Saatnya Santri Wujudkan Perubahan

Oleh: Zeed Hamdy Rukman

Sering sekali kita mendengar istilah “pengabdian” atau dalam kamus agama lebih dikenal dengan istilah “khidmah” (ketaatan dan kepatuhan dalam melaksanakan tugas). Jika dilihat dari arti umumnya bahwasanya pengabdiaan itu mengindikasikan suatu hal yang hina dalam artian menurunkan derajat. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi kaum santri. Ia beranggapan bahwasanya mengabdi itu merupakan salah satu aktivitas/usaha yang positif yang justru merubah dan mengangkat derajat seseorang menjadi manusia yang kamil (sempurna).

Pengabdian juga dapat diartikan sebagai suatu perbuatan baik yang berupa piemikiran, pendapat, ataupun tenaga sebagai bukti kesetiaan dan kasih sayang yang dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Selain itu, pengabdian terhadap masyarakat merupakan wujud untuk membentuk tali silaturahim kepada sesama di dalam kehidupan bersosial.

Budaya pengabdian merupakan wujud untuk membentuk rasa kepedulian terhadap sesama. Santri yang dalam hal ini diharap dapat menjalankan tugas-tugasnya sebagai kader agama yang mampu menciptakan rasa peduli terhadap sesama. Karenanya seorang santri yang telah terpupuk dan mengakar ajaran yang didapat di pesantren serta mengaktualisasikannya dalam bingkai ta’awanu ‘alal birri wat taqwa (saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa).

Kita juga sering mendengarkan istilah “SANTRI” bahwasanya santri itu memiliki kepanjangan yaitu (Siapkan, Amankan, Negeri, Tercinta, Indonesia = SANTRI). Maksud dari arti santri tersebut bahwasanya santri itu harus siap dalam artian menyiapkan segala sesuatu dalam berbagai hal baik itu dari segi ilmu agama, umum dan hal-hal yang dapat menyukseskan pengabdiannya. Kemudian dari kata “amankan” maksudnya santri itu harus memberikan rasa aman kepada masyarakat dengan menampilkan sikap sebagaimana mestinya yang tidak dipandang membuat resah masyarakat. Kemudian dari kata-kata terakhir yaitu “negeri tercinta indonesia” bahwasanya kita harus memiliki sikap nasionalisme dan patriotisme yang terpatri dalam lubuk hati yang paling dalam. Intinya kita sebagai santri harus ikhlas didalam menjalankan suatu pengabdian demi menciptakan generasi/penerus bangsa indonesia yang baik dan berakhlakul karimah.

Kita sebagai santri patutnya bangga karena kita berbeda dengan sekolah-sekolah umum yang lainnya. Di pesantren sendiri kita telah dibina dan diajarkan oleh ustadz dan ustadzah kita agar supaya kelak suatu saat nanti kita bisa menjadi seorang pemimpin yang berakhlaqul karimah yang bisa berguna bagi bangsa dan negara kita. Kita tidak pernah membayangkan pengorbanan seorang guru atau ustadz kita didalam membina dan menyalurkan ilmunya kepada kita semua. Mungkin sebagian dari kita ada yang mengeluh dan bahkan mengejek gurunya sendiri jikalau dirinya merasa tidak nyaman atau tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh gurunya. Namun hal itu membuat kita selalu su’udzon (berprasangka buruk) terhadap guru atau ustadz kita sendiri. Semua yang dilakukan oleh guru kita harus kita yakini dan percaya itu semua demi kebaikan kita sendiri.

Sering kita menemukan seorang guru atau ustadz yang menghabiskan sisa hidup dan waktunya hanya untuk mengabdikan dirinya di pondok, jika dipikir-pikir gaji seorang guru atau ustadz yang mengajar dipondok tidaklah seberapa, dibanding dengan gaji orang yang bekerja diluar. Mungkin sebagian dari guru tersebut ada yang berhenti mengajar karena gajinya yang tidak sesuai. Namun banyak guru-guru beranggapan bahwasanya ia mengabdi dipondok karena ia ikhlas, senang mengajar, dan cinta pada pondoknya sendiri. Demikian juga dengan kita, pasti kita akan mengalami hal yang serupa seperti seorang guru atau ustadz tersebut. Kita sangat beruntung, bagi santri yang mendapat beasiswa dari program kementrian agama karena kita bisa kuliah langsung disalah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di harapkan ketika lulus di Perguruan tinggi nantinya dapat mengabdi dengan ikhlas di masyarakat. Bentuk pengabdian tidak hanya dilakukan di lingkungan pesantren saja, namun kita juga bisa melakukan pengabdian di desa-desa pedalaman atau terpencil.

Kita bisa melihat contoh dari mahasantri yang telah lulus di perguruan tinggi, ia mengabdi di pondok. Tiap harinya ,dia selalu membantu ustadz dan ustadzahnya di dalam melakukan kegiatan bimbingan baik itu di dalam kelas maupun di asrama. Ia selalu aktif pada kegiatan-kegiatan di Pondok. Ia beranggapan bahwasanya “pengabdian itu merupakan suatu bentuk balas budi atau timbal balik seorang santri untuk pesantren yang telah membimbingnya selama ini dengan tujuan mencari berkah hidup dan ridho illahi dan tanpa mengharapkan gaji atau imbalan dari pesantren itu sendiri”. Tidak hanya itu, selain dia aktif di pondok ternyata ia sering berpartisipasi dan membantu masyarakat atau penduduk setempat. Misalkan mengadakan bimbingan mengaji, ceramah, dan lain sebagainya kepada masyarakat atau anak-anak yang minim akan pengetahuan tentang agama khususnya Al-Quran.

Kita juga dapat melihat jenis-jenis dan bentuk pengabdian , secara umum jenis pengabdian yang dapat dilakukan oleh santri adalah hal-hal yang mendukung dan memperkuat pengembangan dan pemberdayaan pondok pesantren. Diantaranya dapat berperan pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Tenaga pendidik dan kependidikan
  2. Pengelola unit usaha pondok pesantren
  3. Pengelola pengembangan Sumber Daya Manusia (Human Resources Management)
  4. Konsultan/Pendamping pengembangan dan pemberdayaan pondok pesantren
  5. Tenaga kesehatan (medis) di pondok pesantren
  6. Lembaga Swadaya Masyarakat yang dikembangkan oleh pondok pesantren.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melakukan perubahan besar bagi masyarakat dan pesantren kita. Kita bisa membuka kursusan atau bimbingan bagi masyarakat yang kurang mampu, selain itu kita juga bisa mengadakan lomba-lomba bagi masyarakat untuk menggali potensi-potensi masyarakat tersebut.

        Kita sebagai generasi muda dapat memulainya dari diri sendiri dan lingkungan. Banyak hal yang dapat dilakukan terkait pengabdian, salah satu sifat yang harus dimiliki adalah kita peka dengan hal-hal kecil di sekililing kita. Misalnya kita sebagai mahasantri yang kuliah diperkotaan, dapat melakukan banyak hal yang berkaitan dengan pengabdiaan seperti memberikan wawasan terhadap anak-anak jalanan di sekililing kampus, memberikan bimbingan mengaji dan lain sebagainya. Dengan seperti ini pengabdian dapat dimulai sejak dini dan yang terpenting adalah berasal dari diri pribadi. Karakter mahasantri sebagai salah satu pemuda harapan Bangsa yang berakhlaqul karimah adalah harus memiliki jiwa yang kuat didalam melakukan pengabdian kepada masyarakat. Dengan terbentuknya karakter pengabdian yang kuat maka Negara ini akan memiliki calon Pemimpin masa depan yang luar biasa. Tinggal bagaimana caranya kita sebagai santri dapat menyadari bahwasanya pengabdiaan itu penting. Dari hal tersebut kita dapat mewujudkan perubahan-perubahan dengan cara mengabdi kepada masyarakat. Yang terpenting adalah kita sebagai santri dapat mengoptimalkan dan mengimplementasikan pengabdiaan kita dengan ikhlas kepada masyarakat demi memajukan dan mencerdaskan bangsa dan negara kita dimasa yang akan datang.

Penulis adalah mahasiswa PBSB Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

 

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *