Santri, Jangan Lemah Literasi

oleh: Khairul Amin

Urgensi Literasi

Literasi merupakan salah satu faktor penting pembangun peradaban, selain aspek ekonomi dan militer. Ketingggian literasi menujukkan indikasi kokohnya dan majunya keilmuan sebuah peradaban. Dalam Sejarah kehidupan manusia telah banyak lahir peradaban. Sejarawan terkemuka Arnold J.Tonybee dalam bukunya Mankind and Mother Earth : A Narrative History of The World menarasikan sejarah perjalanan umat manusia di berbagai peradaban. Dari sekian peradaban dari berbagai kawasan baik Eropa, Asia, Amerika, maupun Afrika kegiatan literasi mendapat perhatian sebagai bentuk kemajuan peradaban, disamping ketangguhan militer dan stabilitas ekonomi.

Begitupun peradaban Islam. Peristiwa diutusnya Rasulullah Muhammad Saw ke tanah Arab sebagai the last messenger of Allah atau the Last Prohet membawa sebuah paket Kesempurnaan Din Islam. Prof. Syed Naquib Al-Attas dalam karyanya Islam dan Sekularisme menjelaskan yang dimaksud kata “diin” bukan hanya dalam pengertian agama berupa millah yang berarti sekedar ritual ibadah dan kepercayaan. Namun lebih jauh lagi “diin” ialah sebuah paket besar berupa peradaban. Jadi agama dan peradaban sekaligus. Risalah yang rahmat lil ‘alamin, revolusi besar dalam keilmuan, sosial, dan ekonomi bagi umat manusia.

Hadirnya Islam sebagai sebuah risalah peradaban, dimulai dengan timbulnya tradisi keilmuan yang didasari pula oleh wahyu. Pun wahyu pertama Q.S A-Alaq: 1-5 membawa risalah besar keilmuan. Membaca dihadirkan sebagai aktivitas pertama dalam Al-Qur’an. Urgensi membaca begitu vital bagi manusia. Membaca lekat dengan ilmu dan pengetahuan. Membaca apapun, baik kitab suci, alam semesta, keadaan sosial maupun literatur. Membaca disini tidak dimaknai sekedar membaca dalam artian pasif namun aktif-reaktif. Aktivitas inilah yang menjadi sandaran perkembangan keilmuan. Lebih jauh perkembangan peradaban.

Tradisi literasi dalam Islam dapat dilacak sejak wahyu ditulis pada masa kenabian. Kegiatan tulis menulis yang asing bagi bangsa Arab, dihidupkan pada masa kenabian. Disinilah historiografi Islam dimulai. Pada mulanya, Lahirlah banyak penulis wahyu, diantaranya Zaid Ibn Tsabit. Selanjutnya proses tradisi literasi ini mengalami perkembangan dalam berbagai bidang keilmuan Islam, seperti hadits, fiqh, tasawuf, ilmu kalam, dan sains. Tradisi ini disebut juga tadwin atau pembukuan. Sejak masa sahabat hingga masa ulama muta’akhirrin tradisi ini meningkat dan mencapai kejayaanya, diantaranya  pada masa Dinasti Abbasiyah di Irak, dan Dinasti Umayyah di Andalusia. Pada masa itu munculllah para ulama, cendikiawan, saintis muslim yang masyhur dan berpengaruh hingga hari ini.

Santri, literasi, dan kebangkitan Peradaban Islam

Sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyyah di Irak dan Dinasti Umayyah di Andalusia, umat Islam mulai dilanda kemunduran literasi. Peradaban Islam yang muncul dan jaya setelahnya lebih bercorak militer, seperti Turki ‘Utsmani, Ottoman, Mughal, dan Syafawi. Walapun pada hakikatnya tradisi itu masih hidup namun keaadanya pada kondisi lemah.

Begitupun di bumi nusantara. Sekitar abad 16-17 M, literasi dikalangan umat Islam Indonesia berkembang begitu pesat. Kalangan ulama begitu produktif dalam hal penggadaan literatur keilmuan bagi kaum muslimin. Kegiatan transfer of knowledge tidak cukup disampaikan secara lisan namun juga disajikan lewat tulisan-tulisan. Diantaranya berupa kitab tafsir, fiqh, hadits, dan lain-lain. Namun hari ini didapati hal tersebut mengalami penurunan. Generasi muda muslim mulai terlihat kehilangan gairah keilmuan, diantaranya lemah literasi.

Santri (pelajar Islam) sebagai salah satu pemegang estafet peradaban Islam hari ini pun dilanda kefuturan literasi. Hari ini karya-karya literatur para cendekiawan dan ulama muslim terdengar agak asing dikalangan para santri. Kegiatan keilmuan berputar-putar hanya dalam jajaran literatur dalam ruang lingkup terbatas. Keluasan keilmuan terbatasi dengan hanya beberapa literatur tertentu saja. Gawatnya permasalahan ini kadang tidak disadari oleh para santri. Akhirnya banyak para santri terjebak sekedar dalam perdebatan khilafiyah yang tak kunjung usai, pun sudah dibahas dan terselesaikan pada masa-masa sebelumnya.

Lebih parah lagi literatur keilmuan sains, mungkin jarang tersentuh. Padahal keilmuan Islam yang bersifat integral mengajurkan kaum muslimin memperluas wawasan baik pengetahuan umum dan agama. Bahkan pada masa keemasan literature Islam, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Ilmu di dalam Islam terbagi menjadi 2, yaitu ilmu wajib ‘ain (ulum al-din) dan kifayah (ulum al-aam). Tidak ada yang sunnah apalagi mubah. Maka keniscayaan kebutuhan literasi begitu dibutuhkan dan telah diproklamirkan oleh Islam urgensinya.

Melihat kondisi terkini, kefuturan literasi begitu tinggi ditandai dengan lemahnya aktivitas membaca. Kegiatan membaca sendiri merupakan sebuah syarat utama terjadinya aktivitas keilmuan yang menghasilkan literatur. Sebuah adagium yang masyhur menjelaskan bahwa “Sebaik-baik teman duduk sepanjang masa ialah buku”. Mungkin pepatah ini mulai berubah mejadi “sebaik-baik teman duduk sepanjang masa ialah gadget”.  Well, bagi para santri penerus api peradaban mulailah meningkatkan kegiatan literasi dimulai dengan membaca, membahas keilmuan lalu membuat karya.

Santri, hidupkanlah kembali api literasi

Santri dengan cakrawala pengetahuan dan pengetahun luas mutlak diperlukan untuk kebangkitan peradaban Islam. Lalu mengapa santri? Karena santri memiliki lekat identitas ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Semoga para santri dapat kembali menghidupkan kemajuan literasi Islam dalam rangka membangkitkan perabadan.

 

Penulis adalah mahasiswa aktif UIN Sunan Kalijaga dan anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Facebook Comments





One Comment to Santri, Jangan Lemah Literasi

  1. Kang Mujib berkata:

    Tulisannya sangat bagus, sudah saatnya santri menulis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *