SEKOLAH ORGANISASI WUJUDKAN KADER INTERDISIPLINER

Malang, cssmora.org—CSSMoRA UIN Malang menyelenggarakan kegiatan Sekolah Organisasi (SO) bertemakan “Reaktualisasi Gerakan Santri Progresif, Wujudkan Kader Yang Interdisipliner”. Kegiatan berlangsung selama dua hari sejak Sabtu-Ahad (24-25/02) bertempat di Gedung Bahasa UIN Malang.

Sekolah Organisasi ini merupakan salah satu program kerja wajib Departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) yang tiap tahun dilaksanakan sebagai upaya pembentukan karakter anggota. Peserta Sekolah Organisasi ini adalah anggota aktif CSSMoRA UIN Malang, meskipun secara spesifik sasaran dari dilaksanakannya SO adalah Anggota Aktif angkatan 2016-2017.

Terdapat 5 materi pelatihan dalam SO ini. Materi tersebut membahas perihal Stadium General, Ideologi-ideologi besar dunia, Islam Teologi Pembebasan, Dinamika Gerakan Mahasiswa, dan CSSMoRA dalam pusaran perjuangan dan kepentingan. Secara garis besar SO ini bertujuan memberikan stimulus terhadap anggota CSSMoRA UIN Malang agar tertanam keyakinan dan komitmen terhadap dunia gerakan, serta membekali anggota dengan kemampuan-kemampuan praktis melalui pijakan teori dan pengetahuan.

Kegiatan ini dikomandoi Muh Ardiansyah Amran selaku Co Departemen PSDM. Amran mengatakan bahwa kegiatan ini berupaya melahirkan ide-ide dan gagasan untuk CSSMoRA.

“Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan intelektual keorganisasian kepada mahasiswa agar bisa melahirkan ide-ide dan gagasan yang nantinya akan ditransformasikan untuk CSSMoRA,”  ujarnya.

Acara ini menghadirkan para pemateri hebat. Sebagian besar pemateri berasal dari intra CSSMoRA UIN Malang yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, setiap pemateri diberikan reward sebagai bentuk terimakasih atas kehadiran dan kesediannya sebagai pemateri. Acara berjalan lancar dan ditutup oleh Ahmad Sirojun Nuha selaku master of ceremony.

“Saya suka materi pertama mengenai stadium general, hal yang sangat fundamental dibabat habis. Cukup mendasar dan sederhana, tapi kita sering mengacuhkan hal tersebut. Seorang mahasiswa penerima beasiswa santri berprestasi yang dituntut untuk menjadi akademisi, organisatoris yang berkarakter Qur’any, tentunya kita harus cerdas dalam menyikapi hal itu. Karena memang secara hak dan kewajiban berbeda dengan mahasiswa pada umunya,” ungkap Budi Cahyono selaku peserta sekolah organisasi.

“Ada satu tugas yang sebaiknya kita laksanakan pasca kegiatan SO, yaitu membuat ruang diskusi. Kita akan membedah buku dan pemikiran para tokoh yang dirasa mampu menjadi landasan teori dalam menganalisis problematika paling aktual,” paparnya lagi. (Sabila/LENSA 2017)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *