Stand-up Comedy: Laugh Therapy dan Kritik Sosial

Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin*

Barangkali, saya menaruh zhon bahwa kita masih ingat pada kalimat semacam jargon dalam acara hiburan komedi zadul yang satu ini: “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Ya, bukan suatu dosa jika kita akui acara yang satu itu menghibur lantaran kandungan humor kocaknya yang sarat tawa. Dan kali ini, bermunculan banyak hiburan jenaka sekaligus entertainer-nya yang tentu mengalami sedikit transformasi. Salah satunya adalah stand-up comedy.

Mari kita intip sekilas secara lintas zaman terlebih dahulu. Kita sebenarnya telah memiliki aneka ragam hiburan atau pertunjukan jenaka semacam itu. Sebut saja, umpamanya, ketoprak. Sandiwara tradisional Jawa yang sugih filosofi hidup. Belum lagi ludruk, kesenian khas Jawa Timur yang kebak dagelan dan kelakar itu. Namun, kemarakan kedua hiburan bernilai seni tersebut kelihatan mulai pudar daya magnetisnya. Masyarakat kini agaknya lebih tertarik memenuhi kebutuhan akan tawanya dengan stand-up comedy—yang meskipun juga terkandung nilai seni di dalamnya. Ini nyata terbukti oleh kelanggengan—untuk sementara ini—dan keramaiannya, baik di media internet maupun televisi.

Dalam fakta tersebut, sesobek hati saya ada yang bersyukur disertai kagum pada peningkatan kreativitas para komika yang relatif besar jumlahnya masih muda. Sementara satu sobek lainnya digondol pergi mantan, heuheu…(#abaikan)

 

Laugh Therapy

Sewaktu pura-pura tidur, saya pun bermimpi menyisipkan ‘kebutuhan akan tawa’ atau ‘kebutuhan akan humor’ secara khusus ke dalam hierarki kebutuhan cetusan Abraham Maslow. Akan saya letakkan tepat di bawah kebutuhan akan aktualisasi diri. Mungkin saja, arwah psikolog humanistik ini menyetujuinya di sana. Lantaran, menurut hemat saya, saking pentingnya tertawa itu dibutuhkan manusia—dalam kadar sewajarnya—sebagai alat pemikat makhluk bernama kebahagiaan agar datang ke sangkar dalam diri setiap orang.

Terutama telah jamak kita mafhum, bahwa tertawa sungguh menyenangkan. Paling tidak, menimbulkan kesan plong dalam dada masing-masing kita. Dan itu bukan seakan-akan kita terlepas dari beban yang semakin hari semakin canggih bin ruwet saja. Melainkan kita benar-benar terlepas darinya pada saat itu juga—pada saat tertawa. Jadi bukan seakan-akan.

Kebutuhan akan tawa dan humor, makin terasa dan kita sadari sejalan dengan bertambahnya permasalahan hidup yang ber-evolusi sedemikian rupa. Sebagaimana pernah ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, budayawan yang akrab disapa Cak Nun ini dalam bukunya berjudul Indonesia Bagian dari Desa Saya: “Humor dikukuhkan sebagai bagian atau dimensi dari kodrat manusia yang sejajar dengan aspek-aspek lainnya. Humor tidak lebih rendah dan sisi yang remeh dari kualitas manusia. Keadaan seolah-olah begitu menekan, mencekam, memepet, mengurung, menindih hingga pengap napas…”

Maka, tatkala rasa ketertekanan semua orang akibat masalahnya tengah memuncak, mereka—begitupun kita—tampak ingin mencuatkan sesuatu yang sekiranya mampu sekaligus ampuh dalam melegakan jiwa walau satu jenak saja. Yaitu tertawa sajalah. Ia tidak boleh tidak diizinkan untuk menjadi teman kita. Saat bahagia maupun susah. Tertawa juga mujarab sebagai obat atau terapi (laugh therapy) dalam segala lingkup hidup kita. Enaknya, ia terbebas dari embel-embel, strata, dan seluruh bentuk tetek-bengek dunia yang memuyengkan. Tak pandang anda orang apa, warna kulit apa, orang kelahiran mana dan keturunan siapa, tak melihat tingkat pendidikan terakhir anda, bahkan tak memandang anda punya pacar atau tidak. Ia menemani siapa saja yang mau berteman dengannya. Oleh karena itu, Anda dan saya tertawalah. Hahaha…

Rhonda Byrne pun sempat menceritakan kepada kita lewat buku fenomenalnya (The Secret), tentang kisah pribadi Cathy Goodman. Wanita yang telah didiagnosa terkena kanker payudara, namun ia memutuskan untuk tidak fokus pada penyakitnya. Wanita itu hanya ‘merasa sembuh’ dan dengan tanpa memikirkannya, ia menonton film-film lucu. Kemudian tertawa bersama-sama keluarga. Jadilah ia sembuh. Sebab, ketika tertawa, Cathy Goodman melepaskan semua negativitas dan melepaskan penyakit. Paralel dengan hukum tarik-menarik (kohesi), yaitu: ketika kita tertawa sembari muncul secuil kegembiraan dalam diri kita, maka ia akan memanggil bentuk-bentuk kegembiraan, keceriaan, keriangan lain ke dalam diri kita. Min haitsu la yahtasib. Secara tak terduga.

Otomatis, hal tersebut berfungsi juga buat kita. Boleh jadi lewat pertunjukan stand-up comedy yang kini sedang digandrungi, sanggup memancing tawa untuk kemudian mengundang teman-teman keceriaan yang lain dalam hidup. Sampai paling tidak, ia ‘membantu’ kita dan berbagi tugas menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang tadinya njelimet sekali. Sebab, dalam kegiatan tertawa itu sendiri, telah menjelma semacam auto-therapy—atau istilah lainnya ialah sistem imun—pada diri pribadi masing-masing. Apalagi, tema-tema yang diangkat oleh para komika (comic) atau stand-up komedian tak melambung jauh dari kehidupan sehari-hari.

Para komika yang kreatif itu lebih nyaman mengetengahkan hal-hal seputar kehidupan mereka. Tak jarang pula sambil diselipkannya kritik ke dalam materinya—kadangkala sesuai dan serasi dengan yang kita keluhkan.

 

Stand-Up Comedy sebagai Kritik Sosial

Apabila kita amati penampilan para komika dengan ciri khas masing-masing, akan mungkin dapat kita jumpai kritikan—untuk tidak menyebut keluhan—mereka sedemikian rapi terbungkus oleh kelucuan. Terlepas dari adanya komika yang menyuguhkan punch-line tipis dan tak sanggup memicu tawa penonton.

Usaha mereka dalam menghidangkan kritik berbungkus humor sungguh suatu kreativitas tersendiri. Di situlah letak seni stand-up comedy. Bahasa mesti sanggup menggelitik. Kata-kata dan kalimat-kalimat harus jitu membikin penonton terpingkal. Kepiawaian membungkus materi dan kritik dengan cara yang komedi inilah yang ditawarkan kepada penonton. Bahkan, tak jarang penonton merasa terwakili. Sekali lagi, terlepas dari adanya beberapa komika yang kelakarnya miss the target lantaran mereka trying to be funny di hadapan pemirsa.

Agar sedikit lebih lezat dicerna, saya sebut hanya beberapa contoh nama stendap komedian. Pertama, Abdur dari Lamakera. Ia berciri-khas membawakan materi  dengan logat atau dialek yang khas pula tentang Indonesia bagian Timur yang hingga kini belum dijangkau pemerataan oleh pemerintah. Kritikannya mengena, namun berhubung ini pertunjukan stand-up comedy, tentu dibumbui kekocakan. Setidaknya, unek-uneknya tersampaikan. Terlebih kepandaiannya menyusun sajak, misalnya tentang nahkoda kapal yang menggambarkan presiden kita dengan Indonesia sebagai kapalnya, dan cukup jago memakai rule of three sebagai senjata pentasnya menjadi nilai plus buat dirinya.

Kemudian, sebut saja yang baru-baru ini, Fajar Nugrah dari Bogor. Ia dikenal akan ‘pikiran nakal’-nya. Juga lantaran keistimewaan materi yang berbeda dari yang lain. Kerap dan rutin menyajikan materi tentang prostitusi yang ada di lingkungan rumahnya—sebagai bentuk kritik sosial—yang tepatnya berlokasi di Gang Semen, Puncak Bogor—monggo, seumpama ada yang minat observasi atau penelitian. Pun didukung oleh kemahiran non-verbal atau body language-nya, semakin memberikan kesan sekaligus mengaksentuasikan kritik Fajar yang terbungkus humor itu. Dan masih banyak komika yang bisa kita amati beserta ciri-khasnya sendiri-sendiri.

Pada intinya, dengan berkembang dan digemarinya kecambah hiburan baru stand-up comedy ini, tak ada salahnya kita bersyukur. Bahwa masih ada banyak wadah sekaligus ‘wahana’ yang bisa kita tumpangi dalam menyampaikan kritik dan melepaskan beban pundak sejenak. Terutama bagi generasi muda saat ini, termasuk juga saya sendiri pastinya—karena memang masih muda. Anda pula termasuk, tapi barangkali lho. Haha…[]

*penulis adalah anggota CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2013 jurusan Tasawuf Psikoterapi

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *