Ingin Kubakar Tasbih Kyaiku

Pagi-pagi buta, saat para ustadz-ustadzah belum bangkit dan memegang semprotan air pembangun, aku mengendap-endap menyusup ke nDalem Romo Kyai. Sedang orkestrasi sahutan katak-katak di sawah sana menutupi suara gesekan kakiku yang melangkah gamang. Tampaknya angin tengah cuti malam ini. Udara serasa sepi tanpa gerak. Sarungku tak berkibar-kibar seperti ketika biasa berangkat Jum’atan. Tetapi tubuhku, menahan getar yang muncul dari perasaan yang ragu bertanya; apakah perbuatanku ini salah?

“Husshh… keraguan itu datang dari musuh bebuyutanmu. Jangan kau hiraukan!” Satu suara—yang tanpa kata-kata—menyelisip masuk ke dadaku. Aku tak tau itu dari siapa. Tapi aku heran sendiri kenapa sudi memercayainya dengan tanpa pertimbangan.

“Lanjutkan saja, Nak. Apa yang akan kau lakukan adalah tindakan mulia.” Sekali lagi, kudengar bisikan halus dan tubuhku bertambah mantap.

Sedikit saja, beberapa langkah kecil lagi, aku akan sampai di ujung penunaian niat muliaku. Aku tidak akan membuang-buang kesempatan ini lagi—yang telah menjadi amanat pemberian bunga tidurku yang kudapat dari langgar yang sepi. Toh, tindakanku sudah ditunggu-tunggu oleh malaikat di kejauhan sana. Sekali ragu, maka semua iman masyarakat di desaku akan dipertaruhkan. Sejarah kelak pasti mencatat, dahulu siapa pemberantas kebathilan di pesantren dan desa ini.

“Hahaha… niatmu memang mulia, Kisanak. Tapi senyuman di wajahmu itu, isyarat hati yang berangan ingin dikenang, senyum itulah yang akan menjadi api pembakar segala ganjaran dari niat sucimu!”

Sialan. Lagi-lagi ada suara tak berupa merasuki relung kepala. Kuduga suara itu muncul dari seorang kakek-kakek. Aku terganggu, surutlah semangatku yang mulanya bergelora, kini layu dan meranggas sehingga menghentikan tanganku yang hendak membuka jendela untuk segera kumasuki ruangan di dalamnya yang gelap. Aku berhenti, menundukkan wajah ke tanah di bawah kemerlap langit malam tak bermendung di atas sana. Lantas derik jangkrik di kegelapan, mengajak diriku membatin: malam ini, berisiknya sungguh biadab sekali.

***

“Ayo…Ayo… silakan saudara-saudara, harga pertama ialah tiga juta, tiga juta saja untuk sajadah keramat Kyai Danurejo. Siapa yang mau? Ayo, ayo. Siapa cepat, dia dapat! Siapa minat, langsung sikat!” Lelaki separuh baya itu memegang corong, berdiri, dan berkicau-kicau tak merdu yang membuatku ingin sekali menumbuk mulutnya. Juga matanya. Hidung peseknya. Ah, lebih afdhol semua anggota tubuhnya kuremukkan.

Ia, lelaki jangkung itu, menyebut nama Kyaiku secara serampangan, tanpa mimik kekhusyukan dan roso ta’dhim di wajahnya. Berani-beraninya ia! Rugi dengan sarung dan peci yang ia kenakan. Andai tak ada Bu Nyai di sana, sudah kuterjang wajahnya untuk kuhantami sehabis mungkin. Namun akalku masih didera rasa gatal, kenapa Bu Nyai mengizinkan barang peninggalan suaminya dilelang sebegitu remehnya? Apakah hanya lantaran ekonomi? Ataukah karena keluarga nDalem telah berkalang hutang? Ah, tidak mungkin. Persoalan ini lebih kompleks dari sekadar itu. Toh, pesantren sudah lebih dari cukup untuk memenuhi segala keperluan hidup mereka sekeluarga. Lantas kenapa? Pertanyaanku itu menggantung di ujung kepalaku.

Kuputuskan untuk pergi dari acara tujuh hari meninggalnya Kyai Danurejo, pimpinan pesantrenku, yang kurasa makin lama makin aneh dan masygul. Daripada telingaku panas dan dadaku hangus terbakar emosi, mending aku hengkang.

“Mau kemana, Kang? Acara kan belum selesai.” Salah satu anak baru di Pesantrenku bertanya, berlagak sok betah dengan acara yang na’udzubillah ini. Menghambat laju kepergianku saja.

“Sebentar, saya ingin ke jamban dulu.” Kusungging senyum palsu di wajahku, hanya demi membalas senyumnya yang penuh curiga. Jujur, aku paling muak melakukan kepura-puraan basa-basi seperti sekarang yang sedang aku lakukan!

Mulut santri kemarin sore itu menyimpulkan huruf O di bibirnya, lalu mengangguk. Akhirnya aku bisa minggat juga. Menjauhkan diri dari kegiatan muspro semacam ini. Namun, sesampainya di gerbang pintu keluar pesantren, aku mendengar sebuah teriakan. Aku seperti tidak asing dengan suara itu. Familiar. Teriakan itu nyaring terdengar karena memakai corong pengeras suara.

“Yak! Akhirnya ditutup, saudara-saudara. Harga terakhir untuk sajadah keramat peninggalan Kyai Danurejo ini aaa…dalah… dua puluh delapan juta rupiah!”

Dahiku mengerut, dan mulut bersungut-sungut menyumpahi tindakan orang itu yang melakukannya dengan ringan hati. Seolah tanpa dosa. Ah, aku semakin ingin menghajarnya habi-habisan. Namun kutahan. Lebih baik aku menyiapkan rencana selanjutnya, matang-matang.

***

Pak satpam pesantren memanggilku, “Ini pesanan sampeyan.” Ia menyerahkan benda dibungkus plastik hitam kecil kepadaku.

“Wah, cepat juga ya, Cak Kan. Matur nuwun loh njeh?”

“Iya, siap. Sama-sama, Kang. Sebentar lagi mau adzan Ashar, mending sampeyan mempersiapkan diri dulu.”

Tak kuduga, dunia ini memang aneh sekali. Cak Kandar yang bagiku cuma seorang satpam, lagak-lugunya justru lebih mencerminkan santri ketimbang santri itu sendiri. Beda jauh dengan yang mengaku santri senior namun malah menjadi pembawa acara lelang barang peninggalan Kyai yang mendidiknya. Oya, buat apa aku memusingkannya? Buang-buang tenaga dan usia belaka. Dari situ, aku lanjut pergi meninggalkan Cak Kandar yang wajahnya masih bergurat senyuman.

Maka, setiba di asrama, selepas suntuk menunggu malam, tepat saat anak-anak santri lekas mengambil makanannya, aku memutuskan untuk membuka paket titipan dari satpam tadi. Kutelanjangi bungkusnya, terlihatlah satu kotak kecil tetapi berat dan terbuat dari besi. Aku mendengar bunyi cetiing! Sewaktu membuka tutup atasnya. Ini baru korek api Zippo orisinil. Dari berat dan bunyinya saja, aku sudah bisa mengidentifikasinya. Kurasa hanya korek ini saja yang pantas menghanguskan barang berharga peninggalan Kyaiku.

Tinggal beberapa jam lagi, aku harus mengendap-endap kembali, sembari membawa alat tersebut, dengan langkah yang paling bisu yang pernah ada. Aku akan membakar satu barang terakhir peninggalan Kyai Danurejo, sebelum keburu laku dilelang siang nanti.

Aku akan mencuri terlebih dahulu benda penyebab pengkultusan keparat ini: tasbih keramatnya. Kini, sudah tiba saatnya aku menggunakan langkah yang paling bisu yang pernah ada—ilmu kanuragan yang kutekuni pada masa silam di belantara Hutan Panembahan. Tubuhku tidak akan terlihat sedang kakiku tetap melangkah tanpa mendepak permukaan tanah sama sekali. Aku siap menumpas kemungkaran!

Sekarang, dini hari ini, derik jangkrik lebih nyaring lagi dari malam yang lalu. Pertanda baik bagiku, sebab semakin banyak orang yang terbisingkan telinganya akan berfikir dan merasa tenang bahwa tiada gangguan suara apa-apa selain krik-krik.

Aku sudah tiba di jendela, tempat kemarin di mana aku gagal—karena kegamanganku sendiri. Bintang-gemintang di atas sana sedang sembunyi, itu bagus buatku. Akan semakin sedikit saksi yang kelak menagih hukuman buatku di alam baka. Segala konsekuensi sudah siap ketempuh, apapun ongkosnya.

Tidak sulit ternyata memasuki jendela nDalem keluarga Kyai ini. Ruang ini sengaja disepikan. Suwung. Tapi aku tak gentar sama sekali. Setelah bertempur dalam kubangan kegelapan, akhirnya kutemukan tasbih tua yang konon terbuat dari kayu Jati Kuno bahan pembuat Bahtera Nuh. Tasbih ini cukup menawan untuk kumiliki, batinku. Tidak, tidak. Kugelengkan kepala. Bukan aku jika masih kalah dengan buaian kelas teri macam ini. Sambil melangkah keluar melawan semilir arah angin gunung, aku berdesis lirih: ini tetap harus kumusnahkan.

Namun, belum usai tanganku ingin mengambil korek api, ada suara mengagetkan dari belakang.

“Hey, anak muda! Apakah untuk melenyapkan jerawat, kau harus memotong kulit pipimu atau bahkan memenggal kepalamu?” Tiba-tiba ada tangan meraih pundakku. Aku terperangah. Bagaimana bisa tubuhku pada fase ini masih dapat tersentuh oleh sesuatu. Tidak mungkin.

“Jika kau jatuh keserimpet sarung, apakah kau akan memutuskan untuk mengutuk-ngutuk sarungmu itu, yang tak lain adalah benda mati? Atau saat kau tersandung batu, apakah batu itulah yang akan kau caci maki?”

Kalimat-kalimat itu deras sekali mengaliri lorong-lorong telingaku. Membuat mataku terbelalak. Aku ngeri sendiri.

“Jangan salahkan tasbih, nanti lama-lama kau akan menyalahkan pembuat tasbih, lantas menyalahkan pencipta bahan-bahan pembuat tasbih, Nakmas.” Satpam pesantrenku itu, tetap dengan wajah ramah dan teduh, memberondongiku dengan kata-kata tajam.

Aku putuskan, tanganku lanjut meraih korek api tadi di saku bajuku. Dengan gemetar menahan jeri, kunyalakan korek dan segera mendekatkannya ke tasbih keramat Kyai Danurejo. Aku harus membakarnya!

“Percuma saja, Nakmas. Itu hal yang sia-sia.”

Sialan, wajah Cak Kandar mengintimidasiku dengan senyumannya. Aku menjadi semakin gentar. Apalagi tasbih yang kupegang tak kunjung terbakar. Aku kikuk sendiri, lantas merinding terguncang, tanganku yang memegang seujung api mengenai sisi lengan bajuku. Aku terbakar! Api sulutanku sendiri menjalar seperti ular. Merambati dan mengerubungi seluruh tubuhku. Aku teriak bak orang kerasukan. Aku… aku…. Akuu… bakar!

 Mojokerto, 7 Mei 2018

Madno Wanakuncoro nama pena dari Muhammad Naufal Waliyuddin. Santri kelahiran Mojokerto dan penulis yang gemar melukis, apalagi membaca. Suka kopi yang nggak banyak tingkah. Spesialis travelling tanpa rencana. Bisa diajak ngopi di Ig: @madno_wanakuncoro. Situs pribadinya: www.wanakuncoro.wordpress.com

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *