Regional Timur on Sunday

“Kapal memang akan aman jika dia tetap berlabuh di pelabuhan. Tapi, tidak untuk itu dia diciptakan. Dia diciptakan untuk berlayar. Begitupun aku dan kamu, para santri peduli negeri.” Begitu kalimat yang terdapat dalam video penyambutan acara silaturahim CSS MoRA regional timur; Silaturahim Para Pengubah Takdir Bangsa 2025. Minggu, tertanggal 6 Oktober 2013.

hives treatment

Silaturahim CSS MoRA regional timur tahun ini, dilaksanakan di Universitas Airlangga yang diikuti oleh seluruh anggota CSS MoRA regional timur yang meliputi: CSS MoRA ITS, CSS MoRA UA, IAIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tema yang diusung dalam acara silaturahim tahun ini adalah “Kami Santri Peduli Negeri”. Acara ini dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.40 WIB bertempat di aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik gedung C ruang 302 Universitas Airlangga.

Acara dibuka dengan penyambutan berupa video yang berpesan bahwa hakikatnya kita, para mahasantri Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) adalah para pejuang kebahagiaan negeri. PBSB diharapkan menjadi grand design, mengubah takdir bangsa tahun 2025 yang berperan dalam menyumbangkan arti penting bagi kemajuan bangsa yang diprediksi pada tahun 2025, Indonesia akan menjadi 10 negara tulang punggung perekonomian dunia.  Berdasarkan tujuan awal dari PBSB inilah acara silaturahim ini diberi nama “Silaturahim pengubah takdir bangsa 2025”.

Selain dihadiri oleh seluruh anggota CSS MoRA regional timur, acara ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si., Direktur Pendidikan Universitas Airlangga sekaligus pembina CSS MoRA UA. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa CSS  MoRA memberikan virus yang baik di Universitas Airlangga, maka dari itu anak-anak CSS MoRA ini adalah kebanggaan saya. Ketua CSS MoRA Nasional, Imam Sahal Ramdhani dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pun turut hadir di agenda tahunan regional ini.

Tak  hanya silaturahim tanpa ada bobot pembicaraan, diadakan pula Talk Show yang diisi oleh Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Jawa Timur, Bapak Ismail Nachu dengan tema “Kami Santri Peduli Negeri”. Masing-masing dari kita adalah pewaris sah bangsa ini, papar Bapak Ismail, kaum santri ditilik dari sejarahnya adalah kaum yang muncul dari aktivitas keagamaan puritan, yang kemudian turut pula berkontribusi dalam menggagas dan menopang gerakan nasionalisme Indonesia. Dewasa ini, berbagai problema dilematis dihadapi bangsa ini, problem bangsa yang timbul tersebut dikarenakan kaum terdidiknya yang menjadi problem. Bagaimana menangkap ikan tanpa membuat airnya keruh, itulah baru cara santri menjawab permasalahan dengan berani menetap dalam kebenaran. “Saya berharap dari CSS MoRA muncul W.R. Supratman atau Jenderal Sudirman yang punya mimpi tentang negerinya”. Indonesia dengan segala permasalahannya bukanlah lantas terhadang untuk dijadikan kritik agar terlihat sebagai kaum kritis, bukanlah solusi ketika lebih mengutuk gelap dari pada menyalakan lilin, karena dari awal tidak ada yang memilih untuk dilahirkan menjadi orang Indonesia, “Karena ibu saya orang Pasuruan, maka saya harus menerima status saya sebagai warga negara Indonesia. Seandainya ibu saya bukan orang Pasuruan, saya akan lebih memilih keluar negeri saja”. Di penutup Tak Show Bapak Ismail Nachu berpesan “Jika Anda yang benar, maka rubahlah sistem. Jika sistem yang benar, maka rubahlah diri Anda”.

Setelah talk show kemudian dilanjutkan dengan testimoni oleh alumni CSS MoRA yang telah kembali mengabdi di Pondok Pesantren. Kemudian hiburan berupa penampilan tari saman, banjari, games pengakraban dan penampilan dari tiap CSS MoRA PTN menambah animo dan canda tawa riang peserta yang berjumlah lebih dari 400 orang. (An/KOMINFO)

zp8497586rq
Facebook Comments





Comments are Closed