Refleksi Ibadah Haji, Cerminan Positif “Human Right Relationship”

(Mahasiswa penerima beasiswa PBSB Kemenag RI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)
Menjelang akhir tahun kalender Hijriah, umat muslim disibukkan dengan agenda ibadah haji yang dilaksanakan setiap bulan dzul qaidah pada setiap tahunnya, ritual ini merupakan sebuah implementasi dari nilai nilai wajib dalam agama islam. Seluruh lapisan umat muslim menyadari akan nilai wajib dari ibadah ini, tentu saja aplikasi amalan ini membutuhkan sebuah bekal yang optimal baik dari segi internal ataupun eksternal. Di negri kita ini Indonesia yang terkenal dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di muka bumi ini tak luput dari partisipasi momen ini dalam usaha memeriahkan aktualisasi ibadah ini.
Indonesia termasuk kedalam negara yang paling banyak memberangkatkan Jemaah haji setiap tahunnya, tak ayal daya tampung negri ini mulai membengkak sehingga diberlakukan pula sistem “antrian haji”. Hal ini dikarenakan banyaknya animo masyarakat muslim Indonesia yang hendak melaksanakan ibadah suci ini, bahkan tak sedikit ada dari kalangan masyarakat yang hendak melaksanakannya dalam berbagai kali kesempatan. Dikarenakan ibadah haji sendiri memiliki sebuah nilai bijak tersendiri dibanding dengan ibadah-ibadah lainnya, begitu juga dengan ibadah yang lain.
Dari sekian kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh ibadah ini menurut sebagian perpspektif masyarakat ialah, ibadah ini merupakan sebuah puncak dari pelbagai ibadah wajib yang lainnya ataupun sebagai penyempurna dari ritual ibadah yang lain. Berkaca kepada sebuah argumentasi masyarakat pribumi pulau Madura, bagi mereka ibadah haji dijadikan sebagai bahan penyempurna dari aplikasi amalan-amalan yang lain. Beginilah nilai lebih dari aplikasi ibadah ini, selaian dengan garansi pahala atau balasan yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Esa.
Seseorang yang melakasanakan ibadah haji tanpa disadari telah mengimplementasikan dua unsur ibadah yakni spiritual teologis dan spiritual sosiologis dimana selain mereka melaksankan penyembahan dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa mereka akan bercengkrama dengan berbagai individu dari seluruh pelosok dunia yang tak dikenali sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya sebuah praktik relasi sosial dalam ranah spiritual, yang sama-sama hanya demi sebuah usaha taat kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. Sehingga tendensi lain dari amalan ini ialah adanya penekanan tata cara bijak nan positif “human right relationship” atau dalam aspek agama dikenal ini dengan istilah “hablum minan nas.”
Seseorang yang melaksanakan ibadah haji pasti akan merasakan suatu nuansa kultural sosial masyarakat yang variatif yang baru mereka temui, hal ini dikarenakan seluruh element masyarakat akan berkumpul dalam satu tempat yakni di tanah haram Mekkah dan Madinah. Adapaun tindak lanjutnya ialah mereka dituntut untuk menumbuhkan sikap toleran dan multikulturalis sosial dengan adanya fenomena tersebut, dikarenakan dengan adanya sebuah integrasi pelbagai macam kultur sosial dalam satu tempat, Serta diikuti dengan tuntutan adaptasi yang begitu cepat.

Dan pada akhirnya apabila hal ini dapat terealisasikan maka pelaksanaan ibadah haji akan terasa begitu hikmat lancar hingga di pengujung acara, serta akan nampak kebalikannya jika hal ini tidak terealisakan dimana ibadah haji yang semula sebagai ibadah akan menjadi sebuah bencana bagi umat manusia. Maka begitulah pentingnya kesedaran akan harmonisasi urusan sosial yang ditekankan oleh agama.
Akan tetapi berdasarkan jejak historis dari pelaksanaan ibadah tersebut, tampaknya tidak terdengar sebuah aspek ngetif dari pelaksanaan ibadah ini, dikarenakan mereka yang sedang melaksanakan ibadah tersebut sadar akan hal ini serta mengimplementasiknnya dalam sebuah alplikasi yang positif dan kontrukstif. Sehingga dari masa ke masa pelaksanaan ibadah haji tak pernah mengalami kesurutan Jemaah, bahkan tahun demi tahun semakin membeludak di berbagai kalangan umat muslim dari seluruh pelosok dunia. Begitulah nilai tersendiri yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sosial masyarakat di muka bumi ini, dimana nilai ibadah-ibadah tak hanya berorientasikan pada aspek teologis akan tetapi menyangkut juga nilai-nilai sosilogis.
Manifestasi dari hal ini ialah sebuah peradaban kehidupan sosial yang positif dan juga konstruktif bagi kehidupan dunia dan akan memunculkan potensi produksi kehidupan sosial masyarakat yang maju, sebagi wujud dari pragmatisme dari hal ini. serta akan menimbun sikap-sikap kecendrungan yang negatif, egoistis, ataupun fanatisme di kalangan umat sesama mahluk Ciptaan Tuhan yang Maha Menciptakan. Begitulah nilai pragmatis ibadah haji yang tidak banyak disadari oleh segenap element umat ini terlebih lagi bagi dikalangan umat muslim.

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *