Tirakat Dalam Dunia Pesantren

Oleh: Atssania Zahroh*

Ponpes (pondok pesantren) di Indonesia masih menjadi lembaga pendidikan islam yang dipilih para orang tua untuk putra putri mereka. Orang tua berharap putra putri mereka memahami agama, bukan sekedar materi dari kitab melainkan secara praktik.  Kita tahu bahwa pondok pesantren sudah berkembang sejak dulu di Indonesia, sekitar tahun 1595. Sehingga tidak sedikit pondok pesantren yang sudah berdiri di nusantara sampai saat ini.

Pengajaran kitab kuning tidak pernah terlepas dengan dunia pesantren. Selain itu, di pondok pesantren santri mengenal istilah-istilah yang kerap didengar seperti sorogan, bandongan, tirakatan dan sebagainya. Dari istilah-istilah tersebut, masih ditemui santri yang kurang paham arti kata tersebut apalagi orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren.

Santri sudah tidak asing dengan kata Tirakat. Tapi akan menjadi asing bagi sebagian santri yang bukan dari jawa. Suatu ketika santri dari padang sedang berbincang dengan santri dari jawa. Santri dari padang tersebut dengan terang bertanya apa sih tirakat itu?. Lain halnya di daerah sunda, santri yang di pesantren harus merih(hidup sederhana). Tirakat dan merih merupakan dua kata yang berbeda tapi memiliki makna sama.

Istilah tirakat dalam Ilmu Kejawen berarti suatu proses untuk menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani atau mencari ketenangan hidup yang sebenarnya. Secara sederhana tirakat dapat diartikan menahan hawa nafsu dengan mengorbankan kemewahan agar tercapai suatu harapan atau tujuan tertentu. Pengertian ini dapat dikiaskan dengan perilaku zuhud yang masih sulit diterapkan pada orang awam.

Seseorang yang melaksanakan puasa mutih termasuk dalam praktik tirakat. Puasa mutih adalah puasa yang  tidak boleh mengkonsumsi segala sesuatu  yang tidak tawar ketika sahur dan berbuka. Dengan pengorbanan semacam ini, orang tersebut yakin akan dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan hajat tertentu.

Tirakat di dunia pesantren identik dengan makanan. Mengapa demikian?. Santri yang mukim mau tidak mau makan makanan ala kadarnya yang disediakan dari pihak pondok. Mayoritas santri kurang suka dengan makanan pondok yang menurut mereka tidak ada rasanya. Kondisi inilah yang membuat santri harus menahan nafsu ingin makan yang lebih enak.

Dikalangan santri banyak dijumpai yang melaksankan puasa daud untuk Tirakatan, yaitu sehari pusa sehari tidak. Selain itu, ada juga santri mengolah nasi yang sudah tidak enak menjadi makanan yang bisa dikonsumsi kembali karena tirakatan. Tujuan dari praktik ini tidak lain hanya beribadah karena Allah dengan kesederhanaan.

Santri yang mondok di Tegalrejo belum bisa disebut “Anak Santri” jika belum melaksanakan Tirakat Ngrowot. Tirakat ngrowot yaitu tidak boleh memakan makanan yang dalam komposisinya terdapat nasi. Contoh tersebut menunjukkan bahwa tirakat adalah menahan hawa nafsu dari sesuatu yang disukai. Dengan keadaan dunia yang serba IT, umat diharapkan mampu menghadapi rintangan yang semakin berat dan cenderung menuruti hawa nafsu.

Zaman yang semakin canggih tidak membuat para santri yang tirakatan ragu dengan karomah atau kesaktian yang akan mereka dapat. Pasalnya mereka meniru tirakatan pak yai ketika beliau masih berjuang di pesantren dulu sebelum menjadi alim. Namun tidak heran, masyarakat sekarang menganggap irrasional mengenai hal tersebut. Akan tetapi perbedaan pendapat seperti ini adalah hal yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan.

Pada dasarnya anak yang mondok diajarkan hidup mandiri, bisa mengatur uang, waktu, dan menahan hawa nafsu terutama dalam hal makanan. Dengan sendirinya anak tersebut telah belajar tirakat setelah mukim di pesantren.

 

*Penulis adalah anggota aktif CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Tasawuf Psikoterapi

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *