SELAMAT HARI SUMPAH (SERAPAH) PEMUDA

Oleh: M. Basyir Faiz Maimun Sholeh

(Layouter Majalah SARUNG, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2015)

 

Betapa indahnya ketika hari Sabtu di bulan Oktober 2017 ditutup dengan Hari Sumpah Pemuda. Siswa-siswa Sekolah Dasar (SD) dapat bermain lumpur senikmat-nikmatnya. Sementara para mahasiswa bisa berorasi sepuasnya, tanpa harus memikirkan absen perkuliahan yang ditinggalkannya. Dan, deretan remaja jaman now bisa mencari tempat yang sempurna untuk mencurahkan identitas hits mereka.

Terlepas dari aneka ragam itu, upacara masih tetap terlaksana. Setidaknya di halaman masing-masing instansi, perayaan paling “kuno” itu masih mampu berdiri di tengah injakan modernisasi. Meski memang kekhidmatan dalam pelaksanaannya mulai terasa bak bulu, begitu halus seakan tidak setegak zaman dahulu.

Sedikit membuka buku kenangan, sumpah pemuda sama sekali tidak pantas diacuhkan. Bahkan jika ia tidak meminta perhatian, perannya bukanlah perkara yang patut disepelekan. Betapa dalam pesan yang dibacakan pada ikrar 89 tahun yang lalu, yaitu:

Sumpah Pemuda

Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sejatinya teks di atas harus dihafal oleh segenap pemuda seantero nusantara. Sebagaimana pancasila, kata demi kata disusun begitu hati-hatinya demi menyampaikan pesan seutuh-utuhnya. Bukan suatu ketidakmungkinan jika di kemudian hari terdapat intervensi dari pihak yang ingin menerbangkan merah putih, melepaskannya meninggalkan tiang pengibarnya.

Indonesia adalah rumah bagi setiap darah dagingnya. Sejauh apapun mereka berkelana, tiada alasan untuk melupakan jalan pulang. Seperti Dewaruci, yang beberapa kali mengelilingi dunia dengan beberapa keistimewaannya di mata mancanegara, namun tetap kembali ke pinggiran pulau Jawa. Nusantara akan selalu menjadi surga bagi mereka yang tidak kehilangan jiwa kekeluargaannya.

Rasanya, sungguh sakit ketika negara lain mengakui budaya rakyat Indonesia sebagai milik mereka. Sayangnya, kepedihan itu tidak memberi kesadaran apa-apa. Bukannya, mulai melestarikan kembali budaya yang dunia anggap telah tiada, masyarakat justru semakin berpesta pora dengan gaya hidup eropa, amerika, korea, cina, dan arab wa akhwatuha. Situ sehat?

Pernahkah masyarakat berpikir bahwa Indonesia adalah negara terdamai sedunia? Pertanyaan ini tampaknya begitu berarti bila dipublikasikan di media masa kini, apalagi setelah merebaknya kasus Rohingya. Sungguh, bahkan dengan ribuan klan dalam tubuhnya, garuda tidak menggugurkan satu bulu pun ke permukaan benua. Itu tak lepas dari tetap sakralnya Bhinneka Tunggal Ika.

Masa muda adalah tempat terpenting untuk membentuk kerakter generasi penerus pejuang negara. Waktu tersebut merupakan fase terakhir dari berbolak-baliknya kepribadian manusia. Begitu garis pembatas telah terlewati, tak ada lagi yang bisa mengubahnya kecuali kekuatan sakti seperti jurus pembalik bumi. Pada akhirnya, hanya hidayah yang bisa mendatangkan keajaiban nyata.

Sumpah Pemuda Jaman Now        

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki lima indra. Yang memiliki lebih dari itu mungkin telah melebihi batas untuk disematkan dengan kata biasa. Sedangkan yang mempunyai tidak sampai sejumlah tersebut merupakan peringatan bagi selainnya.

Pribadi seorang hamba tak bisa lepas dari semua yang ditangkap oleh kelima indra mereka. Contoh yang paling jelas adalah gaya rambut. Setiap orang pasti menata tumpukan benang hitam di atas kepala mereka berdasarkan pengalaman penglihatan yang pernah didapatkan. Biasanya bentuk akhir lahir dari COPASUS, COpy PASte Ubah Sedikit.

Karena itulah, banyak leluhur yang meninggalkan wasiat untuk disampaikan dari masa ke masa. Sebab belum tentu di waktu yang lebih baru manusia akan sampai pada kesimpulan penting itu. Harkat, martabat, dan hakikat dari akhlak yang terpuji dijaga serta diwariskan oleh para penerus seumpama kiyai sampai nafas benar-benar terhenti.

Betapa beruntungnya masyarakat yang lahir di Indonesia. Mereka bisa menjalani kehidupan di lingkungan yang begitu syahdu dengan aneka kicauan merdu. Ikatan kekeluargaan terjalin begitu dalam. Bahkan jika keterkaitan darah tidak membuat sumringah, masih banyak kerabat lain yang dapat memberikan pengalaman indah. Setiap insan memang tidak bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, namun mereka bisa menentukan akan mati diiringi tangisan kalangan apa.

Ini sangat berbeda dengan rakyat eropa dan yang sebudaya. Kesuksesan seakan telah menjadi berhala yang harus disembah seumur hidup mereka. Bahkan jika mereka memeluk suatu agama, seringkali keberhasilan bisnis dan karir tetap menjadi permintaan utama. Tak ada yang dapat membuat bahagia selain memperoleh segunung harta dan menjadi tokoh ternama.

Maka bukanlah hal yang mengherankan bilamana banyak warga yang memilih untuk gantung diri. Itu tak lepas dari tidak terpenuhinya berbagai macam ambisi pribadi yang membuat mereka terhadap keluarga sendiri menjadi tidak peduli. Begitu berbeda dengan di Indonesia yang notabene berisikan segorombolan orang yang selalu memberikan perhatian terhadap sesama. Bahkan jika harus menjadi pengamen jalanan, selama masih ada hubungan kekerabatan, tak ada alasan untuk mengakhiri kehidupan.

Nah, inilah kemudian yang mengalami pergeseran di kalangan pemuda Indonesia masa kini. Hingar binar media membuat mereka terpana sampai seakan tak lagi memiliki mata. Gaya hidup mapan, tingginya kualitas penampilan, dan menjadi pusat perhatian telah menjadi tujuan sebelum kematian.

Pendidikan kini menjadi arena adu gengsi. Gelar dan penghargaan dijunjung begitu tinggi. Ke barat ke timur, mereka terus mencari pengetahuan. Rupiah demi rupiah disalurkan untuk mendatangkan bahan bacaan. Sangat baik sebenarnya, namun keliru pada akhirnya. Ilmu sekedar menjadi ilmu. Tak ada hikmah pada amal perbuatan, justru menjadi bibit kesombongan. Kampung halaman menjadi terlupakan, tiada lagi dianggap sebagai tempat untuk turun memberikan peran.

Awalnya kualitas pakaian yang dikenakan hanya diperjuangkan demi kenyamanan. Ternyata saat ini itu malah menjadi sebuah tolak ukur dari kepercayadirian. Akhirnya muncullah aneka ragam pelecehan, yang semula merupakan candaan akhirnya berubah menjadi penghinaan. Bahkan hanya pergi ke tempat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, tak sedikit dari mereka menempuhnya dengan motor Ninja yang telah diperbarui.

Kini semua orang bisa membagikan informasi dan pengetahuan. Yang asli maupun palsu, yang lama maupun baru, semua dapat membantu dalam menghancurkan impian-impian masa lalu. Intinya, mereka harus memperoleh nama di mata pembaca, penikmat, atau sejenisnya. Jika memang yang dituliskan harus melahirkan perpecahan, mereka takkan pernah memberikan setetes pun kepedulian.

Akhirnya semua jatuh pada satu kata, yakni “jomblo”. Kata ini tercipta dari rentetan peristiwa dan fenomena itu. Mereka yang gagal mendapat uluran tangan dari patung-patung kesuksesan, orang-orang menyebutnya dengan enam huruf tersebut.

Urutan kelahiran kata ini benar-benar sempurna. Pertama, pemuda-pemudi diberi keyakinan akan rukun iman yang ketujuh, yakni anak muda harus memiliki pacar. Kedua, untuk memperoleh pasangan harus mapan, baik itu dari luminositas, popularitas, cantikitas, maupun sebagainya. Ketiga, ketika sudah mendapat si doi, maka dia harus dipamerkan dengan diajak jalan-jalan. Keempat, jika perempuan yang diincar ternyata milik orang, bersiaplah melewati tikungan tajam. Jika kalian gagal, maka bersiaplah menerima label jomblo.

Kebanyakan orang hanya langsung masuk pada kata tersebut. Karena itulah mereka tidak mengerti betapa proses terciptanya membuat geleng-geleng kepala. Dosa terlupakan, orang tua terabaikan, harga diri tertanggalkan, maksiat menjadi sebuah kebanggaan. Rasa malu dan tanggung jawab kemudian musnah dari peradaban.

Kemudian terciptalah Sumpah Pemuda Jaman Now yang berbunyi:

Sumpah Pemuda

Demi kamu aku rela melakukan apapun

Sumpah dia cuma temenku

Aku janji gak akan ninggalin kamu

Kasihan rasanya melihat status “cinta” sebagai rasa penuh dengan noda. Ia yang begitu mulia turun begitu jauh derajatnya akibat digunakan untuk hal tidak boleh ada. Ketika kata tersebut telah kehilangan hakikatnya, dengan hidayah mana lagi manusia dapat menjadi dirinya yang sejujurnya?

Pemuda Indonesia memiliki rumah, identitas, dan silaturahmi yang terus dijaga sepanjang masa. Teknologi hanyalah benda yang tidak bernyawa. Kesuksesan hanyalah berhala. Negara di luar sana hanyalah rangkuman budaya. Apakah malaikat akan bertanya seberapa hits manusia di dunia?

   Wallahu a’lamu bish-showab…

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *