Ngabuburit bareng alumni PBSB menjadi teman istiqomah dalam bulan Ramadhan kali ini. Untuk refleksi singkat ini, adalah edisi 4 Mei di sesi ke-empat, oleh Ka Dito Alif Pratama (Vrije Universiteit, Belanda), Surotul Ilmiyah (Xiangya School of Public Health, Central South University, China), dan Achmad Yafik Mursyid (Istanbul Universitesi, Turki). Secara berurutan, beliau adalah alumni PBSB UIN Walisongo Semarang, UIN Syarif Hodayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mari simak cerita beliau tentang model perkuliahan di luar negeri.

Turki
Perkuliahan lebih banyak kepada riset, untuk sarjana atau S1 tidak ada skripsi. Materi perkuliahan lebih diutamakan, yang nantinya dilanjut kepada sebuah penelitian. -Ka Yafik, alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta-

Belanda
Kuliah di Belanda tidak ada sistem semester, tapi menggunakan sistem blok, bisa sampai 4 blok dalam setahun. Untuk model pembelajaran bisa memilih, seperti terapan atau riset. Misalkan jurusan perminyakan lebih banyak kepada praktik, sehingga lebih mengambil sistem pembelajaran praktik. Untuk pengambilan mata kuliah (biasa dikenal KRS, di Indonesia), maksimal tiga mata kuliah. “Dua mata kuliah sudah kebanyakan”, tutur Ka Dito. Untuk standarnya adalah satu mata kuliah, tidak lain karena fokus dalam mengkaji suatu ilmu atau konsentrasi mata kuliah. –Ka Dito, Alumni PBSB UIN Walisongo Semarang-

China
Ka Surotul Ilmiyah mencontohkan, kelas internasional (mahasiswanya heterogen, tidak hanya bangsa China) menggunakan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran. Sedangkan, jika dalam satu kelas; mahasiswa China, maka menggunakan bahasa China. “Saya dan sebagian besar teman saya lebih kepada self learning (belajar sendiri). Kalau saya sedang mendapat pembelajaran dengan bahasa China, saya akan minta slide materi, lalu di-translate sendiri”, papar Ka Surotul.
Untuk sistem pembelajaran di China juga mengambil sistem blok, sehingga satu tahun terdapat empat kali tes. Orientasi tahap perkuliahan, tahun atau semester pertama lebih kepada materi awal, sehingga Ka Surotul dalan tahun pertama kuliah, lebih banyak eksplor China. Setelah itu, baru fokus dengan mata kuliah, publik health; lebih kepada praktik,. Dalam pengambilan mata kuliah, mengambil satu per satu dan dibereskan terlebih dahulu. Setelah itu, dapat mengambil mata kuliah selanjutnya. -Ka Surotul, Alumni PBSB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta-

Demikian kisah Living and Studying Abroad kaka-kaka alumni PBSB. Semoga bisa mencerahkan bagi para scholarship hunters.

Kominfo CSSMoRA Nasional


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *