Masih Betahkah Aku pada Kemerdekaan?

Oleh: Madno Wanakuncoro

Muak-sesal-mual bercerita

Memuisikan lagu dosa

Tentang adegan perkosa

Episode kerukan traktor di tengkuknya

Belum pula tentang balita

Yang diseret

Oleh iringan derap seribu kuda

Yang diternak sendirian

Didikan iblis zaman

 

Di tengah skema meriah merdeka

Aku buta pada batasan hidup manusia

Apakah sejatinya merdeka

Jika masih saling sodok antar-sesama

Sudikah dikau kejar kebebasan

Jika masih dikelabui kebringasan

Dan tak pernah belajar apa itu batasan.

 

Heran… duhai Tuhan

Negeriku melatihku agar tuli

Pada jeritan nasib anak yang diyatimkan sejak bayi

Bahkan tanpa disisakan setetespun asi dan sebutir padi

Oleh bapak-ibu zamannya sendiri

 

Tapi runguku masih kian peka

Akan irama darah ini

Lantas, cuma inikah kata-kataku?

Atau justru beginikah puisimu?

Kita tak mau tahu.

 

Yang kita tahu

Mungkin hanya

Bagaimana beralas kaki eiger

Tanpa peduli kaki bangsa kita dikerubung uler

Yang kita tahu

Tentu saja hanyalah menghisap

Sedalam-dalamnya tembakau kretek

Tanpa terbesit sebiji pun

nasib cucu bangsa kita yang dicekik hingga mati melek

Yang kita tahu

Tentu saja ialah menyedot

Sehabis-habisnya air susu ibu pertiwi

tanpa peduli bagaimana lemahnya ia

hingga mati

 

Lalu… bagaimana aku ragu

untuk menyatakan

bahwa kita masihlah bangsa yang lebih bangga

berkata, “mending kutelanjangi tubuh tanpa celana, asal perut tak pernah merana.”

kitalah bangsa yang berkoar, “kubiarkan saja martabatku lebur asalkan setiap pagiku sarapan bubur di depan kubur.”

 

akulah warga yang bercerita kepada anakku sendiri,

“Nak, makanlah seluruh jatah warga negara dan rakyatnya semati-matimu,

agar Surga tak menyesal menerima dirimu yang sudah kenyang nanti…

juga sebab Neraka

tentu akan capek

jika hanya untuk membakar diri

yang bertubuh dosa segunung – sesamudera

dan bengkak oleh minuman dari airmata sesamamu.”

 

Argghh… kita tahu banyak,

Ya…

kita tahu ada selokan

berwajah perempuan

Yang setiap malam

dikencingi pria berkelamin belang.

 

Kita tahu berjuta-juta botol biir telah menumpahi

Segenap tubuh lelaki yang meniduri anaknya sendiri.

Kita tahu banyak sekali penjual-penjual sajak

Merasa diri sok bijak

Menjual-jual kebenaran demi secawan arak

Namun… teryata tingkahnya lebih biadab ketimbang biawak

 

Dan aku tahu sekali

Bagaimana merias diri

Memoles wajah hingga orang iri

Lantas berdiri di depan podium gengsi

Membacakan berhelai-helai puisi

Tentang kemerdekaan yang sudah lama basi

Dan Berlagak sok suci

Mengutuki selain diri sendiri

Tanpa sekalipun merasa telah menipu hati.

 

Maklum saja, maka bukan tidak mungkin

Bila kita dihantam habis

Dilumat tuntas

Digulung-gulung

Oleh ombak tsunami, banjir bandang,

Badai topan, puting beliung, letusan gunung,

Ledakan perang, rentetan peluru, bom waktu

Yang nanti sekaligus membunuh dan membantai

hingga ke pelosok jiwa manusia.

Atau justru memang sudah mewabah?

Virus yang senantiasa bernama: “Tutup mata, Kunci Dada.”

 

Sebab, sudah tak terhitung lagi

Ber-angka-angka kita penggal

Air mata dari para ibunda

 

Tak terkira para daftar tumbal

Kita jadikan kepala mereka sebagai ganjal

Di segenap pondasi apartemen legal

Juga darah dan nanah segarrr

Yang bagai kran, mengucur deras ke selokan

Lantas kita ciduk

Kita rebus bersama dengan ludah sendiri

Untuk dijadikan lem-lem perekat ikatan

Atau lingkaran setan.

 

Maka, Tuhan… di negeri yang serba buram ini

Yang penuh dengan riasan make up buatan

Yang gulita diterang-terangkan

cemerlang digelap-gelapkan

Kumohonkan kutuklah aku, dengan Lathifmu

Mantrailah aku dengan Quwwahmu

Siramilah ubun-ubunku dengan Adilmu

Sorbanilah aku dengan Ghofurmu

Dan,

jimatilah aku: dengan Rahman Rahim mu..


Wringin-Anom, Juli 2016

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *