Akhir-akhir ini, jagat raya dunia pesantren dan masyarakat dihebohkan dengan berita viral seorang anak kiai di Jombang yang menjadi tersangka kasus pencabulan, mendapatkan banyak respon dari berbagai kalangan masyarakat. Dalam kasus tersebut, banyak media sosial yang menarasikan dengan “anak kiai pesantren Jombang”. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Jombang merupakan tempat lahirnya Nahdlatul Ulama, bahkan para tokohnya pun dilahirkan di Jombang.
Jagat publik mengenal bahwa Jombang merupakan kota santri dan tentunya kota dengan dominan masyakat mengikuti organisasi Nahdlatul Ulama (NU) serta patuh dan taat dengan ulama NU. Maka dari itu, ada beberapa hal yang harus kita ketahui bersama kebenaran yang sesungguhnya mengenai berita Pesantren di Jombang tersebut.

  1. Tidak berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama
    Dari kasus tersebut, tidak sedikit pula para pembenci Nahdlatul Ulama dan orang-orang yang anti pesantren, tertawa angkuh. Mereka berpikir bahwa kasus tersebut mampu membuat jagat publik memandang rendah Nahdlatul Ulama, dengan alasan karena NU identik dengan pesantren dan kiai sebagai pimpinan tertinggi di dalamnya. Akan tetapi, tunggu dulu. Tidak semua pesantren berafiliasi dengan NU. Oleh karena itu, jangan terburu-buru untuk mengaitkan kasus anak kiai yang melakukan pencabulan dengan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
    Fakta di lapangan memberikan bukti bahwa Pesantren Majma’al Bahrain, Ploso, Jombang, tidak berafiliasi serta tidak terdaftar di Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU). Hal ini sudah menjadi bukti kuat bahwa pesantren tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan NU.
  2. Thariqah Shiddiqiyah
    Kemudian bagaimana dengan thariqah yang mereka ajarkan?
    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pesantren yang diasuh oleh beliau K. Muchtar Mu’thi tersebut juga mengajarkan ilmu thariqah, yakni thariqah Shiddiqiyah. Shiddiqiyah juga tidak termasuk dan tidak berafiliasi dengan Jam’iyyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah yang merupakan organisasi keagamaan milik Nahdlatul Ulama, yang mana anggota-anggotanya fokus menerapkan ajaran-ajaran thariqah.
    Maka dari itu, jangan kemudian gegabah mengaitkan kasus tersebut dengan NU dan para tokoh pembesar NU. Ber-NU itu enak dan nikmat. Yang membuat kesalahan tetap dinyatakan salah. Yang berbuat benar tetap dinyatakan benar. Dari kasus tersebut, justru tokoh-tokoh NU sangat mendukung pihak kepolisian untuk bertindak tegas terhadap pelaku serta menuntut pelaku agar mengikuti proses hukum yang berlaku di Negara Indonesia ini. Bukan malah menghalang-halangi proses penegakan hukum dengan melibatkan simpatisan dan para santri.
  3. Provokasi pembenci Nahdlatul Ulama dan anti pesantren
    Nahdlatul Ulama selalu mengajarkan kepada para pengikutnya untuk menaati hukum yang berlaku di Indonesia. Salah ya tetap dinyatakan salah. Tidak memandang bulu. Semuanya sama di mata hukum. Tidak peduli itu anak kiai, anak menteri, ataupun anak petani.
    Yang menggemaskan setelah melihat kasus tersebut ialah para orang tua menjadi takut untuk memondokkan anak cucunya. Mereka berpikir bahwa pesantren bukan tempat yang aman untuk anak perempuannya. Bahkan banyak influencer, konten kreator, serta penulis, mengajak netizen Indonesia agar berhenti memasukkan anaknya ke pesantren dan berhenti percaya kepada para ulama pesantren. Yang lebih kocak lagi, mereka mengajak para orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah negeri, yang tidak berbasis pondok pesantren. Miris sekali.
  4. Pesantren bukan tempat sampah
    Logika simpelnya seperti ini, di lingkungan pesantren saja anak-anak memiliki potensi untuk melakukan tindak kejahatan. Padahal, yang kita ketahui bersama bahwa pesantren mempunyai banyak peraturan dan pastinya dengan pengawasan yang ketat. Lalu, apa kabar jika anak-anak tadi tidak dimasukkan ke pesantren? Pastinya akan berpotensi lebih untuk melakukan kejahatan yang akan dialami sang anak. Tidak hanya pencabulan dan pemerkosaan, namun sang anak juga mampu menjadi sasaran korban kejahatan yang lainnya. Parahnya lagi, bahkan mampu menjadi subjek kejahatan itu sendiri dikarenakan minimnya ilmu pengetahuan dan minimnya tata krama pada sang anak tersebut.
    Persoalan memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren atau tidak, itu menjadi pilihan masing-masing orang tua. Akan tetapi yang harus diingat, ketika sang anak sudah telanjur nakal di luar sana, dan orang tua sudah merasa tidak mampu menangani dan tidak bisa mendidiknya, jangan terbesit punya pemikiran untuk membuang sang anak nakal tersebut ke pesantren. Karena pesantren bukan tempat untuk merehabilitasi anak nakal. Kiai dan para asatiz tidak hanya mempunyai tugas untuk mengurusi anak nakal saja, tapi juga banyak santri yang lain. maka dari itu, jangan jadikan pesantren sebagai pilihan terakhir untuk tempat menimba ilmu sang anak. Karena pesantren bukan tempat sampah.
  5. Tips memilih pesantren
    Kemudian, bagaimana caranya memilih pesantren yang aman untuk anak-anak kita? Pilihlah pesantren yang sudah terbukti mencetak dan menghasilkan santri-santri yang memiliki kualitas unggul. Dan pastinya juga harus melihat latar belakang pesantren, serta sosok kiai yang menjadi pemimpin dan petunjuk berjalannya pesantren tersebut. Jangan sampai memilih pesantren yang mengajarkan ajaran suka mengkafirkan, suka mensyirikkan, suka membid’ahkan, dan suka menyesatkan orang yang memiliki pemahaman berbeda.
  6. Jangan takut
    Di negeri ini, pastinya banyak pondok pesantren yang terbukti mencetak para santri berprestasi. Jangan hanya karena adanya kasus yang viral tersebut membuat kita memandang semua pesantren itu sama, apalagi sampai mengaitkannya dengan Nahdlatul Ulama. Karena tindakan tersebut sangat tidak bijak. Alangkah baiknya sebelum memasukkan sang anak ke pesantren, berikan edukasi kepada mereka agar berani berusaha jika mengalami kekerasan dalam bentuk apapun, juga termasuk pelecehan dan kekerasan seksual. Sehingga, sedini mungkin dapat menyelamatkan anak-anak dan menghindari kemungkinan terburuk jatuhnya korban yang lebih banyak.

Ima Nur Diana

CSSMoRA Ma’had Aly Maslakul Huda Pati Angkatan 2020.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *