RESENSI BUKU : Aneka Pendekatan Studi Agama

Judul  : Aneka Pendekatan Studi Agama

(Judul Asli: Approaches to The Study of Religion)

Penulis            : Peter Connolly (editor)

Penerjemah    : Imam Khoiri

Penerbit          : LkiS Yogyakarta

Tahun             : Cetakan IV, 2012

Tebal              : xvi + 388 halaman

Peresensi        : M. Naufal Waliyuddin

 

“Sebuah Ancangan Spesialisasi Metodologis untuk Mahasiswa Religious Studies

Tidak ada perkara lain yang lebih sukar untuk didefinisikan

selain mendefinisikan agama.

-Prof. Mukti Ali-
(dalam buku Ilmu, Filsafat, dan Agama karya Endang Saefudin Anshari)

 

Ungkapan di atas menunjukkan kepada pembaca bahwa memang agama ialah suatu kajian yang paling sukar—terutama jika didefinisikan. Tidak berarti hal tersebut membuat Studi Agama-Agama (Religious Studies) menjadi sepi atau redup kajian tentangnya.

Justeru bertolak-belakang sama sekali; kajian keagamaan semakin gencar diperbincangkan, diteliti, dan diberdayakan sebagai sesuatu yang terus berkembang seiring zaman kehidupan manusia yang sarat persoalan-persoalan rumit dan penuh konflik. Serta inovasi demi inovasi baru dalam penyelidikan soal agama terlahir sedemikian rupa dengan beragam bentuk yang merupakan upaya menjawab komplikasi permasalahan yang timbul-tenggelam, terlebih lagi di era kekinian. Merambah mulai dari skala regional-lokal, Indonesia (nasional), sampai skala global-internasional.

Buku kompilasi makalah yang dibunga-rampaikan oleh Peter Connolly selaku editor sekaligus salah satu penulis di dalam Aneka Pendekatan Studi Agama ini, menyuguhkan beberapa jenis pendekatan yang dibutuhkan oleh para peneliti dan mahasiswa bidang Religious-Studies. Pada saat yang sama, buku ini juga menganjurkan para sarjana agama agar lebih fokus ke lokus secara linier dalam bidang agama kajiannya dengan mengkhususkan pada satu atau dua ‘pisau-bedah’ metodologi yang akan dipakai.

Mahasiswa sudah selayaknya memutuskan hal tersebut. Sementara pada buku ini, dimulai dari sebuah tujuan umum: membantu mahasiswa menentukan disiplin manakah yang paling menarik dan cocok sebagaimana mereka merefleksikan pilihan spesialisasi metodologis dalam mengkaji wilayah-wilayah tertentu pada agama manusia. (hlm. 13)

Secara garis-besar, buku ini merupakan produk dari penyederhanaan dan ujung dari sifat interdisiplin terhadap agama yang belakangan ini kian menunjukkan nyalanya setelah usai ‘ditenggelamkan’ dan dilibas oleh kekuatan ideologi dan ilmu pengetahuan. Dengan memaparkan beberapa pendekatan (approaches) yang terdiri; pendekatan antropologis, feminis, fenomenologis, filosofis, psikologis, sosiologis, dan terakhir teologis. Buku ini mencakupkan pula di dalamnya, pada keseluruhan bab, diawali oleh sajian historis pada setiap kerangka pendekatannya.

Hal demikian mempermudah pembaca dalam mendalami pokok persoalan serta asal-muasal kelahiran tiap pendekatan yang pada gilirannya nanti akan dijadikan dan mungkin dimodifikasi sebagai alat pengupas atau ‘pisau-bedah’ (lazimnya: pisau analisis) untuk menyelidiki apa-apa yang terkandung pada wilayah agama tertentu—sebagai target kajian para akademisi religious-studies.

***


Dalam “Pendekatan Antropologis”, prinsip pertama yang dikemukakan David N. Gellner pada makalahnya dalam buku ini, bahwa yang digunakannya untuk menganalisis agama bukanlah “antropologi-biologis” yang cenderung bersifat fisikal. Melainkan ia memakai “antropologi sosio-kultural”. Alasan akademiknya tidak lain dikarenakan antropologi biologis sekadar mengkaji manusia dalam lingkup fisik belaka. Sehingga menurutnya, lebih cocok antropologi yang kedua tadi dalam meneropong objek yang ingin dikaji.

Pembahasannya menjurus dan sistematis. David N. Gellner mengawali dengan menganalisis secara tajam mulai dari komparasi dua karya tokoh besar; Sir James Frazer dan Emile Durkheim, hingga ke pandangan masyhur Clifford Geertz selaku antropolog ternama. Kajian historis, karakteristik dan perdebatan dipaparkan segamblang mungkin untuk kemudian di setiap anasir isinya dikaitkan ke ranah kajian agama.

Sedangkan pada bab  Pendekatan Fenomenologis yang hampir mirip dengan pendekatan antropologi, Clive Erricker mencoba lebih secara hati-hati dalam menentukan standar-standar dan latar-belakang yang termuat dalam pendekatan ini sebelum digunakan sebagai pisau-analisis terhadap agama.

Kemudian pada domain Pendekatan Sosiologis, yang mengkaji agama dari sisi kehidupan sosial manusia—sebagai hasil dari perkumpulan antar individu sehingga membentuk kelompok, Michael S. Northcott sudah sejak semula mengingatkan kepada pembaca bahwa perlu untuk mengkhususkan fokus perhatian pendekatan ini yaitu pada interaksi antar agama termasuk para pemeluknya (dan secara garis besar: masyarakat).

Sosiologi yang sejak dahulu dijadikan approach dalam studi agama-agama—yang kelak bernama “sosiologi agama”—menempati posisi yang berbeda dengan pendekatan lainnya dikarenakan ruang lingkup serta objek formalnya berada pada titik interaksi agama dan masyarakat yang sarat dengan gejolak serta pasang-surutnya peradaban di suatu tempat tertentu.

Tidak mengherankan jika peran-peran studi sosiologi agama—yang dipengaruhi besar oleh paradigma-paradigma utama tradisi sosial dan refleksi atas realitas empiris dari organisasi dan perilaku keagamaan—sebagian menghasilkan pandangan bahwa agama adalah hanya merupakan bagian terpenting dari kecenderungan manusia melakukan eksternalisasi, dan membangun serta dunia sosial. Bahkan dikatakan pula pada makalah Michael S. Northcott tentang agama yang merupakan sarana signifikan untuk memperoleh legitimasi sosial atau world maintenance. (hlm. 289)

Sementara hal yang agak miris mendera Pendekatan Filosofis. Rob Fisher secara frontal dan berterus-terang bahwa pendekatan ini tengah mengalami “krisis identitas”. Barangkali terbilang suatu kewajaran yang lazim terjadi untuk takaran pendekatan yang memeras dengan porsi lebih kerja otak para peneliti. Sebab sudah menjadi syarat atau rukun filsafat; berwatak aktivitas berfikir spekulatif namun mendalam, yang pada konteks buku ini digunakan sebagai pendekatan dalam menyelidiki agama.

Jika dibandingkan dengan Pendekatan Psikologis, perbedaannya terdapat pada concern ciri khas yang dikajinya dalam meneliti agama. Psikologi agama, istilah ini sudah menjadi bidang yang relatif independen—dengan catatan kontekstual: tidak bergantung (independent) pada jenis psikologi lainnya. Titik tujuan pendekatan ini menyorot ke perilaku keagamaan sekaligus aspek impact psikis agama itu sendiri. Maka Peter Connolly yang menjadi pengulas pendekatan ini, memberikan catatan agar perlu dibedakan antara psychology of religion dengan religious psychology. (hlm. 193)

Apabila berlanjut kembali ke pendekatan lain, sebelum teologis, Pendekatan Feminis menekankan penggunaan aspek gender sebagai kategori analisis utamanya dalam menelusuri persoalan studi keagamaan. Meski tidak jarang menuai kesan lembut pada sisi pengupasannya, akan tetapi perspektif kritis feminis dapat teramati dan ditemukan pada gebrakannya dalam mengkritisi budaya “patriarki” yang sering lebih ditonjolkan sekaligus terkhususkan juga pada agama.

Sue Morgan bahkan secara ‘berani’ menjabarkan pandangan feminis yang tetap memilih dalam komunitas religius, bahwa merupakan hal yang sangat penting untuk memuaskan kebutuhan menemukan jalan dalam proses mengimajinasikan Tuhan yang terkait dan mendukung concern spiritual perempuan. Sehingga dari situlah para feminis mendapatkan kepuasan dan kejelasan posisinya dalam jalur keagamaan. (hlm. 78)

Sementara jika menuju pendekatan terakhir—sengaja diterakhirkan oleh penulis lantaran memiliki keistimewaan tersendiri—Pendekatan Teologis sudah secara jelas dan pasti akan terkait langsung dengan studi keagamaan. Frank Whaling justeru menunjukkan kekhawatirannya dalam menggunakan pendekatan ini untuk menjadi pisau-bedah kasus-kasus keagamaan. Sebab akan rentan bias.

Memang pada dasarnya, mayoritas pakar keilmuan semua bidang, akan menyetujui argumentasi akademik yang menyatakan bahwa jika mengkaji sesuatu dengan alat analisis yang pula menjadi salah satu bagian dari sesuatu itu, akan cenderung untuk menuju lahan subjektivitas. Sukar untuk memperoleh data sekaligus hasil yang seobjektif mungkin.

Sebagaimana komentar Peter Connolly dalam pengatarnya; pendekatan teologis memiliki karakter yang berbeda (misalnya, pendekatan ini adalah satu-satunya pendekatan yang benar-benar insider) sehingga menuntut pembahasan yang berbeda—barangkali menurut hemat penulis ialah demi menghindari bias dalam penelitian ilmiah tentang agama.

Komponen-komponen pada buku ini secara sekilas sudah runtut, sistematis, serta relatif lengkap dalam hal-ihwal referensi dan bahan kajian atau salah satu dari sekian sumber studi kepustakaan. Hingga tidak heran untuk mengatakan buku ini akan langgeng sampai pada waktu kelahiran buku baru yang lebih komplit serta beranalisis tajam mengenai approaches to the study of religion.

Meski demikian, masih terdapat beberapa celah—yang lazim ada di setiap karya—yang barangkali perlu untuk dilengkapi di kemudian hari oleh penerus (penulis lain) mengenai persoalan pendekatan studi agama. Semisal contoh konkret skala lokal-regional tentang keagamaan—selain Clifford Geertz yang menurut saya pribadi kurang jitu dalam meneliti masyarakat Mojokuto—yang belum disuguhkan pada buku ini walaupun memang ada banyak contoh penelitian kasus-kasus agama skala global.

Tentu sudah menjadi tanggung jawab sekaligus beban moral bersama bagi para akademisi zaman sekarang dari berbagai daerah yang variatif untuk meneruskan serta memperlengkap hal-hal semacam persoalan lokalitas tersebut sebagai penunaian “rukun peneliti” dan barangkali bisa bernilai shodaqoh jariyah ilmu di kemudian hari. Selamat mencebur untuk kemudian mengkritisi buku ini! Semoga tak tenggelam…

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *