Tebuireng 04 Maret 2022, CSSMoRA Ma’had Aly Hasyim Asy’ari mengadakan Monitoring dan Pembinaan PBSB dari Kasubdit Pendidikan Pesantren Kementerian Agama RI serta Diskusi Ilmiah dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Acara ini diawali dengan pembinaan dari Kasubdit Pendidikan Pesantren Kementerian Agama RI, kemudian berlanjut pada acara kedua yakni Diskusi Ilmiah.

Diskusi ilmiah ini bertemakan “Evolusi Burāq dalam Kesarjanaan Muslim Klasik dan Respon Kitab-Kitab Tafsir”. Berangkat dari tema ini, diskusi ini membahas tentang bagaimana Burāq divisualisasikan oleh kitab-kitab turats klasik dan sarjana-sarjana Barat, serta bagaimana respon kitab-kitab tafsir. Peserta dalam diskusi ini bersifat umum yang dapat diikuti secara virtual melalui aplikasi zoom, live Youtube, dan Instagram. 

Alumni PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Phil Muammar Zayn Qadafy merupakan narasumber pada diskusi ini. Pada awal pembahasan, narasumber menyampaikan ada banyak imajinasi orang terhadap Burāq. Ada yang menganalogikan hewan berkepala manusia, kuda yang bisa terbang dengan dua sayap, dan berbagai macam analogi lainnya. Bahkan, terdapat pesawat dengan merek Burāq, sesuatu yang identik dengan kecepatan, lintas pikiran orang mengarah dan mengumpamakannya seperti Burāq. Semua asumsi ini dikupas oleh narasumber secara tuntas lewat kaca mata sejarah dan kitab-kitab tafsir.

Direktur Studi Tafsir ini juga menekankan bahwasanya kajian dalam diskusi ini berfokus terhadap matan bukan sanad, walaupun otoritas kuat kebenaran sebuah narasi itu tergantung terhadap sanad, yakni siapa yang menyampaikan, akan tetapi disini ia menyampaikan lebih suka meneliti perubahan matan daripada sanad.

Terdapat banyak pendapat mengenai ciri-ciri fisik Burāq, terkait jenis kelamin misalnya. Sejauh penelusuran dalam kitab-kitab turats tidak ada redaksi secara eksplisit menyatakan Burāq ini jantan atau betina, tetapi disini bisa dilihat dari penggunaan dhomir dalam Kitab Sirah Ibnu Hisyam menggunakan dhomir muannats (menunjukkan perempuan),

وهي الدابة التي تحمل عليها الأنبياء

Menurut sebagian pendapat, Burāq ini berwarna putih dan mempunyai dua sayap di pahanya. Sedangkan, ciri perawakan Buraq menurut pendapat yang masyhur yaitu lebih tinggi dari himar dan lebih pendek dari keledai, kakinya seperti kaki sapi, leher, dada, dan punggungnya seperti emas.

Dalam kitab Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad menjelaskan bahwa Buraq memiliki telinga yang panjang. Tidak hanya itu, mitologi Hindu juga menyebutkan Burāq itu makhluk nirwana berkepala wanita, berbadan sapi, dan bersayap burung. Sedangkan dalam kitab Mausuah Isra’ dan Mi’raj terbit 1994 sebuah kumpulan manuskrip text nya diredaksikan,

له وجه كوجه الادمي وجسده كجسد الفرس

 Wajahnya seperti manusia sedangkan jasadnya seperti kuda. Buraq adalah hewan yang terbaik yang pernah ada. “Satu hal yang penting untuk kita pegang sebagai seorang sarjana, baik di Universitas maupun Pesantren adalah spirit untuk menjaga dan memperlakukan turats-turats ini sebagai part of intellectually history. Dengan demikian, berangkat dari keingintahuan yang didapat dengan membaca akan menghasilkan riset-riset yang berkualitas dari kitab-kitab turats,” pungkas alumni Albert Ludwig-universtat Freiburg-germany ini.

Penulis: Edi Massolihin


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *