Santri CSSMoRA Dihimbau Selalu Waspada dengan Gerakan Khilafah

Bandung – Pergulatan pemikiran serta gerakan politik Islam yang menyerukan penegakan khilafah di Indonesia kian lama semakin gencar. Tak heran, apabila ada beberapa kalangan yang tergoda tawaran hidup sejahtera dengan sistem khilafah.

Padahal, menurut ketua Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) Nasional Muhammad Zidni Nafi’, gerakan yang menyerukan khilafah sebagai sistem negara itu hanya berkaca kenangan yang dianggap indah pada peradaban Islam di masa lalu. Di samping itu, mereka lupa dengan sejarah perjuangan merebut kemerdekaan sehingga melahirkan Pancasila sebagai dasar negara.

“Gerakan khilafah itu buta dengan realitas kebhinnekaan bangsa Indonesia. Mereka belum bisa move on dari sejarah serta dinamika bangsa dalam mengadapi problematika kekinian,” jelas santri alumni Pesantren Qudsiyyah Kudus itu, Rabu (1/06/2016).

Terutama anggota CSSMoRA, lanjut Zidni, mahasiswa yang berlatarbelakang santri haruslah paham sejarah bahwa dahulu bangsa Indonesia tidak dibangun melalui tangan-tangan umat Islam saja, tetapi agama-agama lain dengan beragam suku dan budaya juga ikut bertumpahdarah merebut dan membangun kemerdekaan Indonesia.

“Kiai-kiai kita dahulu mengajarkan pemahaman tentang kebhinnekaan, sehingga beliau-beliau tidak meminta Indonesia dibuat sistem negara Islam. Untuk itulah kiai kita dahulu menerima dan menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara,” tegasnya.

Zidni menghimbau kepada santri supaya tidak mencerna propaganda gerakan khilafah secara mentah, sehingga jangan sampai terbawa iming-iming untuk ikut menyuarakan apalagi bergabung dalam gerakan penegakan khilafah.

“Waspadalah wahai para santri, jangan hanya melihat iklan gerakan khilafah yang mengatasnamakan syariat Islam, tetapi cermati subtansi dan dampak propaganda mereka yang justru dapat memecah belah bangsa Indonesia, sebagaimana gejolak konflik di Timur-Tengah karena maraknya politisasi Islam,” pungkas mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu. (bph/kominfo)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *