SAMBUT HARI SANTRI, CSSMoRA LAUNCHING BUKU “SANTRI PEJUANG MIMPI”

Yogyakarta, cssmora.org—Hari  Santri Nasional kini ramai diperingati di berbagai tempat. Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo dikaitkan dengan Resolusi Jihad yang diumumkan oleh  Kiai Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Diharapkan hal ini dapat mengingatkan tentang semangat juang santri bagi Indonesia. Melalui semangat 22 Oktober itulah CSSMoRA menghimpun 22 kisah inspiratif dari pengabdian para santri. 22 kisah yang dipilih melalui Call for Story tersebut dibukukan dengan judul “Santri Pejuang Mimpi”.

CSSMoRA sebagai organisasi yang berisi santri Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementrian Agama RI merasa terdorong untuk menyebarkan kisah-kisah tersebut agar dapat menginspirasi lebih banyak santri untuk berprestasi. Selain kisah mengabdi di pondok pesantren, ada juga kisah perjuangan santri yang melanjutkan studi ke luar negeri.

Menyambut Hari Santri Nasional 2017, buku tersebut dilaunching oleh Annas Rolli Muchlisin selaku ketua umum CSSMoRA pada Ahad (22/10). Annas juga menuturkan bahwa buku tersebut bertujuan untuk merubah cara pandang masyarakat yang meremehkan santri.

“Buku Santri Pejuang Mimpi, dari judulnya kan mimpi ya, kita santri ya ingin memperjuangkan mimpi kita, salah satunya adalah merubah cara pandang masyarakat yang men-judge santri itu ndeso atau santri cuma bisa ngaji, setelah selesai pesantren nikah. Nah, kita ingin merubah pola pikir seperti itu akhirnya kita mengadakan call for story,  minta tulisan temen-temen alumni dan anggota aktif CSSMoRA. Ini ada 22 cerita, kenapa 22? karena bertepatan dengan hari santri,” tutur Annas yang juga merupakan Duta Santri Nasional 2016.

Launching buku tersebut termasuk dalam rangkaian kegiatan “Semarak Hari Santri Nasional 2017” yang diikuti anggota CSSMoRA dari Universitas Gadjah Mada dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Selain launching buku, sebelumnya juga diadakan dialog inspiratif bersama Duta Santri Nasional 2016, yaitu Annas dan  Eli Nuraini. Keduanya berbagi kisah tentang perjuangan meraih prestasi hingga dinobatkan sebagai duta santri.

“Bagi saya hari santri itu kembali pada sejarah, mengenang bakti para pendahulu,” ungkap Eli pada kegiatan yang diadakan di Teatrikal FISHUM UIN Sunan Kalijaga tersebut. (Ray)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *