Survei SMRC: ISIS Musuh Rakyat Indonesia, Muslim maupun non-Muslim

Aksi terorisme kembali terjadi di Indonesia. Yang teranyar terjadi di Jalan MH Thamrin beberapa saat lalu. Banyak yang menduga, jaringan teroris Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) berada di balik tragedi berdarah itu.

Bagaimana publik Indonesia memandang peristiwa terorisme? Apakah terorisme makin dianggap ancaman? Bagaimana pula persepsi masyarakat terhadap ISIS? Setujukah mereka dengan keberadaan ISIS di Indonesia? Apakah mereka setuju dengan apa yang diperjuangkan ISIS?

Berbagai pertanyaan itu yang dijawab dalam survei nasional terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang bertajuk “Terorisme dan ISIS di Indonesia, Pandangan dan Sikap Publik Nasional.”

Menurut Direktur Utama SMRC, Djayadi Hanan, survei ini menunjukkan 95,3 persen warga Indonesia yang tahu atau mengenal ISIS menolak keberadaan mereka di negeri ini. Hanya 0,3 persen warga yang menyatakan ISIS boleh didirikan di Indonesia. Mereka yang tahu atau pernah dengar ISIS sebanyak 61,9 persen.

Dari mereka yang tahu/kenal ISIS, lanjut dosen Universitas Paramadina ini, hampir seluruhnya (89,3 persen) menyatakan tidak setuju dengan apa yang diperjuangkan ISIS. Hanya 0,8 persen yang setuju dengan perjuangan ISIS.

Djayadi juga menyebutkan, hampir seluruhnya (89,0 persen) masyarakat yang tahu ISIS menganggap mereka adalah ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hanya 4,4 persen yang mengatakan bukan ancaman.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya menyadari keberadaan ISIS, namun pada saat yang sama tidak setuju dengan apa yang diperjuangkan ISIS. Mereka menganggap ISIS sebagai ancaman dan menolak kehadiran ISIS di Indonesia,” kata Djayadi saat merilis temuan survei ini (22/01/2016) di Jakarta.

Survei ini juga menunjukkan penolakan masyarakat terhadap ISIS, ketidaksetujuan mereka terhadap apa yang diperjuangkan ISIS, dan pernyataan bahwa ISIS ancaman bagi NKRI tersebar merata di semua kategori gender, desa-kota, umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, wilayah, etnis, dan agama. Di semua kelompok itu, yang menyatakan ISIS boleh didirikan di Indonesia pada umumnya hanya sekitar 0-2 persen.

“ISIS adalah musuh rakyat Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim, apapun etnisnya, apapun tingkatan pendidikannya, baik laki-laki maupun perempuan, apapun kelas sosial-ekonominya, di mana pun wilayah mereka tinggal,” ulasnya.

Kendati survei ini menunjukkan bahwa jumlah masyarakat Indonesia yang bersimpati pada ISIS lebih kecil, tapi dukungan terhadap ISIS itu memiliki kecenderungan lebih kuat di kalangan muda dibandingkan kelompok umur lainnya.

“Walau tetap rendah, terdapat 4 persen warga berusia 22-25 tahun dan 5 persen warga yang masih sekolah/kuliah yang mengenal ISIS dan menyatakan setuju dengan apa yang diperjuangkan ISIS. Sementara di kelompok lain angka itu hanya 0,1 persen,” jelasnya.

Temuan lainnya dalam survei ini, lebih banyak warga (30,7 persen) yang merasa bahwa negara semakin tidak aman dari ancaman teroris dibanding tahun lalu. Yang menyatakan negara semakin aman hanya 27,7 persen. Sisanya sama saja dengan tahun lalu (21,8 persen) dan tidak tahu atau tidak jawab (19,9 persen).

Hasil survei ini, menurut Djayadi, sejalan dengan temuan PEW Research Center pada musim semi 2015 lalu yang menunjukkan bahwa mayoritas warga di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim menolak dan memusuhi ISIS.

Survei ini dilakukan pada 10-20 Desember 2015 di seluruh provinsi Indonesia dengan 1220 responden. Mereka dipilih secara acak dengan metode multistage random sampling.

Survei ini dilakukan sebelum peristiwa bom di Jalan Thamrin. Karena itu, jelas Djayadi, belum menggambakan sentimen publik setelah tragedi berdarah itu.

“Sentimen permusuhan terhadap ISIS sudah kuat sejak sebelum bom di Thamrin. Kami memperkirakan, sentimen itu sekarang lebih kuat lagi,” pungkasnya. (madinaonline.com)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *