Resolusi Jihad Sang Munir

Oleh: Andi Sopran

Disebuah dinding  di tengah kota Malang, terpatri sebuah poster besar bergambar wajah Munir, dengan sebuah pesan yang sangat familiar: MENOLAK LUPA. Pesan yang dipenuhi makna bagi kita yang melupakannya.

Banyak yang merasa keberatan sekaligus merasa terbebani jika diajak mengenang Munir. Sebagian orang beranggapan mengenang Munir berarti harus menjadi Munir, berjuang meraih keadilan untuk orang lain, turun ke jalan menghadapi aparat, mengadvokasi korban pelanggaran HAM, dan rela mempertaruhkan nyawa melawan penguasa. Padahal tidak semua orang yang memiliki kegemaran serta kecintaan dalam bidang ini layaknya seorang Munir.

Sebagian orang juga mengira mengenang Munir berarti harus berbuat sesuatu agar senantiasa masyarakat selalu mengingat dan tidak lupa akan sosok munir. Menciptakan karya seni, Membuat suatu gerakan, atau bersikap kritis terhadap pemerintah, layaknya seperti sosok Munir terdahulu. Padahal tak semua orang memiliki waktu dan kemampuan menciptakan sebuah karya seni ataupun gerakan.

Mengenang Munir tidak harus menjadi pejuang keadilan seperti Munir. Mengenang Munir juga tidak selalu mengingatkan masyarakat tentang kasus Munir. Mengenang Munir dapat kita lakukan dengan cara yang mudah dan sederhana: meniru sosoknya , menjadi ada dan dikenang karena apa yang ia lakukan.

Ada karena membela

Jauh sebelum menjadi pejuang HAM, munir telah memperjuangkan keadilan sejak masih berada di bangku SMP. Saat itu ia sedang berjalan kaki bersama adiknya dan menemukan mayat tetangganya terbunuh di tusuk obeng. Ia shock  dan lari memberitahu tetangga-tetangganya yang lain. Semua orang datang dan mayat itu langsung di kubur. Tak ada kerabat korban yang datang dan korban dianggap tidak waras. Beberapa jam setelah itu ia bertemu kakaknya yang saat itu sudah SMA. Ia pun menceritakan kejadian yang baru saja ia alami kepada kakaknya. Kakaknya marah, “ kenapa kau nggak lapor polisi? Kau biarkan pembunuhan itu terjadi?”, sebagai anak kecil hal ini membuatnya takut dan bingung. Dia mengaku peristiwa itu menciptakan konflik psikologis bagi dirinya. Di suatu sisi ia takut, namun sisi lainnya ia ingin melapor karena dorongan kakaknya. Pada akhirnya ia memilih ke kantor polisi bersama adiknya dan melaporkan kesaksiannya kepada polisi. Tentu saja polisi kaget, ada dua anak kecil melaorkan kasus pembunuhan. Esoknya, berkat laporan darinya, polisi menangkap pelaku yang diduga pembunuhnya. Munir mengaku kejadian tersebut merupakan pendidikan yang menarik baginya. Nilai yang ia pelajari adalah kita tidak boleh membiarkan ada peristiwa pembunuhan dan membiarkan orang langsung menguburnya tanpa mencari keadilan.

Sejak saat itu ia mulai ingin membela keadilan walaupun pada awalnya tidak berjalan dengan baik. Seperti saat ia berkelahi untuk membela teman sekolah yang tak berbuat apapun namun di keroyok oleh suatu kelompok. Atau saat ia tergabung dalam HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) dan ke kampus membawa celurit untuk berkelahi dengan orang-orang yang anti-soeharto. Saat itu ia menganggap apa yang ia lakukan adalah perang agama atau resolusi jihad versi seorang Munir.

Ada karena melawan

“Aku kadang-kadang lebih memilih nggak punya teman dalam suatu keadaan, dikeroyok orang banyak untuk mempertahankan apa yang menurutku benar “- Munir

Pada tahun 1998, Munir mendapat telepon dari kantornya di LBH (lembaga Bantuan Hukum). Katanya ada yang mengaku temannya datang ke kantor dan kakinya pecah. Munir yang saat itu sedang bersama isterinya langsung lari ke kantor, ternyata ada dua orang yang kakinya pecah karena bom tanah tinggi dan keduanya anak PRD (Partai Rakyat Demokratik). Munir langsung mengambil keputusan untuk melindunginya. “ Aku nggak akan menyerahkan dia ke tentara walaupun tentara yang minta. Risikonya, ya aku bisa di tangkap,” kata Munir dalam sebuah wawancara. Padahal petinggi LBH yang lain bersikeras untuk menyerahkan anak PRD itu ke tentara. Mereka bertikai dan memutuskan adanya dealine kapan dua anak PRD itu harus keluar dari kantor.

Selama berhari-hari ia, isterinya, dan beberapa temanya yang setuju menyembunyikan kedua anak PRD ke dalam kantor LBH. Diluar gedung kantor ada koppassus yang sudah curiga di dalam kantor ada ke dua anak yang di umumkan lagi di cari oleh pemerintah. “stress aku,” kata Munir. Namun dengan keberanianya ia berhasil melindungi orang lain.

Atas perlawanan dan perjuanganya memebela para korban pelanggaran HAM, pada tahun 2015, namanya menjadi sebuah jalan di kota Deen Haag, Belanda. Jalan dengan nama dirinya di kelilingi dengan nama-nama pejuang HAM dunia lainnya, seperti Mahatma Gandhi dan Salvador Allende.

Ada Karena mencintai

Sosok Munir merupakan seorang yang sangat anti terhadap penindasan, hidupnya ia dedikasikan untuk membela para korban yang takut berbicara dan tak tahu apa yang harus mereka perbuat untuk memperjuangkan haknya. Dimanapun ia berusaha untuk membangkitkan keberanian di masyarakat. Ia mendidik orang di sekitarnya, wartawan, pedagang pasar dan para korban, masyarakat dapat merasakan cinta Munir terhadap keadilan dan menghormati atas segala yang ia lakukan. Sampai-sampai ketika seorang maling mengetahui bahwa motor curiannya milik Munir, motor itu dikembalikan. Bahkan seorang maling tak sampai hati mencuri motor dari seseorang yang dikenal memperjuangkan keadilan.

Kita di kenal karena apa?

Seperti Munir, ia ada karena membela, melawan dan mencintai. Bukan karena apa yang ia miliki atau apa yang ia kenakan. Menolak melupakan munir dapat diawali menjadi seperti dirinya. Seperti kita ada dan dikenal sebagai seorang santri yang sangat tekun membaca dan mengaktualisasikan diri, atau sebagai seorang mahasiswa yang peduli akan lingkungan sekitar, Munir merupakan orang hebat yang ada dan dikenang karena apa yang ia lakukan, resolusi jihad versi Munir adalah keadilan, walaupun ia dibunuh 12 tahun lamanya ia akan selalu ada dan dikenang sepanjang masa.

Penulis adalah mahasiswa PBSB jurusan Hukum Bisnis Syariah UIN maulana malik ibrahim Malang.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *