Santri Lebih Pantas Dominasi Konten Keagamaan di Internet

santri-berinternet

Surabaya – Selain dampak positif, kecanggihan teknologi berupa internet juga membawa dampak tak sehat bagi cara berpikir keagamaan masyarakat. Pola belajar keislaman yang instan dan asal telan dari dunia maya dapat membentuk sikap anti-perbedaan pendapat dan perilaku tak ramah terhadap sesama ketika mayoritas isi disesaki materi dari kelompok garis keras.

Pandangan ini muncul  dalam Sarasehan dan Buka Bersama Pustekkom yang dihelat di Pondok Pesantren Al-Jawi Surabaya, Jumat (10/7). Acara bertema “Kebangkitan Santri di Dunia IT” ini dihadiri sejumlah narasumber, antara lain HM. Hasan Chabibie dari Pustekkom, Rizal Mumazziq Zionis dari Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN NU) Jatim, dan Abdulloh Hamid dari Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja.

Rizal mencontohkan, kini telah marak fenomena masyarakat belajar agama melalui Youtube dan media sosial seperti facebook dan twitter. Menurutnya, ketika menyangkut kajian agama, konsultasi halal-haram, bahkan sampai pada persoalan akidah-teologi, maka belajar secara instan di dunia maya sangatlah riskan dan sering kali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Baginya, mengaji domain agama tanpa sanad yang jelas dan sahih, dengan tempo yang sesingkat-singkatnya adalah efek paling mengerikan dari tumbuhnya teknologi informasi. Belajar agama mestinya melalui para pakarnya seperti kiai-kiai di berbagai pondok pesantren, yang jelas-jelas memiliki kualifikasi dan bahkan “ijazah” kelimuan di bidangnya.

“Kalau kita cari kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah di Youtube, maka gak bakal ketemu. Tapi kalau kita cari kitab-kitabnya Wahabi, maka langsung bertebaran,” papar pemateri pertama ini dengan berapi-api.

Rizal mengakui, konten keagamaan di dunia maya masih didominasi situs milik kelompok garis keras. Karena, perangkat-perangkat tersebut digerakkan oleh kalangan mereka yang memang banyak dari kampus-kampus umum dan melek teknologi.

“Kita sesungguhnya lebih pantas menulis tentang kajian-kajian agama ketimbang mereka. Mereka baru belajar soal agama sudah begitu PD-nya. Nah, kita yang sudah bertahun-tahun belajar di pesantren malah belum berani berbuat apa-apa. Karena itulah, acara Sarasehan Kebangkitan Santri ini menjadi darurat untuk terus digalakkan,” tambah dosen IAIN Jember ini.

Hasan Chabibie dari Pustekkom menambahkan, kaum santri memiliki tanggung jawab untuk melakukan tanding wacana serta program yang lebih manusiawi, tidak mekanis, dan tentu saja berdimensi spiritual yang sakral. Menurutnya, santri yang baginya masih dalam zona nyaman di menara gading keilmuan pesantren harus turun gunung ikut mewarnai, menulis dan meramaikan konten di dunia maya dengan tulisan-tulisan yang berkualitas.

Ia juga menekankan tentang pentingnya kemasan yang dapat memikat masyarakat luas agar konten yang dibuat lebih diminati. Hasan lalu menyinggung soal program stasiun televisi yang menyelenggarakan audisi tahfidz dengan kemasan menarik.

“Padahal pondok pesantren merupakan gudangnya tahfidz seperti pondok pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus yang di bawah Yayasan Arwaniyah. Karena kita kalah dalam mengemas ke media, maka para santri saatnya berfikir kreatif  di dalam media sekarang, mulai merencanakan, mengolah bahan, dan menyajikan dengan sajian yang menarik,” jelasnya. (nu.or.id)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *