Pengamat Barat sebut Islam Indonesia “Smilling Islam”

Depok, CSSMORA Online
Pengamat Barat menyebut Islam di Indonesia sebagai ‘smilling Islam’ (Islam yang tersenyum). Kita bukan Islam yang ‘ghadhab’ seperti kelompok kecil yang sukanya menebar kebencian. Mereka itu Islam yang suka marah, bukan Islam yang ramah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balitbang dan Diklat Kementerian Agama Prof Abdurrahman Mas’ud saat berpidato atas nama Menteri Agama RI di hadapan ratusan peserta Silaturrahim Nasional Jamiyyah Ahluth Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman). Silatnas tersebut dihelat di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Kamis (11/6).

Mengatasi radikalisme, lanjut dia, memang tidak mudah. Butuh satu kesatuan cara pandang dan sikap untuk melawannya. Namun, yang patut digarisbawahi radikalisme menjadi sebuah gerakan yang apabila mengganggu ketertiban umum maka sesuai dengan perundang-undangan yang ada, negara wajib hadir dan mencegahnya.

“Radikalisme telah menggelisahkan nonmuslim. Jangankan nonmuslim, yang muslim saja terganggu. Padahal, Islam yang sejati adalah Islam yang harmoni. Sesuai ajaran Islam, baik secara historis maupun normatif maupun ajarannya adalah Islam yang ramah,” papar Abdurrahman.

Bagi kalangan Nahdliyyin di lingkungan pesantren, tambahnya, sudah ada kiblat yang jelas. Sebagai contoh kita bisa merujuk Syeikh Nawawi al-Bantani (w. 1897 M) yang menjadi imamul haramain. Seorang ulama yang disebut orientalis asal Belanda, Snouck Hurgronje, sebagaimoderate Islam and ethical sufism.

“Syeikh Nawawi disebut Snouck sebagai sufi yang penuh etika, akhlak, yang menggambarkan dirinya sebagai debu dari para santrinya yang mencari ilmu. Betapa tawadhu’nya guru kita ini. Dan Snouck menyaksikannya sendiri ketika berkunjung ke Mekkah pada waktu itu,” ungkap doktor lulusan Amerika ini.

Makanya, lanjuta dia, tak aneh jika kalangan pesantren disebut sebagai representasi Islam yang tersenyum. Ciri pesantren memang tidak suka memberontak kepada sistem yang mapan, istiqamah mempertahankan kesatuan melawan segala bentuk kekacauan. “jadi, kita melawan kekacauan. Itu jelas,” tandas Abdurrahman.

Kawal jama’ah dan jam’iyyah

Warga NU, lanjutnya, dikenal mementingkan jamaah. Sayangnya, Nahdliyin agak kurang soal konsep jam’iyyah. Oleh karena itu, jamiyyah seperti JATMAN ini harus ditingkatkan dari segi kedisiplinannya. “Jika tidak disiplin, bagaimana mau melakukan kontra radikalisme. Ini otokritik bagi kita,” ujarnya.

Menurut Abdurrahman, sejak runtuhnya Orde Baru demokrasi kita makin baik. Paling tidak dalamfreedom of speech (kebebasan berpendapat). “Sekarang orang biasa beda pendapat dengan pimpinan. Bahkan dalam forum resmi. Kalau dulu, pimpinannya akan bilang, pendapat anda bagus. Tapi lebih bagus anda tidak berpendapat,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Meski demikian, sikap demokratis tetap harus mengedepankan sikap etis. Apalagi dalam dunia pesantren yang penuh tawadhu’. Karena, dalam era kebebasan ini pasti terjadi gesekan dan konflik antarkelompok. Bahkan, ada kelompok kecil yang pro terhadap kekerasan. Sementara para ulama kontra kekerasan.

Rais Aam Jatman Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dan Pengasuh Pesantren Al-Hikam yang juga mantan Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi membuka Silatnas tersebut pada Rabu (10/6) malam. Acara bertema “Peran Ulama dalam Menjaga Persatuan, Kesatuan, dan Keutuhan NKRI” itu berlangsung selama tiga hari, Rabu-Jumat, 10-12 Juni 2015. (Musthofa Asrori/Fathoni)

 

Sumber: NU Online

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *