Kekerasan, penghalang cahaya Agama

Muhammad Ulin Nuha

Firstideacorporate97@gmail.com


Tindak kekerasan dalam berbagai bentuknya, menjadi fakta sosial yang terus menyelimuti sepanjang perjalanan hidup manusia. Ada berbagai bingkai dan kemasan yang dilakukan para pelaku tindak kekerasan, dengan berbagai argumentasi apoligitik, argumentasi yang bernada pembenaran guna dijadikan alibi untuk menghalalkan suatu tindak kekerasan.

Radikalisme agama adalah suatu ancaman bagi kemanusiaan. Ia sudah menjadi momok yang sangat mengerikan diawal-awal abad 21 ini. Meskipun isu ektremisme agama( Al-tatharruf al-dini) ini sejatinya sudah mulai merebak pada kurun waktu tahun 1970-an. Terutama di belahan dunia yang berbahasa Arab. [1]

Imbasnya, Dunia internasional sedikit banyak mulai memerhatikan fenomena kekerasan yang seringkali menggunakan agama untuk dijadikan alasan logis penghalalannya[2]. Misalnya pada kasus yang terjadi pada tragedi 11 september 2011, Pembakaran masjid di Tolikara,  aliran ISIS ( islamic state of Iraq and syria ) dan banyak kasus-kasus atas nama ‘agama’ yang kemudian menjadikan pandangan masyarakat tentang Agama semakin buruk tentunya.

Agama Islam mendapatkan ‘jatah’ untuk diuji kebenaran inti ajarannya di zaman milenial ini. Ujiannya bukan baru satu atau dua kali, namun sudah seringkali terjadi.   Wajah islam yang terpotret di dunia global sekarang terlihat memilukan sekali. Banyak kasus-kasus radikalisme dan terorisme yang mewarnai buku sejarah perkembangannya.

Fenomena terorisme dan radikalisme yang melibatkan orang Islam atau dituduhkan pada kaum muslim, merupakan satu pukulan telak, bukan hanya terhadap eksternal ummat Islam, melainkan terhadap Agama Islam itu sendiri. Islam harus menanggung beban anggapan masyarakat dunia, bahwa Islam dianggap sebagai agama yang menakutkan, agama yang memiliki karakter keras, kejam, radikal, tidak mengakui adanya pluralitas, dan berbagai stigma serta tuduhan negatif menghampiri agama Islam.

Potret Islam seram dan menakutkan yang ditampilkan oleh sebagian umat islam inilah yang menjadi bumerang dan berbahaya bagi keberadaan agama Islam. Padahal seharusnya Islam bukanlah sumber permasalahan, melainkan penyelesai masalah yang ada, artinya keberadaaanya bisa dijadikan sebagai problem solver yang tepat sasaran dan tepat guna. Sehingga jikalau seorang muslim yang benar-benar menghayati ajarannya, seharusnya ia bisa mempresentasikan perdamaian, kesejahteraan dan keindahan dari makhluk yang beragama.

Dalam percaturan globalisasi sekarang ini , problem humanity dalam kehidupan kosmopolitan sungguh mendapat tantangan serius untuk merawatnya. Ummat islam harus berani terbuka pada masyarakat dunia, siap hidup berdampingan secara damai, dan sekaligus menyampaikan pada masyarakat global bahwa Islam dikembangkan tidak diatas gerakan radikalisme dan terorisme, dan islam pun harus mau dan mampu membentang kesempatan seluas-luasnya bagi kerjasama antara agama-agama lain di dunia. [3]

Lalu, apa sebenarnya yang menjadikan cahaya agama, baik islam maupun yang lain terhalangi dan yang nampak hanya warna kelabu dan buram saja?

Fethullah Gulen, Ulama kenamaan Turki menyikapi adanya radikalisme ini dengan menjelaskan dan menjawabnya sembari ia menawarkan sebuah kombinasi tiga konsep yaitu Toleransi, Cinta, dan Dialog. Ia meyakini bahwa keburaman nilai kemanusiaan dalam era globalisasi ini antara lain karena hilangnya rasa cinta dan sikap toleransi. Padahal dengan toleransi, manusia mampu mengkriya dan memahami perbedaan kecenderungan manusia, yakni dari aspek opini, world-view( pegangan hidup), ideologi, etnisitas atau keyakinan.

Toleransi berarti meletakkan suatu yang berbeda ke dalam hati nurani yang dalam, keyakinan, dan kedermawanan hati/kekuatan emosi. Toleransi juga bermakna mencintai keragaman penciptaan dari sang Pencipta.

Tasamuh,  memiliki makna menerima seperti apa mereka, dan mengetahui bagaimana cara bersama mereka. Toleransi lebih lanjut terdefinisikan sebagai sikap menghormati orang lain, belas kasihan, kemurahan hati atau kesabaran. Ia merupakan unsur yang paling penting dari sistem moral, mengajari bagaimana cara merangkul dan mengasihi orang lain tanpa memandang perbedaan pendapat, pandangan dunia, ideology, dan kepercayaan.[4]

Seorang muslim yang penuh cinta akan dapat menerima perbedaan pendapat dan keyakinan, sebab dia benar-benar menghayati pesan agama bahwa perbedaan pendapat di antara ummat adalah bentuk kasih sayang. Semangat kenabian/ spirit profetik ini menegaskan bahwa cinta dan kasih sayang adalah sumber toleransi. Untuk itu seluruh ummat manusia harus bangun untuk memperjuangkan kehidupan toleransi. Karena untuk mewujudkan peradaban yang indah tidak bisa terjadi dengan sendirinya melainkan membutuhkan ikhtiyar untuk mewujudkannya.

Lalu, Dialog antar iman ( hiwar al adyan ) adalah model dan media paling efektif mencegah konflik horizontal. Biasanya, model ini diawali dengan kesepakatan dan kesepahaman bersama, dan dilandasi i’tikad baik demi perdamaian. Dialog tentang kehidupan sehari-hari merupakan aspek paling dasar dalam kehidupan dan bertujuan bagi sesama manusia karena pada dasarnya terutama dalam masyarakat plural, dialog adalah jembatan utama. Berikutnya adalah dialog dalam kerja sosial, ini berarti ada sebuah intensitas tinggi dan kerjasama yang lebih serius antar pemeluk ummat beragama. yang ketiga adalah dilao teologis. Ini tidaklah hanya berlaku bagi para ahli,namun bagi siapa saja yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.[5]

‘Dakwah’ yang digemakan oleh kaum radikal nampaknya perlu dicermati ulang. Pasalnya, pemaksaan kehendak pribadi kepada pihak lain merupakan cara yang kurang bijaksana. Memberikan hidayah bukanlah hak prerogatif yang bisa diberikan oleh pihak yang –meminjam istilahnya Aboue El Fadl – sewenang wenang atau otoritarian. Namun hidayah itu hanya bisa diberikan oleh-Nya, Dzat Yang memang Berwenang.[6] Sehingga memahami kepentingan publik lebih mulia daripada sikap reaktif kepada masyarakat dengan protes atas  nama ajaran agama.

Dan memang, pengendalian diri seringkali lebih sulit, tapi lebih mulia daripada menuruti emosi. Implikasinya adalah sikap damai. Sikap damai adalah cara terhormat warga dalam masyarakat yang majemuk. Kedamaian bisa menjadi kekuatan dakwah yang lebih efektif daripada dakwah dengan pemaksaan kehendak.

Tawaran mengenai Konteks islam kosmopolitan juga merupakan suatu gerakan yang mesti dipertimbangkan. Gerakan ini adalah salah satu gerakan yang dulunya pernah diinisiasi oleh Fethullah Gulen yang merupakan sebuah movement yang menjadikan islam adalah sebuah jalan alternative, atau pilihan dalam menciptakan perdamaian dunia.

. Jikalau agama terpotret sebagai suatu ancaman bagi kemanusiaan, sebagaimana yang tercitrakan oleh apa yang dilakukan para teroris dan kaum radikal, maka patut digarisbawahi seperti apa yang dikatakan Cak Nur  bahwa nilai keagamaan mustahil berlawanan dengan nilai kemanusiaaan dan sebaliknya. Agama tidak dibuat sebagai penghalang kemanusiaan. Untuk itu, ‘pemandangan’ kekerasan, kekejaman, pengeboman, dan segala jenis kriminalisasi atas nama agama jelas sekali melanggar nilai kemanusiaan, prinsip perdamaian dan kemerdekaan. Oleh karenanya, pengumandangan prinsip agama yang tentu saja sesuai dengan asas kemanusiaan harus selalu digaungkan dan disebarkan, dan ditegakkan secara sepenuh hati oleh pemeluk agama-agama.[7]

Hal ini akan membuat dan membawa dampak yang bagus, terutama untuk Islam yang memang ‘sengaja’ diturunkan oleh Allah sebagai agama rahmatal lil alamin, supaya benar-benar menjadi bagian dari upaya penyelesaian masalah dalam kehidupan, bukan malah menjadi masalah yang harus diselesaikan Sudah saatnya berbagai polemik, ketegangan, konflik yang sedang mewabah, didekati dengan kembali pada sinaran Alquran yang berisi dan memiliki sisi ketuhanan yang tentu sangat berguna bagi fondasi keberagamaan masyarakat dunia.

[1] Abou el fadl. Melawan tentara Tuhan. Serambi. Halaman 20.

[2] Zidni Nafi Menjadi Islam,Menjadi Indonesia. Halaman 3.

[3] Arfan Muammar. Studi Islam, halaman 466. Diva press

[4] Irwan Masduki, Memeluk agama cinta dan toleransi halaman 153

[5] Kata pengantar Prof Dr. Nasaruddin Umar dalam buku Alquran bukan kitab teror Dr. H. Imam Taufiq.  halaman xvii

[6] Abou el fadl. Melawan Tentara Tuhan. Halaman 31

[7] Menjadi Islam…,Ibid Hal. 5

Facebook Comments


« (Previous News)
(Next News) »



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *