Menyusuri Makna Cinta Seorang Sufi

Oleh: Kamas Wahyu Amboro

(Pimpinan Umum BSO ORASI CSSMoRA UIN SGD Bandung)

Berbicara tentang cinta, tidak ada yang mengetahui secara spesifik mengenai definisi cinta, Karena  cinta memang sulit untuk didefinisikan. Pemikir, penyair, sufi berbeda-beda dalam menuangkan kata cinta, karena cinta memang sesuatu yang tidak dzahir.

Cinta merupakan perihal tentang rasa yang sakral dalam hati. Cinta merupakan nilai rasa bahagia yang tinggi. Tak heran jika seseorang akan melakukan apapun untuk cinta, bahkan jika cinta menginginkan nyawa dalam dirinya.

Seperti rasa rindu. Saat kekasih hati pergi meninggalkan kita tentu kita merasa rindu, dengan hasrat ingin bertemu kembali. Dalam buku ilmu tasawuf karangan M.Solihin dan Rosihon Anwar mengenai rindunya seorang sufi. Selama masih ada cinta, syauq tetap diperlukan. Dalam lubuk jiwa, rasa rindu hidup dengan subur, yakni rindu ingin segera bertemu dengan Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa maut merupakan bukti cinta yang benar. Lupa kepada Allah lebih berbahaya daripada maut. Bagi sufi yang rindu kepada Tuhan, kematian dapat berarti bertemu dengan tuhan, sebab hidup merintangi pertemuan ‘abid dengan Ma’bud-Nya’.

Menurut Al-Ghazali, kerinduan kepada Allah dapat dijelaskan melalui penjelasan tentang keberadaan cinta kepada-Nya. Pada saat tidak ada, setiap yang dicintai pasti dirindukan orang yang mencintainya. Begitu hadir dihadapannya, ia tidak dirindukan lagi. Kerinduan berarti menanti sesuatu yang tidak ada. Bila sudah ada, tentunya ia tidak dinanti lagi.

Cinta bukan nafsu. Nafsu hanya sebuah keinginan yang berlebihan dan melampaui batas yang dalam konteks cinta berkonotasi negatif. Nafsu membuat orang terlena dalam keburukan, sehingga kita wajib menjauhi nafsu yang negatif. Berbeda dengan cinta, cinta membuat orang terlena dalam kebahagiaan tanpa batas. Sehingga jiwa selalu dituntut mencari secarik cahaya cinta.

Cinta memiliki berbagai macam rasa. Rasa itu hadir di dalam hati dengan sendirinya saat kita menatap cinta dengan mata telanjang. Namun cinta itu kadang hanya sebuah identifikasi. Cinta tak bisa diungkap dalam suatu pekerjaan tapi pekerjaan bisa menjadi akibat adanya cinta. Saat cinta memiliki sebuah sebab yang indah maka berakibat pada bahasa tubuh, bibir tersenyum bahagia. Sebaliknya, saat cinta memiliki sebab atau berlatar belakang yang menyedihkan, maka berakibat pada bahasa tubuh yakni air mata yang mengalir deras.

Kau tak akan menemukan arti cinta dalam uraikan kata-kata ini. Namun kalimat dan syair-syair, puisi yang ada kau akan sedikit demi sedikit memahami arti sebuah cinta. Cinta yang kadang membuat bahagia, kadang membuat menangis, kadang membuat malas, kadang membuat hidup hampa ,namun kadang menjadi motivasi hebat dalam hidup.

Kau tak akan menemukan aktifitas cinta, karena cinta  bukan sebuah aktifitas. Namun, akibat dari cinta itu sendiri kita bisa mengidentifikasi sebuah makna cinta. Kita tak perlu mencari cinta karena cinta itu sudah ada dalam hati hanya saja kau belum memunculkan atau cinta masih bersembunyi di belahan dunia yang berbeda.

Dalam menjalin sebuah cinta tentu banyak perasaan yang timbul mulai dari rindu hingga kekecewaan, kekhawatiran bahkan kebencian terhadap sesuatu yang samar tehadap pasangan, yang mana membuat pecinta sejati kadang tersenyum gila atau menangis. Itulah cinta, satu kata memiliki banyak unsur perasaan dan akibat yang diaktualisasikan dengan bahasa tubuh menangis dan tersenyum.

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *