CSSMoRA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pertama kali didirikan seiring dengan adanya PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) di Perguruan Tinggi (PT) tersebut. Program beasiswa ini diinisiasi Rektor UIN pada masa itu, yaitu Prof. Imam Suprayogo, dengan tujuan untuk memberikan beasiswa kepada sejumlah Mahasiswa santri yang memiliki prestasi berupa hafalan Al Quran sebagai bentuk apresiasi atas pencapaianya tersebut.

Pada tahun 2009, kampus membuka jalur prestasi hafalan Al Quran dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru yang diikuti oleh para santri penghafal Al Quran dari berbagai daerah. Pada seleksi ini, ada 33 santri yang lolos dan diberi beasiswa sekaligus menjadi cikal bakal terbentuknya CSSMoRA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Selain aktif dalam kegiatan akademik, para santri tersebut juga berkesempatan untuk menunjukkan kiprahnya di sebuah organisasi ke-alquranan yang bernama HTQ (Haiah Tahfidz Al Quran) yang sudah lebih dahulu ada dengan harapan hafalan yang sudah mereka miliki masih bisa terjaga. Tak heran, aktivitas mereka terbilang cukup padat, dengan agenda pagi-sore mereka habiskan dibangku kuliah sedangkan malamnya mereka gunakan untuk setoran hafalan kepada asatidz dan asatidzah di HTQ.

Perhatian pimpinan kampus kepada para santri Mahasiswa tersebut semakin meningkat ketika mereka berada di awal semester 2 bangku perkuliahan. Pada hari Kamis tanggal 14 Januari 2010 Bapak Khoironi, salah satu pejabat Kementerian Agama melakukan kunjungan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan berniat untuk bertemu dengan teman-teman Angkatan Pertama sejumlah 33 mahasiswa yang hafal Al-Qur’an minimal 10 juz yang mendapat Beasiswa dari Kementerian Agama RI bersama Bapak Rektor UIN Maliki Malang.

Bapak Khoironi memberikan banyak pengarahan dan petuah-petuah kepada mereka sampai akhirnya Beliau memberi kabar kepada mereka agar besok pada hari Jum’at tanggal 15-17 Januari 2010 berangkat ke Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan untuk mengikuti acara pembinaan dan pengabdian organisasi mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Kementerian Agama RI. Sebelumnya mereka tidak mengetahui apa-apa mengenai organisasi ini, namun setelah mendapatkan pembinaan di sana mereka menjadi tahu tentang organisasi CSSMoRA ini meskipun hanya garis besarnya saja. Dari pondok Al-Yasini inilah mulai terbentuk struktur kepengurusan CSSMoRA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang meskipun hanya sebatas Ketua, Sekretaris, dan Bendahara saja.

Seusai pertemuan di pondok pesantren Al Yasini, Badrun Munir (2009) sang pemegang tongkat estafet kepemimpinan CSSMoRA UIN Malang saat itu, mulai belajar menghidupkan dan mengembangkan organisasi baru yang beranggotakan 33 santri penghafal Al Quran tersebut. Dengan arahan dan bimbingan yang tak seberapa dari CSSMoRA Nasional, mereka mencoba berkiprah mulai dari nol dengan menghadapi tantangan, rintangan yang terbilang cukup sulit di awal-awal masa pertumbuhan organisasi. Berbagai konfrontasi menghiasi jalannya organisasi, seperti kurang harmonisnya hubungan dengan para pembina hingga kurang akrabnya dengan kepengurusan Nasional.

Untuk angkatan pertama para santri ini masih tersebar di berbagai fakultas dan jurusan, tetapi untuk angkatan kedua dan seterusnya akan difokuskan di fakultas Sains dan Teknologi. Khusus untuk CSSMoRA UIN Maliki Malang, persyaratan untuk mendaftar jalur PBSB ditambah tes hafalan Al-Qur’an minimal 10 juz dan diharapkan ketika lulus S1 dapat menyelesaikan Al-Qur’an sampai 30 juz.

Untuk profil lengkap, silahkan klik link berikut:

https://drive.google.com/file/d/1pDqC_gx6SlEgjMFNlmnI1kXjtnn-b_sV/view?usp=drivesdk

Kontributor: Suci Khoirunnisa (Santri PBSB, anggota CSSMoRA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *