh). Dengan berlandaskan kepada kaidah ushul fiqh “al-Hukmu Yaduru Ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman” Artinya, ada tidaknya hukum tergantung pada ‘illat-nya. Jika ‘illat itu berubah, maka hukum pun menjadi berubah. Dan di sinilah letak fleksibilitas dan elastisitas hukum Islam.[2]

 

Selain itu, makna yang tersirat dari lafadz shurah yang telah berkembang dari zaman ke zaman dan dengan menggunakan beberapa pendekatan yaitu termasuk dari penyaluran kreatifitas dari seorang seniman, baik seniman gambar, lukisan, patung ataupun yang lain. Semua itu, ketika dilakukan dengan tujuan untuk menyalurkan ekspresi kejiwaan dari seseorang maka tidak masalah selama masih menaati aturan atau norma estetis-agamis. Dan tidak ditujukan untuk menandingi sifat kesempurnaan Allah dan jauh dari sifat sombong atau membanggakan diri.

 

Sebuah perkembangan dan kemajuan masyarakat adalah keniscayaan yang sampai kapan pun pasti akan terus berganti tanpa ada yang mengetahui batasnya. Sebuah kenyataan bahwa pembauran peradaban Islam tidak toleran terhadap lukisan manusia atau binatang, khususnya yang memiliki tiga dimensi. Ia lebih dominan dengan gambar-gambar abstrak (yang lebih sesuai dengan jiwa aqidah dan tauhid), bukan yang tiga dimensi (yang lebih identik dengan tradisi agama berhala) dengan berbagai tingkatannya.

 

Dengan begitu, bentuk karya tiga dimensi yang dikecualikan adalah permainan anak-anak, seperti boneka. Karena benda semacam itu tidak dimaksudkan sebagai alat pengagungan, hanya sebagai alat permainan dan sifatnya yang sementara atau bisa rusak, tidak kekal. Kemudian gambar atau patung-patung yang bentuknya tidak utuh atau disamarkan, misalkan patung yang dipenggal kepalanya, karena tidak mungkin patung itu bisa hidup dengan keadaan seperti itu. Namun, berbeda lagi jika patung tersebut patung raja atau tokoh lain yang dengan keadaannya yang telah dihinakan atau disamarkan diletakkan di suatu tempat terbuka dan diagungkan, tetap saja hukumnya berada pada wilayah diharamkan. Karena cara Islam menghormati orang-orang yang berjasa (pahlawan) bukan dengan cara demikian, atau pula dengan cara yang berbau kemewahan. Islam hanya mengajarkan bahwa menghormati jasa-jasa mereka cukup ditanamkan dalam hati dan fikiran dan diambil hikmahnya dari apa saja kebaikan atau jasa yang telah mereka lakukan.

Sedangkan untuk gambar dua dimensi, baik itu berupa lukisan atauyang lain, selama tidak mencitrakan hal-hal yang berbau pengkultusan agama, simbol agama lain serta hal-hal yang berbau pornografi,makadiperbolehkan. Ataupun gambar-gambar yang tidak bernyawa, seperti pepohonan, pemandangan laut, kapal, gunung, dan sebagainya, yang merupakan pemandangan alam, maka orang yang menggambarnya atau merawatnya tidak berdosa, asalkan hal itu tidak melalaikannya dari ketaatan, atau mengarah kepada kemewahan hidup.

Selanjutnya adalah seputar fotografi, ada beberapa ulama yang mengharamkannya karena menganggap foto termasuk di dalam pengertian  صورة yang diharamkan, namun ada pula yang membolehkannya. Karena fotografi merupakan kegiatan pengambilan gambar dengan cara penangkapan bayangan dengan alat yang modern. Hal ini diperkuat dengan adanya sebutan masyarakat Kuwait untuk gambar fotografi: ‘aks (pantulan), dan fotografernya: ‘akas (pemantul). Selain dari istilah yang berbeda itu, objek gambar juga mempengaruhi kebolehannya, yaitu selama objek gambar yang diambil bukan merupakan sesuatu yang bertema pengkultusan agama, simbol agama lain yang diagungkan, atau tema-tema yang bertentangan dengan aqidah, syariat dan etika Islam.

 

Oleh : Ahmad Mushawwir (CSSMoRA UIN SUKA 2016)

  • Santri LSQ yang suka menggambar –

[1] Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim Kitab Libas wa az-Zinah Bab Tahrim Tashwir Surah al-Hayawan. No. 3945. CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif Global Islamic Software, 1991-1997.

 

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *