Santri dan Pendidikan Berkualitas

Oleh: Nazaruddin 

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke khususnya kaum santri baru saja memperingati hari santri nasional perdana, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 2015. Setelahterjadi pro-kontra dalam penetapannya. Penetapan hari tersebut tidak serta-merta tanpa alasan atau terjadi secara kebetulan, melainkan ada dorongan tertentu dalam mengupayakan eksistensi santri sebagai insan berpengaruh di bumi Indonesia.Baik dalam masa kolonial ketika mempertahankan NKRI maupun pasca kemerdekaan. Sesuai prinsip yang diwariskan oleh para leluhurnyahubbul wathan min al-iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Secara kuantitas, diperkirakan jumlah santri di Indonesia saat ini lebih dari 3,65juta yang tersebar di 25.000 pondok pesantren.[1]Ini merupakan bukti bahwa proses kehidupan dalam ranah santri masih menjadi dambaan banyak orang, sehingga banyak orang tua yang mempercayakan pesantren (tempat berlabuh para santri) sebagai tempat penggemblengan pendidikan anaknya.

Filosofi “Latihan“ dalam proses pendidikan yang berkualitas

Pada era modern, ukuran kesuksesan seseorang tidak lagi diukur dengan kecerdasan intelektual (IQ), berapa pun IQ-nya, bahkan di bawah standar sekalipun, jika ia berminat untuk latihan (force to change), maka destinasi akan semakin mendekati harapan, dalam artian ia akan mudah menggapai cita-cita. Sebuah penelitian membuktikan bahwa pernah seorang profesor mencari seorang yang paling kurang mengenal dunia baca-tulis di Indonesia, ia mencarinya ke wilayah terpencil bagian timur, tepatnya papua dan menemukan seorang anak yang tidak berwawasan sama sekali. Sang profesor bertekad untuk melatihnya terkait disiplin ilmu fisika, setelah beberapa kurun waktu, ia diikutsertakan dalam olimpiade fisika tingkat international dan berhasil menyabet peringkat pertama. Inilah yang dimaksud penulis bahwa konsep latihan mengalahkan orang yang terkadang sudah ahli, namun ia tidak berlatih lagi. Dalam contoh lain misalnya, umat Islam wajib berpuasa selama sebulan daridua belas bulan dalam setahun. Timbul pertanyaan mengapa waktunya sebulan? Terlepas dari unsur teologis,hal demikian merupakan latihan dalam memerangi hawa nafsu atau upaya taubat massal, sehingga segala kekhilafan dapat diminimalisir. Dan masih banyak lagi contoh yang membuktikan bahwa konsep latihan(widely meaning) merupakan kunci utama dalam mencapai kesuksesan.

Pola pendidikan yang berpijak pada konsep latihan demikian, telah diterapkan di dunia santri, mereka dilatih dari bangun tidur bersama, berjama’ah, mengaji baik dengan metode sorogan, bandongan dan lainnya, makan, mandi, olahraga, belajar sampai tidur lagi, semuanya dilakukan secara kolektif. Rutinitas tersebut akan membantu proses kedewasaan santri, mengikis sikap individualisme, sehingga sikap saling membantu antar-sesama (social approach) tumbuh dari diri seorang santri.Selain kedisiplinan yang membentuk kepribadian santri, mereka juga diimbangi kemampuan analisis intelektual (kecerdasan otak), emosional (kecerdasan moral), dan spiritual (kecerdasan religius).

Banyak sekolah yang belum bisa balance dalam ketiga hal tersebut, sehingga menghasilkan produk yang jauh dari harapan, misalnya anak yang mahir intelektualnya saja, sehingga ketika ia gagal dalam suatu kesempatan, maka tidak menutup kemungkinan ia akan melakukan tindakan negatif, seperti depresi bahkan bunuh diri, dikarenakan pengabaian aspek moral dan spiritual.

Pendidikan berkualitas dimaksud adalah bagaimana seorang pendidik, dalam hal ini boleh jadi ustaz/ah, kiai (sebutan guru agama untuk wilayah jawa timur dan tengah), teungku (sebutan guru agama untuk wilayah Aceh), tuan guru (wilayah NTB), gurutta (sulawesi), ajengan( jawa barat)dan lain sebagainya atau bahkan santri senior dapat bersinergi secara optimal dengan peserta didik (santri). Pendidikan sehari semalam penuh dalam dunia pesantren dengan batas waktu yang relatif, serta hubungan ustaz-santri yang tidak pernah putus adalah implementasi dari ajaran nabi yang menekankan keharusan mencari ilmu dari bayi sampai mati, uthlubul ilma minal mahdi ila al-lahdi.[2] Selama 24 jam, santri akan berinteraksi dengan lingkungan khususnya dengan para pendidik kurang lebih dalam kurun waktu enam tahun atau minimal 3 tahun, waktu yang tidak terlalu lama, namun memilki pengaruh besar, sehingga hal demikian akan memunculkan generasi emas yang berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam ahlussunnah wal jama’ah (bagian pertama ikrar santri Indonesia).

Hubungan antara pengajar dan pelajar dalam dunia pesantren tidak selalu seperti hubungan antara guru dan murid di sekolah-sekolah formal, tetapi lebih seperti hubungan antara orangtua dan anak dalam suatu keluarga yang harmonis, proses belajar-mengajar berlangsung dalam suasana yang akrab dan tidak kaku, namun dengan menjunjung tinggi rasa hormat pada guru.[3] Dari sisi pembinaan karakter individual, pesantren mengajarkan sikap hemat dan hidup sederhana yang jauh dari sifat konsumtif. Materrialisme dinilai tidak setara dengan nilai keswadayaan dan kesederhanaan dalam hidup keseharian pesantren.[4]Hal ini sesuai dengan semboyan yang terkenal di kalangan para santri “ apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan, semuanya adalah pendidikan”.

Peran santri dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia

Dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa pada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[5] Hal ini jelas-jelas memasukkan pesantren sebagai salah satu sub sistem dari sistem pendidikan nasional.

Di Indonesia, sampai saat ini sistem pendidikan masih jauh dari harapan. Kejumudan yang terjadi dalam proses pendidikan boleh jadi diakibatkan oleh formalitas yang terkadang mengabaikan keseimbangan antara nilai-nilai intelektual, emosional dan spiritual. Misalnya, peserta didik dituntut untuk meraih prestasi puncak dengan penilaian/ukuran angka atau huruf saja. Tanpa melirik pada aspek-aspek yang berada di sekitarnya, seperti kehidupan sosial dan sebagainya. Sehingga mereka secara dominan “kering rasa memiliki” (sense of belonging). Berbeda dengan santri yang bermarkas di pesantren (baca: Jawa). Mereka identik dengan masyarakat, karena masyarakat menjadi basis pengabdian santri.

Secara keilmuwan, komunitas santri memiliki tradisi keilmuwan yang kuat, terutama dalam bidang bahasa dan ushul fiqh. Terlepas dari bermacam corak bentuk pesantren, satu hal yang berlaku umum di kalangan santri adalah pentingnya pengajaran ilmu bahasa. Hampir semua pesantren menitikberatkan aspek ini. Dalam tradisi Islam bahasa adalah kunci khazanah keislaman.[6]Memahami bahasa dengan baik adalah jembatan untuk memahami peradaban Islam.Dengan ungkapan lain, memahami bahasa mempermudah pembaca memahami teks, baik secara literal, allegorical, moral atau bahkan spiritual. Biasanya orang yang menghafal dan memahami kitab bahasa, baik al-jurmiya, al-imrithy, al-fiya ibnu malik, al-I’jaz maupun nahjul balaghah, kecil kemungkinan untuk memahami agama secara radikal, dkarenakan kelenturan dan keindahan bahasa telah mempengaruhi kelenturan dan keindahan sebuah pemahaman.[7]Radikalisme biasanya muncul ketika ilmu periwayatan mulai mengambil alih tradisi kebahasaan. Utamanya ketika berkembang tradisi riwayah, sehingga aspek keabsahan sebuah pesan tidak lagi merujuk pada substansi (matan) sebuah teks, melainkan hanya merujuk pada mata rantai penukilan teks.[8]

Selain aspek bahasa, santri juga mempunyai tradisi penalaran filsafat hukum, yang dikenal dengan ushul fiqh. Di sinilah letak fleksibilitas kaum santri sehingga tidak mudah saling menyalahkan sesama kelompok yang berbeda ideologi. Tradisi ini merupakan paradigma universal untuk menghindari dominasi pandangan literal-tekstual, artinya teks tidak hanya mempunyai makna secara struktur bahasa saja, meminjam istilah Syahrur yang mengatakan bahwa al-nasshu tsabit wa al-muhtawa mutaharrikun (the text is permanent, context is move),kurang lebih artinya “teks tetap sedangkan konteks berubah“ tetapi juga mempunyai tujuan-tujuan umum yang mempunyai spirit kemanusiaan, keadilan dan kedamaian yang bersifat rahmatan lil-alamin.

Dengan kedua tradisi di atas, terlihat jelas bahwa pendidikan di dunia santri memiliki sisi ontologis yang dapat dijadikan sebagai alternatiflain dalam dunia pendidikan. Kedua hal ini pula yang kemudian menjadi jawaban terhadap tuduhan miring dari kelompok-kelompok tertentu yang menganggap bahwa pesantren merupakan sarangnya teroris. Dalam artian, dengan memahami betul konsep dasar tradisi pesantren tersebut, dapat menepis tuduhan atau kemunculan pemberontak-pemberotak anti-NKRI (baca: teroris).

Dalam hal ini, pesantren sebagai basis pendidikan Islam yang telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya Islam Indonesia, tentunya diharapkan dapat memberikan pembinaan moralitas generasi bangsa yang terbuka, egaliter, dan inklusif, jauh dari kecenderungan radikalisme dan fundamentalisme yang terbukti lebih banyak mudharatnya ketimbang maslahatnya. Pola pembelajaran yang diselenggarakan pesantren berdasarkan pada pengkajian kitab-kitab kuning sarat dengan keragaman pendapat dan perspektif para ulama klasik. Ini pada gilirannya membentuk paradigma pluralistik pada diri santri untuk menerima perbedaan dan menyikapinya dengan jiwa yang besar.[9]

Faktamenunjukkan bahwa pesantren di Indonesia berhasil melakukan adaptasi dengan perubahan lingkungannya. Kiprah komunitasnya seiring dengan tuntutan zaman, sesuatu yang berbeda dengan system pendidikan islam di beberapa tempat (madrasah di Pakistan, di malysia). Dinamika mereka ditopang dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, yang peduli terhadap perkembangan pesantren. Beberapa pengamat pesantren melihat sebagai keberhasilan pesantren dalam menghadapi tekanan luar, baik dari negara, masyarakat maupun global. Karl steenbrink dan zamakhsyari Dhofier memandang dinamika komunitas pesantren dipengaruhi beberapa aspek, yaitu sistem nilai pendidikannya yang fleksibel, kuatnya hubungan elemen tradisi pesantren dan kebebasan yang diberikan oleh negara terhadap pertumbuhan lembaga pendidikan Islam. Dinamika ini berlangsung sejak masa kolonial, dengan mulainya ulama melayu dan Arab.[10]

Uniknya, label santri pada diri seorang yang pernah berkiprah di dunia kesantrian, tertanam seumur hidup pada diri seseorang. Seperti halnya sebutan bangsa Indonesia yang terus melekat pada di kita seumur hidup (meskipun ada yang pindah kewarganegaraan)[11]. Santri tidak hanya menjadi sebutan bagi mereka yang sedang menempuh masa usia wajib belajar saja di pondok pesantren, namun makna santri lebih dari itu. Mahasiswa pun yang bergelut di dalam dunia pesantren disebut sebagai santri atau, atau bahkan mereka yang sudah berumur lanjut.Adapun pesantren mahasiswa, kalau saja serius terlibat secara intelektual dan emosional ke dalam dunia pesantren, maka yang beruntung bukan hanya pihak mahasiswa, namun juga tradisi keilmuwan yang di pesantren. Misalnya ketika mahasiswa di samping belajar agama juga menyumbangkan ilmunya dan berdialog kritis dengan kiai (baca: jawa), maka wawasan keilmuwan di pesantren akan melebar. Dengan kata lain, mahasiswa belajar agama dari kiai, sementara kiai bisa belajar dari tradisi liberal-intelektual dari dunia kampus, sehingga terjadi sinergi dan pemikiran sintetis.[12]

Pendidikan keagamaan bukan satu-satunya bentuk pendidikan yang diaplikasikan di dunia santri. Lebih dari itu, character building, leadership, entrepreneur dan pemberdayaan masyarakat juga menjadi titik tekan di dalamnya.Seperti yang disebutkan dalam beberapa penelitian berikut ini:

  1. Dewi (1990), yang meneliti perbedaan minat berwiraswasta antara siswa SMA Negeri pakem dan siswa pondok pesantren pabelan, menunjukkan kenyataan yang menarik. Ada perbedaan minat, siswa pondok pesantren ternyata memiliki minat berwiraswasta lebih tinggi.[13]
  2. Nurhayati (1996) yang meneliti penalaran moral pada remaja yang menempuh pendidikan di pesatren dan remaja yang menempuh pendidikan di sekolah umum (conventional), menemukan bahwa ada perbedaan di antara keduanya. Remaja yang menempuh pendidikan di pesantren (post conventional) ternyata memilki kemampuan yang lebih baik dalam membuat suatu keputusan yang menyangkut moral dalam menyelesaikan masalah.[14]

Satu hal yang diprioritaskan santri adalah soal etika sosial dan penguatan civil society. Terdapat beberapa contoh pesantren yang berhasil memberikan dampak pembangunan bagi masyarakat di sekitarnya, seperti pesantren agrobisnis al-ittifaq di ciwidey yang didirikan pada tanggal 1 februari 1934 oleh k.h. mansyur[15], pesantren al-amanah dengan peternakan ayam dan ikannya di cililin dan masih banyak lagi yang lain.[16]Maka dengan demikian pelibatan institusi pesantren dalam akselerasi pendidikan maupun pengembangan masyarakat bukan saja signifikan, tetapi sekaligus strategis.[17] Sehingga diharapkan para santri dapat memberi pengaruh pada masyarakat tentang m$akna pendidikan.

*Penulis adalah mahasiswa PBSB UIN Sunan Kalijaga angkatan 2013

 

[1] Ungkapan Kepala Pusat Pengembangan Penelitian dan Pendidikan Pelatihan Kementerian Agama H. Abdul Jamil dalam republika online (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/07/19/lokvps-di-indonesia-santri-ponpes-mencapai-365-juta) diakses hari sabtu 31/10/2015

[2] Said Abdullah Pesantren, Jatidiri Dan Pencerahan Masyarakat (Jakarta: Said Abdullah Institute Publishing, 2007) hlm. 38

[3] Said Abdullah. hlm. 34

[4] Said Abdullah hlm. 34

[5] Afifuddin Harisah, Pluralism Kaum Sarungan (Yogyakarta: Lembaga Ladang Kata, 2015). hlm 15

[6] Pernyataaan zuhairi misrawi yang dikutip oleh Said hlm. 56

[7]Said Abdullah Hlm. 57

[8]Said Abdullah hlm. 58

[9]Afifuddin Harisah, Pluralism Kaum Sarungan (Yogyakarta: Lembaga Ladang Kata, 2015). hlm. 15

[10]Afifuddin Harisah hlm. 16

[11] Ahmad Baso, Pesantren Studies (Jakarta: Pustaka Afid, 2012) hlm. 87

[12] Khoiruddin Bashori, Problem Psikologi Kaum Santri (Yogyakarta: Forum Kajian Budaya Dan Agama, 2003) hlm. 24

[13]Khoiruddin Bashori hlm. 8

[14] Khoiruddin Bashori hlm. 7

[15]Nur Dewi dkk, Pesantren Agobisnis (Jakarta: Direktorat Kelembagaan Agama Islam, 2004) hlm. 122

[16] Said a. hlm. 43

[17]Mastuki dkk,Manajemen Pondok Pesantren (Jakarta: Diva Pustaka, 2003) hlm. 20

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *