sastra

 
 

Puisi : Jika Kusaksikan Awan

Jika Kusaksikan Awan Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   menagih janji kepadamu di tengah awan gemawan yang ranum ialah serupa memasukkan labu ke lubang jarum sebab awan pandai ingkar pada janji hujan tentang tempat bidikan yang ingin segera dijilatinya   jika kusaksikan ia menepati janji selalu saja ada gemuruh mata berlinang luka berserat kenangan lama: semenderita Adam berpisah Hawa   hakekatnya, jika kusaksikan awan jantung doaku: mata kami berdua senantiasa berjumpa, paling tidak, di wajah purnama yang sama Atas Toren, 2017


Kepingan Yaumus Sa’ah

Kepingan Yaumus Sa’ah Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin bila aku mengadu pada getah rembulan yang menetes di lidah bintang gemintang sambil bergelayut manja, cemasku, semoga tak menelurkan tanya yang tentu tak pula menetaskan jawab. Sebab mereka hanya perlu abai pada manusia yang aniaya ini: bahkan pada dirinya sendiri. dan jika ranting mahoni yang memeram lara di siluet malam itu mengigau tentang Nabi Isa dan Dajjal, lantas kenapa aku musti gamang tuk menuduh bahwa Yakjuj-Makjuj itu jenaka namun berbisa? ah, lupakan saja, toh, api yaman kini sudah disemai oleh ratusan ludah dari kepalaRead More


Puisi: Riwayat Tega

Riwayat Tega Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   seonggok tikus terkapar mampus mungkin pembunuhnya sama dengan kriminal yang aniaya   tega memenggal leher-leher puisi yang tak indah tetapi gagah mengutuk kebiadaban dan berdarah kejujuran   para sastrawan tak piawai menyembunyikan borok negeri apalagi aibnya sendiri ketika puisi putus tepat di urat nadi maka, kita semua mati.   QQ , 2017


Puisi : Usai Doa

Usai  Doa Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   selesai menggumamkan doa semalam apa tujuanmu pagi ini? sederhana saja: kupikul cangkul ke sawah lalu istirahat di gubuk kayu berharap kekasihku menyeduhkan secangkir waktu untuk dinikmati bersama sambil berbincang dengan diri yang tlah lama sunyi   sampai lidah tak bergerak lagi.   Kembangsore, 2017


Puisi : Mabuk Kata

Mabuk Kata Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   relakan aku menjadi embun untuk tertelan angin lantas mengepalkan tangan merangkai awan gemawan   sebab telah kutemukan gumpalan kata bermakna juwita yang nyaris memaksa sakit jiwa   kemudian kata tiba di savana tergulung di dalam karung ditengguluk Pak Tua berjanggut merah untuk digadaikannya dengan sebenih harga diri yang tlah lama lenyap di wajah bumi   Andhita, 2017