Ramadhan dan Libur Kuliah

Oleh Moh Salapudin

Memasuki pertengahan bulan Ramadhan, beberapa kampus sudah mulai liburan. Para mahasiswa menyambutnya dengan suka cita, setelah sebelumnya mereka sibuk mengerjakan tugas-tugas dan UAS.

Libur Ramadhan memang selalu istimewa. Teman saya dari luar pulau jawa yang biasanya tidak pulang saat liburan, menjadi sangat bersemangat untuk pulang sampai-sampai sudah mencari tiket jauh sebelum tiba masa liburan. Apalagi yang membuat mereka semangat pulang selain kerinduan? Ada yang bilang jika Anda ingin tahu betapa bahagianya pulang, maka merantaulah.

Maka bagi perantau seperti kami, liburan adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Sebab hanya pada waktu liburan itulah kami bisa pulang yang artinya kami akan segera berjumpa dan menikmati hari-hari bersama keluarga tercinta, kerabat, dan teman. Terlebih liburan kali ini bertepatan dengan bulan puasa. Tentu kami sangat merindukan buka puasa bersama keluarga: makan masakan ibu walau dengan lauk seadanya dan bercengkerama bersama adik. Selama di perantauan masalah makan memang terjamin, bahkan ajakan buka bersama datang silih berganti. Tetapi pengalaman mengajarkan: tentang buka puasa bukan hanya hidangan apa yang membuat nikmat, tetapi juga bersama siapa kita menikmati hidangan itu. Itulah yang membuat kami ingin pulang.

Tetapi setiap kali liburan datang dan pulang, selalu ada kesedihan yang tebersit dalam pikiran. Biasanya, waktu liburan hanya dihabiskan untuk bermain dan melakukan hal-hal yang sifatnya have fun. Itu terjadi karena kami mendefiniskan liburan sebagai waktu di mana kita bisa gunakan sepuasnya untuk melakukan hal-hal yang menghibur. Padahal, sebagai kaum terpelajar kami membawa pengetahuan-pengetahuan yang didapat melalui buku-buku, bangku perkuliahan, atau pengalaman hidup di perantauan. Jika waktu liburan kami habiskan untuk bermain-main semata, lantas mau dibawa ke mana pengetahuan-pengetahuan yang selama ini kami dapatkan?

Padahal terdapat adagium di pesantren yang sangat popular: al-Ilmu Bi La Amalin Ka as-Syajari Bi La Tsamarin saya lebih suka menerjemahkannya dengan, “Pengetahuan tanpa pengamalan ibarat mawar tak berbunga”. Keindahan macam apa yang bisa kita peroleh dari pohon mawar yang tak berbunga? Maka meminjam gaya Seno Gumira Ajidarma, alangkah mengerikannya jika kita sebagai mahasiswa hanya menghabiskan masa liburan untuk bermain-main tanpa mengamalkan pengetahuan yang kita dapatkan di bangku kuliah, buku, maupun perantauan.

Ramadhan

Ramadhan adalah momentum bagi kita untuk berbenah. Pada bulan ini kita dikondisikan pada jiwa di mana kita harus menahan bukan hanya makan minum, tetapi juga menahan hawa nafsu yang mendorong kita untuk melakukan hal-hal negatif yang tidak bermanfaat. Melawan hawa nafsu adalah jihad yang besar, demikian kata Rasulullah.

Spirit yang dibawa Ramadhan adalah pebaikan. Allah memilih Ramadhan sebagai salah satu dari 12 bulan yang di dalamnya dibukakan pintu rahmat selebar-lebarnya dan ditingkatkan pahala, agar pada 11 bulan setelahnya kualitas hidup kita meningkat. Sebab sepeti yang disabdakan Rasulullah, “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari)

Meminjam kalimat Agus Muhammad (Kompas/26/6), puasa ibarat latihan, dan orang berpuasa yang tidak meningkat levelnya dari tahun ke tahun, berarti latihan sebulan penuh menjadi tidak ada artinya. Sebuah latihan disebut berhasil jika melahirkan peningkatan yang signifikan.

Dalam konteks dunia perkuliahan, masa liburan bisa kita posisikan seperti bulan Ramadhan. Liburan bukan waktu di mana kita bisa menghabiskannya sekadar untuk senang-senang, tetapi justru kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk mengamalkan pengetahuan-pengetahuan yang kita dapatkan di kampus.

Mahasiswa yang dikatakan berhasil memanfaatkan waktu liburnya adalah mereka yang kualitas dirinya meningkat setelah masa liburan. Jika waktu liburan justru menjadikan kualitas diri mahasiswa menurun dan bahkan meghilangkan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, maka sesuai klasifikasi yang dijelaskan Rasulullah, kita adalah orang-orang yang rugi.

 

Penulis, Anggota Aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang Alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *