Jurus Rahasia Markomat

Jurus Rahasia Markomat

Ahmad Ahnaf Rafif

Sebuah penelitian yang dilansir oleh website vice.com menyebutkan bahwa sekelompok pakar syaraf sosial dan kognitif menemukan bukti bila sepasang sahabat akan memiliki respons yang sama saat menonton serangkaian video yang ditunjukkan di laboratorium. Para peneliti bahkan mampu memprediksi responden mana yang aslinya saling berteman, hanya berdasarkan respons otak mereka.

Tak heran jika banyak ditemukan hadis-hadis Nabi yang mengindikasikan hal yang serupa:
“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad)
Jauh-jauh hari Nabi sudah mewanti-wanti untuk memperhatikan teman duduk dalam hal urusan agama.

Markomat : tapi aku kurang setuju, Sub.
Kasub : kenapa, Mat?
Markomat : hadis ini kan dalam urusan agama. Nabi khawatir betul kalau kita salah melangkah nantinya.
Kasub : terus?
Markomat : bukankah pernah dikatakan bahwa khairu jalisin fiz zamani kitabun. Teman terbaik itu, Sub, buku. Jadi saranku, kalo mau tahu sifat orang itu gimana, ya tanya sama orangnya, dia sukanya baca buku apa?
Kasub : memang apa hubungannya, Mat?
Markomat : menurutku banyak yang bisa dihubungkan, Sub. Mulai dari tema, contohnya. Kamu tanya, buku apa yang suka dia baca. Kalau buku-buku ekonomi, artinya dia orang yang senang berbisnis. Kalau politik, artinya dia punya rasa diplomasi yang bagus. Kalau buku filsafat, berarti dia senang mengotak-atik otaknya. Kalau novel, artinya dia punya imajinasi yang kuat. Belum lagi kita hitung berapa banyaknya genre novel. Sebanyak macam-macam buku, sebanyak itu pula macam-macam manusia, Sub.
Kasub : ah, terus gimana kalau orang yang gak suka membaca?
Markomat : gampang. Kamu bisa cari cara lain, Sub. Kamu bisa memasuki alam pikirannya dengan jalan lain. Lewat musik kesukaannya, olahraganya, atau hobi-habi lainnya. Zaman sekarang kan orang seperti itu, Sub. Kita bahkan bisa menilai orang dengan barang-barang belanjaannya. Karena memang sistem pasar sekarang banyak menawarkan barang-barang yang menyentuh emosi pembelinya. Singkatnya, kalau kamu melihat barang, kamu akan berkata, “wah, ini barangku banget! Wah ini musikku banget! Wah ini bukuku banget!”
Kasub : omonganmu terlalu jauh, Mat. Hmm.
Markomat : singkatnya, kita bisa nanya langsung pribadi orang itu tanpa disadari olehnya. Ah, ini gak cuma sebatas teman, Sub.
Kasub : maksudnya?
Markomat : kalo kamu lagi suka sama orang, gak usah jauh-jauh tanya temennya. Tanya aja buku apa yang suka dia baca, selesai sudah permasalahan. Kamu bisa dapet pendamping yang satu selera atau satu kepribadian sama kamu.
Kasub : hahaha. Bisa dicoba tuh, Mat.
Markomat : seharusnya, Sub. Kita juga bisa pakai jurus ini untuk menilai calon presiden kita, Sub. Daripada kamu bingung dengar opini-opini pendukungnya, mending kamu tanya langsung sama pak calon presidennya. Cara tanyanya ya dengan melihat jenis buku favoritnya itu. Contohnya, Bung Karno suka baca buku-buku tokoh dunia semacam Karl Marx dan JJ Rousseau. Pak Harto sukanya baca koran dan majalah, sama seperti Bu Mega. Kalau Pak Habibi jangan ditanya, buku beliau pasti terkait dengan ilmu teknik. Lain halnya Gus Dur, yang bacaannya luas, mulai dari agama sampai novel-novelnya Ernest Hemingway. Pak SBY juga begitu, tak terhitung lagi buku kesukannya itu. Semuanya dilahap habis. Kalo Pak Jokowi, buku bacaanya mulai dari komik, dongeng, sampai novel karangan Dee Lestari.
Kasub : hmmm. Apa dasarmu pake jurus ini, Mat?
Markomat : bukankah kita dalam menetapkan hukum Islam menggunakan empat sumber: al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas?
Kasub : iya terus?
Markomat : kita gunakan juga ini dalam menilai mereka. Sumber utamanya, itulah jenis bacaannya, hobinya yang lain, atau pidato-pidatonya. Itulah al-Qur’an-nya. Baru, kalau nggak kita temukan di al-Qur’an atau merasa belum cukup, kita lihat hadisnya. Hadisnya, itulah berita-berita yang banyak tersebar di media cetak maupun visual. Cari khabar yang tersebar di dunia maya. Tapi harus hati-hati, jangan sampai kamu termakan hadis palsu. Kurang cukup juga? Lihat ijma’ para pendukung masing-masing calon atau pengamat politik. Lihat yang paling objektif dan paling sesuai fakta. Sampai sini, aku kira cukup, Sub.
Kasub : hmmm.. walaupun aku kurang setuju, tapi omonganmu tadi menunjukkan bahwa posisi teman atau karib atau sahabat itu di posisi ketiga, ya?
Markomat : yaps! Bagiku itu bukan sumber utama. Dalam hal apapun, baik teman, jodoh, ataupun pilihan politik. Dan tidak boleh dibalik urutannya.
Kasub : sebentar. Tapi itu kan mazhabmu. Terus gimana dengan mereka yang bermazhab selain Syafi’i? analogimu nggak ada gunanya.
Markomat : itu kan cuma perumpamaan, Sub. Lagi pula orang bebas dalam hal ini menentukan cara mana yang menurut mereka paling bagus. Kamu pun bisa menentukan caramu sendiri, Sub.
Kasub : oke. Akan kubuat caraku sendiri. Tapi sebelum itu aku mau pake caramu dulu, Mat. Baru habis itu aku buat kreasiku sendiri.
Makomat : yaa, monggo, Sub.

Facebook Comments





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *