Spiritualitas Zaman E-dan

Oleh: Muhammad Zidni Nafi’

Apabila dihitung dengan sekala besar, nampaknya penganut agama Islam kian hari semakin bertambah populasinya. Setiap hari terdengar lantunan syahadat dari mulut orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai orang yang pasrah dan tunduk kepada Tuhan, sehingga mendapatkan gelar sebagai muslim. Jika dilihat dari data faktual, populasi muslim seluruh dunia yang sudah mencapai lebih dari 1 Miliar ini tidak akan membuat Islam menjadi runtuh, apalagi ‘gulung tikar’. Hanya saja, berbagai problem pasti akan selalu menghantui Islam dan penganutnya itu sendiri.

Islam –terutama orangnya— kini menjadi problem akut dalam masyarakat global. Ini mungkin problem klasik yang saat ini tidak sedikit ditemukan, orang Islam semakin menunjukkan paradoksitas dalam beragama. “Agama” yang diturunkan Tuhan untuk media manusia dalam membina kehidupannya sudah dieksploitasi sedemikian rupa, apalagi dalam agama Islam sendiri. Memang tidak sedikit ‘orang baik’ yang menunjukkan kesejatiannya dalam berislam. Hanya saja, orang Islam yang akan dipaparkan ini nanti sungguh jauh dari apa yang diharapkan oleh ajaran Islam itu sendiri.

 

Zaman Edan Laris Manis

Setiap zaman mempunyai ke’edan’annya masing-masing. Zaman edan dahulu dan sekarang bisa jadi sama, bisa jadi berbeda pula. Zaman edan muncul tentu tidak lepas dari pengaruh orang-orang beragama. Berbagai problem mengatasnamakan agama Islam tak henti-hentinya menghiasi berbagai tempat bertukar informasi; media cetak, media online, warung kopi, angkringan, pos ronda, sampai gedung-gedung orang berdasi.

Kita bisa lihat bersama, tatkala Islam menjadi komoditas yang laris manis di pasaran. Label-label agama yang dijadikan embel-embel produk, seperti bank syariah, pariwisata syariah, hijab syar’i, produk halal, kini menjadi lahan empuk untuk dikapiltalisasi. Suatu saat akan muncul obat syariah, minuman Islami, bahkan sekalian saja rok mini syar’i. Ini nampak sepele, tetapi sungguh kompleks bila diuraikan. Orang Islam sudah semakin tidak mudah membedakan baik-buruk, haqq-bathil, halal-haram.

 

Islam Mosok Begini?

“Allahu Akbar”, diteriakkan dengan lantang tidak hanya di atas sajadah yang berbaris. Kalimah thoyyibah tersebut kini semakin diinovasi sebagai ‘yel-yel’ di setiap pesta kampanye partai politik. Nampaknya bagus, tetapi amat disayangkan tatkala esensinya untuk menarik simpati.

Apalagi ini, mengatasnamakan membela agama Allah, tetapi perilakunya malah membela syetan. Pemukulan, pengusiran bahkan pembantaian dan pembunuhan kepada orang lain yang berbeda pendapat, menjadi konsumsi pahit masyarakat beragama saat ini. Hanya karena berbeda pendapat, bahkan karena salah paham atau memang pahamnya yang salah terhadap orang lain, sehingga keinginan untuk “menghakimi” sendiri pun tidak bisa dibendung.

Islam yang seharusnya menjadi taman untuk berbagi cinta kasih, kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan kini menjelma menjadi sebuah forum berdebat, arena perang politik untuk adu senjata, hingga dijadikan ‘payung hukum’ untuk mengalirkan darah-darah manusia yang mestinya harus dilindungi. Ini hanya secuil problem yang sangat vokal di telingi masyarakat, yang berimbas pada orang-orang baik dan suci, kurang terdengar atau memang sudah tidak didengar lagi kesejatiannya.

 

Rintihan Tidak Penting!

Entah dimana orang-orang baik dan suci tersebut? Apa mungkin masih sibuk menghitung deretan tasbih yang menghiasi istana Tuhannya. Jangan-jangan masih banyak agenda untuk membolak-balikan lembaran-lembaran kitab suci. Atau masih nyaman melantangkan suaranya di atas mimbar-mimbar yang berhiaskan sorban dan gamis? Yang jelas, ayam masih setia berkokok setiap pagi tiba.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana Islam yang katanya rahmatan lil alamin? Di mana orang Islam yang katanya selalu menjadi garda terdepan untuk menyuarakan kebenaran? Siapa berani untuk melakukan perubahan ini? Bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh orang Islam? Dan lalu sebenarnya kepada siapa rintihan ini kebingungan ini disampaikan?

Sebenarnya ini tidak harus dijawab, bisa jadi karena tidak layak bahkan tidak ada pentingnya menyuarakan rintihan ini. Sebab, ini hanya sebuah pertanyaan bodoh yang pada hakekatnya sudah diajarkan oleh Islam itu sendiri.

 

Hanya Berhenti Di Ritual

Banyak orang resah dengan keislamannya sendiri. Setiap hari jungkir balik menunaikan shalat wajib bahkan beserta yang sunnah-sunnah. Tidak sedikit yang hanya mendapatkan keringat, lalu mengering tak tersisa. Setiap tahun atau ketika waktunya tiba, zakat selalu dikeluarkan, meski terkadang ada rasa “tak tega” melepaskan nominal nishab zakatnya itu. Puasa pun begitu, ajang di mana melatih diri, menahan diri dan mengembangkan diri, kini ditambah pula disemarakkan dengan agenda berjamaah “melampiaskan nafsu” makan dan minum lantaran seharian ‘dilarang’ untuk melakukan hal itu.

Jamaah haji setiap tahun jumlah semakin bertambah, hingga tidak sedikit yang berkali-kali naik haji karena sudah menjadi momen rutinan untuk ‘rekreasi religi’, atau hanya sekedar kangen ingin selfie  di depan ka’bah yang monumental itu.

Shalat, zakat, puasa, haji dan ritual-ritual lainnya itu bukanlah tujuan, tetapi semua itu hanyalah media, saran atau jalan. Rugi, apabila orang hanya berhenti untuk menunaikan ritual-ritual tersebut. Atau hanya cukup puas sebagai bentuk menunaikan kewajiban saja. Barangkali ada lupa, bahwa ritual agama seperti itu sebagai ajang untuk bermetamorfosis, bagaimana jiwa, hati dan pikiran kita ‘digodok’ melalui intervensi pelafalan kalimat atau doa, gerakan-gerakan dan koneksi dengan sesama manusia serta alam semesta. Penggodokan ritual inilah yang nanti membuahkan benih-benih “spiritual” orang beragama.

 

Buat Apa Spiritual?

Spiritual mengandung kejernihan hati menyadari akan makna, nilai dan realitas kehidupan di dunia beserta isinya. Mengetahui apa sebenarnya maksud Tuhan menciptakan manusia dengan dibekali media yang dinamakan agama. Memahami kenapa harus ada ritual-ritual yang harus dijalani oleh umat beragama. Memaknai bagaimana nilai-nilai yang harus direfleksikan dalam perasaan, perilaku, pikiran dan tindakan.

Tak ada dimensi kehidupan yang tak bisa ditembus oleh ajaran agama. Baik buruk kehidupan, (orang) agama menjadi salah satu yang paling bertanggung jawab atas perubahan suatu zaman. Begitu pula agama, pemeluknya yang akan menentukan kesejatian baik-buruk ajaran agama. Dan kesejatian tersebut dapat menjadi kenyataan apabila ajaran agama dimaknai dalam berbagai ekspresi kehidupan.

Jangan heran apabila sekarang orang Islam yang melimpah ini belum tentu bisa menjanjikan “kebahagiaan” bagi diri mereka sendiri. Apalagi kebahagiaan merupakan puncak pencarian manusia, baik itu kebahagiaan dunia atau akhirat. Bisa jadi bagi sebagian orang, agama hanya KTP, agama hanya warisan, agama hanya kedok bagi orang atheis yang mencari aman, atau memang agama hanya tinggal nama, agama hanya ucapan yang tak lagi menjadi nafas bagi para pemeluknya.

 

Mencari Makna Zaman Edan

“Zaman edan” akan terus semakin edan. Zaman edan tak mungkin untuk menjadi waras lagi. Zaman edan akan selalu berkembang yang puncaknya menjadi zaman edan-edanan. Dan zaman edan akan selalu menggoda umat beragama untuk berbondong-bondong edan berjamaah. Namun di balik zaman edan dengan berbagai varian keedanannya, zaman edan mempunyai berbagai sisi menarik untuk dimaknai, meskipu memang sulit sebagaimana mencari sebutir gula yang tercampur gundukan pasir.

Banyak hal aneh yang bisa ditemukan di zaman edan, dan di antara yang paling langka ditemukan di zaman edan adalah kesadaran dan kejernihan hati dan pikiran manusia. Kesadaran dan kejernihan tersebut berusaha memandang sesuatu tidak hanya satu aspek, melihat sesuatu tidak hanya hitam dan putih, merasakan sesuatu tidak hanya manis dan pahit.

Zaman edan menuntut manusia untuk lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan hidup, apapun itu. Kehatian-hatian memaksa manusia agar tidak hanya menggunakan mata kepala dalam melihat fenomena, atau mengarahkan manusia agar tidak hanya menggunakan telinga untuk mendengar bisikan dan teriakan.

‘Teks-teks suci’ agama kini tidak selalu diperuntukkan untuk menyuarakan kebenaran, apalagi kemaslahatan untuk manusia. Di zaman edan, selalu ada ‘kepentingan’ dengan cara melontarkan dalil-dalil melalui berbagi dalih, kedok, dan interpretasi yang hanya melihat teks apa adanya dan memaksakan terhadap realitas, tanpa mendalami isi atau makna yang terkandung di dalamnya.

Membicarakan zaman edan memang bagaikan ‘orang edan’ yang mengatakan dirinya sebagai orang waras. Tak ada salahnya apabila orang edan belajar menemukan dan memiliki kesadaran dan kejernihan hati untuk berubah. Jika bukan berawal orang edan, lalu siapa lagi orang waras yang mau memikirkan keedanan zaman edan ini?

 

Penulis adalah santri alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua CSSMoRA Nasional 2016-2017.

 

Tulisan ini dimuat di Majalah Tebuireng Jombang, edisi 44, Mei-Juni 2016.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *