Tasawuf : Obat terbaik adalah kembali pada-Nya

Oleh: Kamas Wahyu Amboro

Sering kita merasakan sebuah keresahan yang mendalam. Rasanya jalan kebahagiaan tertutup, tak ada cahaya solusi yang datang. Terjatuh dalam lubang kemaksiatan hanya membuat kebahagiaan sementara dan kebahagiaan palsu. Pada hakikatnya hati ini terasa sedih dengan keadaan tersebut.

Sebagai seorang manusia tentu kita akan mencari jalan yang indah tersebut. Ketahuilah kawan, satu-satunya jalan terbaik adalah kembali kepada-Nya. Yah, Dia yang telah menciptakan kita, Dia yang telah menghidupkan kita, membuat kita bisa melihat keindahan alam, mendengar kicauan burung, memiliki teman yang baik dan yang lainnya. Semua itu tak lain berasal dari Allah swt.

Rahmat-Nya begitu besar, kasih sayang-Nya tak terbatas. Dari Anas r.a., ia berkata, “saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah Ta’ala telah berfirman, ‘wahai anak Adam, sesungguhnya selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni apa (dosa) yang ada padamu, dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa kesalahan sebanyak isi bumi, tetapi engkau tidak menyukutukanku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula.” (H.R. At-Tirmidzi, dan ia berkata, “hadits hasan shahih)

Hadits di atas menunjukan betapa Rahmat Allah swt. Begitu besar kepada hamba-Nya. Untuk itu selagi kita memiliki nafas, sudah saatnya kita kembali kepada-Nya. Sudah sepatutnya bagi kita mencintai-Nya. Mencintai-Nya merupakan suatu kewajiban.

Bagaimana cara mencintai-Nya (?).

Mencintai-Nya dengan cara mengikuti sunnah yang dibawa nabi Muhammad saw. Jika kita tidak mengikuti ajaran dan sunnah nabi, namun dalam bibir berucap mencintai Allah swt. bisa dikatakan itu adalah cinta palsu. Cinta butuh pembuktian, dan pembuktiannya yaitu dengan mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Dalam keheningan do’a, dalam kekhusyukan  seorang hamba kepada Allah, dan ketaatan yang terus mengalir. Disitulah sebuah ketenangan hati akan muncul. Ada orang yang berlimpah harta berlimpah, tapi mati mengenaskan dengan bunuh diri. Karena hatinya kosong, hidupnya tak memiliki tujuan. Memahami arti kehidupan sangatlah penting.

Kehidupan ini tak lain hanya kesenangan yang menipu. Dunia ini tak lebih berharga dari sebelah saya lalat, dan jika ia lebih berharga tentu Allah swt. tak akan memberikan-Nya kepada orang kafir. Hal ini bukan berarti kita melupakan tugas kita di dunia. Karena Rasulullah saw. Juga menekankan dalam sabdanya, “Bukanlah yang paling baik di antara kamu yang minggalkan dunia untuk akhirat atau meninggalkan akhirat untuk dunia.” Hal tersebut menunjukan kita harus berusaha untuk mengambil bagian yang Allah berikan di dunia.

Jika kemarin-kemarin kita belum melaksakan solat. Maka pada saat ini, saat kita mendengar adzan marilah kita penuhi panggilan-Nya dengan bergegas menuju ke masjid. Setelah salam., kita angkat kedua tangan kita ke atas. Meminta ampunan atas segala dosa-dosa kita sembari mengingat berbagai jenis kemaksiatan dan kelalaian kita.

Ketika suatu saat kita terjatuh ke dalam jurang kemaksiatan kembali, maka segeralah kembali kepada-Nya. Jangan pernah berputus asa terhadap rahmat-Nya. Dan terus berusaha dalam mengarungi kehidupan ini untuk selalu melaksakan sunnah nabi saw. Menjauhi segala larangan-Nya. Insya Allah jika hal itu terus di upayakan kita berada di jalan yang indah, jalan yang lurus. Dan berada di jalan tersebut merupakan kebahagiaan yang hakiki.

 

By.Kamas Wahyu Amboro

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *