Berguru Kepada Sang Begawan

Oleh: Ahmad Ahnaf Rafif
Judul Buku : Wasiat Sang Begawan (Pesan-Pesan Nurcholish Madjid)
Penulis : Solichin dan Arief Khumaidi
Penerbit : Sinergi Persadatama Foundation, Jakarta
Tahun Terbit : I, Desember 2011
Halaman : 381 halaman
ISBN : 978-602-96882-2-1

Hingga saat ini, Indonesia masih menjadi salah satu bangsa yang tertinggal dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia ini. Sampai era 21-an, Indonesia kekurangan pemikir-pemikir yang berpikiran produktif serta futuristik untuk kemajuan bangsa.
Mengenai bangsa, Indonesia memiliki tokoh yang menaruh perhatian besar terhadap kemajuan peradaban bangsa. Adalah Nurcholish Madjid, atau yang biasa disapa dengan Cak Nur, yang telah banyak memberikan kontribusi untuk bangsanya. Tidak heran jika gelar ‘Guru Bangsa’ disandarkan kepadanya, karena kearifan serta kedalaman ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Ada begitu banyak gagasan yang telah dituangkan oleh Cak Nur semasa hidupnya. Di antara gagasan-gagasan tersebut, terangkum dalam buku Wasiat Sang Begawan. Di dalamnya dipaparkan secara singkat mengenai gagasan-gagasan yang telah diwarisi oleh Cak Nur kepada generasi penerusnya.
Salah satu gagasannya mengenai peradaban bangsa yaitu keharusan untuk belajar kepada peradaban yang lebih maju. Adalah peradaban Barat yang telah berani belajar kepada tiga peradaban besar sebelumnya, yaitu Yunani, Judeo-Kristiani, dan Islam. Setelah ketiga peradaban besar itu runtuh, tumbuh peradaban baru di dunia Barat. Sebelumnya bangsa-bangsa Barat mengalami masa-masa kegelapan (the dark ages) yang panjang. Di masa-masa inilah mereka berani belajar dari kemajuan serta keunggulan peradaban-peradaban sebelumnya. Hal tersebut dimungkinkan karena terdapat minority creative yang mampu menjawab tantangan dan menciptakan peradaban baru.
Peradaban sebelum Barat adalah peradaban Islam. Kala itu, Konstantinopel jatuh ke tangan Islam pada abad ke-15. Di bawah kekuasaan khalifah Usmaniyah, Islam mulai menguasai Eropa Timur dan Tengah. Islam datang ke wilayah itu membawa peradaban yang bercorak pembebasan. Kemudian kemajuan terus merambah ke daratan Eropa yang pada saat itu mistikisme dan mitologi menjadi tradisi masyarakat. Islam hadir membawa ilmu pengetahuan ketika Eropa berada di masa kegelapannya. Orang-orang barat mendapat pencerahan dari cendikiawan muslim, sehingga menyadarkan mereka untuk belajar dari kemajuan peradaban terdahulu. (halaman13-14)
Cak Nur juga menegaskan bahwa inti peradaban zaman modern adalah iptek. Karenanya, bangsa Indonesia harus menguasai iptek secara luas dan mendalam jika ingin menjadi bangsa yang maju. Hal ini disebutkan oleh Cak Nur sebagaimana yang pernah dialami oleh peradaban Islam sebelum munculnya peradaban Barat, yang telah lebih dulu memiliki etos keilmuan yang sangat kuat. Hal tersebut dapat dilihat dari munculnya ilmuwan-ilmuwan yang berhasil menciptakan ilmu-ilmu eksakta, humaniora, dan ilmu sosial. Artinya, setiap zaman memiliki popularitas keilmuan yang berbeda, dan bangsa mana pun yang mendalaminya, ia akan menjadi bangsa yang maju. (halaman 177-178)
Ada dua landasan penting yang dikemukakan oleh Cak Nur jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju. Pertama, perubahan mindset atau pola pikir bangsa, utamanya character building agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Hal ini bisa dicapai dengan berkaca pada peradaban Nusantara yang memiliki tingkat peradaban masyarakat yang tinggi. Sebab nenek moyang bangsa Indonesia bukan masyarakat yang primitif, ditunjukkan dengan banyaknya kerajaan di wilayah Nusantara. Cara lain untuk mencapainya ialah dengan berkaca kepada peradaban klasik yang pernah menguasai dunia sebelum peradaban Barat. Kedua, membangkitkan etos keilmuan guna menguasai filsafat dan iptek. Hal ini bisa dicapai dengan belajar kepada bangsa yang sedang maju saat ini. (halaman 180-181)
Buku ini mengenalkan kepada pembaca pemikiran-pemikiran Cak Nur yang digagas untuk kemajuan perabadan bangsa Indonesia. Ditulis dengan bahasa yang sederhana, mengalir, serta sistematis, sehingga buku ini cocok dibaca masyarakat umum. Layaknya buku saku, buku karya Solichin dan Arief Khumaidi juga praktis dan bisa dibawa kemana-mana. Selamat membaca!

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *