Pendidikan Nasional Melalui Tangan Para Santri

Oleh: Muhammad Nasruddin

Dalam kancah nasional sekarang, banyak lahir pendidikan baru beserta modelnya yang berbagai macam bentuknya. Persaingan ini, merupakan hal baik untuk kemajuan bangsa Indonesia agar lebih maju dalam bidang pendidikan. Kemajuan tersebut, tidak serta-merta hal yang mudah, masalahnya lahirnya pendidikan yang bermacam-macam dikarnakan penduduk kita yang heterogen yang tidak dapat disamaratakan.

Untuk itu, bangsa kita memerlukan model pendidikan yang dinamis untuk menunjang kualitas pendidikan nasional. Kendala pendidikan sekarang adalah mengenai bahan konsumsi pendidikan, sistem pengajaran, dan penerapan etika. Selain itu, karakter Bangsa Indonesia yang mayoritas cenderung santai dalam etos belajar dan mengajar.

Dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, salah satunya yang paling berpengaruh adalah bangku pesantren. Dimulai sejak zaman masuknya Islam di Indonesia hingga menyebar ke seluruh Nusantara, sistem pesantren terpakai dalam pendidikan agama Islam di Indonesia. Dengan bukti, banyak alumni pesantren menjadi tokoh nasional bahkan internasional. Seperti Syaikh Nawawi al-Bantany, Syaikh Termas, KH. Abdurrahman Wahid, dll.

Benarkah sistem pesantren sangat tepat diterapkan pada pendidikan nasional? Apa saja bentuk pendidikan di pesantren yang dapat diterapkan pada pendidikan nasional? Bagaimana peran santri dalam menerapkan pendidikan secara nyata pada masyarakat umum?

Sistem pendidikan pesantren

Dewasa ini, sistem pendidikan pesantren telah mengalami perkembangan, perkembangan dalam sisi materi maupun cara/metode pengajaran. Terdapat tiga tipologi sistem pendidikan pesantren;

  • Pesantren salaf

Pesantren salaf, berarti pesantren yang menggunakan sistem pendidikan tradisional atau model konservatif. yang terpenting dalam sistem ini, terdapat kekuatan interaksi antara kyai dan santri, hubungan lahir dan hubungan batin yang dilakukan melalui interaksi secara langsung dalam lingkungan pesantren.

Masalah akhlak, Pesantren salaf sangat menekankan akhlak dalam kehidupan sehari-hari yanga akan melahirkan kepribadian ber-akhlakul karimah. Sebab pentingnya hal tersebut, sangat banyak Pesantren salaf menjadikan akhlak sebagai salah satu aturan yang harus ditepati oleh seluruh santri.

Adapun sistem pengajarannya, kyai yang menguasai kelas dari pada santri. Karena latar belakang ke-tawadluan atau diartikan bentuk etika murid kepada guru. Dalam hal ini tidak membuntukan kualitas keilmuan hanya karena sami’na wa atho’na, perlu diketahui di dalam pesantren salaf juga terdapat sistem diskusi istilahnya Musyawarah pada suatu bidang keilmuan.Selain itu, Pesantren salaf merupakan metode yang diwariskan oleh pendahulu-pendahulu bangsa Indonesia yang dapat dijadikan sebagai kearifan lokal yang perlu dipertahankan dan dikembangkan lebih baik.

  • Pesantren Terpadu

Yang dimaksud dengan terpadu dalam sistem ini yakni sebuah sistem yang menyeimbangkan antara salaf dengan modern. pesantren ini mempunyai ciri khas tradisional yang menjadikan kyai sebagai figur sentral dalam lingkungan pesantren. Dan juga masih menjalankan nilai-nilai salaf berupa tempilan luar dan tampilan dalam.

Sisi modern pesantren ini, mengacu pada isi kajian dan cara pengajaran yang berbeda dengan salaf, yaitu sistem modern. sistem tersebut menjadi bukti penyesuaian pesantren dengan pendidikan zaman modern.

  • Pesantren Modern/Khalaf

Pesantren ini, telah menyerap gaya menejemen pendidikan modern selain pesantren. Yang membedakan sistem ini, bahwa pesantren ini mempunyai administrasi dan saran yang lebih modern, pola dan sistem pendidikan yang lebih modern dengan memasukkan kajian ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan, dan tidak menjadikan kyai sebagai figur sentral.

Biasanya, pesantren ini menggunakan metode bilingual (bahasa Inggris dan Bahasa Arab) dalam lingkungan pesantren. Hal tersebut membantu membuka wawasan santri tentang dunia luar, dengan fasilitas berupa elektronik yang canggih.

Sistem pesantren untuk pendidikan nasional

Setelah mengakumulasi sistem-sistem pesantren dari ketiga tipologi di atas, terdapat sebagian besar metodenya yang dapat diterapkan pada pendidikan nasional pada masa yang akan datang. Pendidikan nasional di masa depan yang berorientasi pada keilmuan, etika, bermasyarakat.

  1. Musyawarah/Batsul masail

Di dalam teori pendidikan tedapat teori Humanistik, pendidikan yang menitikberatkan perkembangan setiap individu dengan menekankan setiap individe dituntut untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, dan aktif dalam proses belajar. Tori ini, menekankan metode diskusi, jadi keaktifan masing-masing individu.

Pada umumnya, di pesantren manapun memberlakukan metode musyawarah untuk menyelesaikan suatu ilmu. Di dalam musyawarah, ada moderator, narasumber, musokhih (yang meluruskan, biasanya oleh ustadz), musyawirin (audien). Metode yang dilakukan seperti halnya dengan diskusi/seminar. Terdapat berbagi masalah keilmuan/fenomena/peristiwa yang harus diselesaikan secara ilmiah, dan masalah tersebut diselesaikan melalui interaksi yang ketat.

Pada dunia pendidikan, masih banyak guru yang terlalu mendominasi kelas, dan mereduksi keaktifan siswanya. Otoriter guru di dalam kelas, hanya menutup siswa dalam perkembangan daya nalar dan potensi interaksi siswa. Maka dari itu, metode musyawarah dalam pesantren dapat menjadi suatu terobosan baru, pada setiap jenjang pendidikan nasional. Semakin individu digali potensinya dari kecil, makin berkualitas untuk masa depannya.

  1. Boarding school/pemondokan

sekarang ini banyak kenakalan remaja karena terbebasnya dari pantauan orang tua. Kenakalan tersebut tidak hanya merugikan dirinya sendiri akan tetapi lebih merugikan pihak-pihak lain. Pesantren sering disebut dengan pondok pesantren, artinya asrama yang menampung para santri dalam mencari ilmu agama. Kenapa harus pondok/asrama?

  1. Kenakalan tidak mudah diselesaikan hanya sekedar penyuluhan dan nasehat. Masalah kenakalan harus di selesaikan dengan lingkungan yang baik dan aturan yang ketat.
  2. Dalam pondok, merupakan contoh lingkungan masyarakat dalam skala kecil, yakni terdapat komponen-komponen masyarakat. Dari pondok tersebut, individu akan dapat belajar mandiri, menyesuaikan diri, interaksi, dll.
  3. Pendidikan kreativitas ekonomi masyarakat, tidak mudah menghadapi masa depan tanpa kuatnya penglaman berekonomi. Setiap individu harus memiliki ketahanan ekonomi dan respon pada peluang ekonomi. Jadi pendidikan, memberikan ajaran jangka panjang untuk kehidupan yang lebih baik.
  4. Menumbuhkan jiwa sosial, sebagaimana masyarakat pada umumnya, manusia sebagi zoon politicon makhluk sosial yakni tidak lepas dari orang lain. Kehidupan pondok, akan diajarkan bagaimana bersosial dengan baik sebelum memasuki kehidupan sosial yang sebenarnya.
  5. Mendidik kedisiplinan.
  6. Mendidik keorganisasian, karena dalam pesantren masih dalam organisasi yang beranggotakan kecil, jadi lebih mudah dijalankan. Fungsinya, adalah supaya tidak kaget ketika menjalankan organisasi skala besar.
  7. Prioritas bahasa asing dan bahasa lokal

Apapun model pesantrennya tidak akan terlepas dari bahasa asing, terutama bahasa arab. Seperti halnya pesantren salaf, walaupun dengan metode konservatifnya tapi buku yang dikaji murni kitab-kitab salaf. Dan juga pesantren khalaf yang membiasakan bahasa arab-inggris pada lingkungannya.

Untuk membuka cakrawala dunia tidak terlepas dari keahlian berbahasa asing, khusunya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris untuk membuka jendela timur dan jendela barat globalisasi. Pembendaharaan kosa kata dan gramatikal merupakan hal yang penting dan perlu dibiasakan, dan pondok/asramalah yang paling tepat dalam membentuk lingkungan yang berbahasa. Keluhan pelajar sekarang terdapat pada bahasa, yang belajar betahun-tahun namun hasilnya tetap nihil. Buktinya, banyak pelajar hanya terhenti pada buku terjemahan saja. Padahal peradaban keilmuan tidak terpusat pada bahasa Indonesia kecuali hanya sedikit.

Bahasa lokal, erat hubungannya dengan pesantren khususnya pesantren salaf yang mana masih memaknai teks-teks arab dengan bahasa daerah yang sangat kental, banyak bahasa kuno terhapus oleh zaman akan tetapi masih terpakai pengajian kitab. Ini pertahanan kerifan lokal yang harus tetap dilestarikan. Banyak pemuda sekarang terbawa arus zaman yang kian mencekik generasi muda. Pendidikan nasional satu-satunya jalan yang mencegah hal tersebut termasuk menjaga kearifan lokal Indonesia.

  1. Sorogan/Muthola’ah

Sorogan/muthola’ah merupkan salah satu kegiatan di pesantren berupa membaca kitab kuning secara langsung di depan ustdz atau santri senior. Kegiatan ini menguatkan hubungan dan kedekatan antar santri dan guru/kyai. Sangat penting mengikat sisi psikologi kedua pihak, karena hal ini akan memengaruhi proses belajar kedepannya.

Selain itu, sorogan merupakan evaluasi secara langsung kepada setiap individu siswa dan untuk mengetahui potensi atau kelemahan setiap individu. Dan sebagai metode yang efektif dengan pendekatan langsung. Salah satu kekurangan pada sistem pendidikan nasional, masih banyaknya pembatasan antara pengajar dan murid. Pembatasan tersebut akan menghalangi keterbukaan siswa dalam berbagai hal tentang masalah keilmuan atau bisa jadi masalah pribadi yang perlu diselesaikan.

Kontribusi Santri dalam Pendidikan Nasional

Peran santri dalam pendidikan nasional, dapat sebagai pendidik atau biasa sebagai pembuat metode pendidikan. Realitanya, santri ikut berperan membangun pendidikan dari lapisan masyarakat yang paling rendah seperti mengajar ngaji, ceramah keagamaan, mengajarkan dasar agama Islam kepada masyarakat. Kedekatan santri dengan masyarakat yang telah membangun kepercayaan terhadap santri itu sendiri, inilah kontribusi santri di tengah-tengah bangsa Indonesia. Tidak berharap suatu upah dan menjalankannya dengan penuh keikhlasan.

Santri juga, mampu membuat terobosan pendidikan yang lebih progress, dahulu waktu KH. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama, beliau membangun banyak Universitas Islam bukti santri peduli pendidikan yang maju. Sistem pendidikan pesantren dapat dimasukkan sebagai sebuah sistem pendidikan yang dipadukan antara sistem modern dan sistem pesantren untuk mengahasilkan pendidikan yang pas untuk bangsa Indonesia. Indonesia perlu dibangun dengan kandidat-kandidat yang tulus dan berkualitas, oleh santri yang peduli pendidikan bangsa apalagi diwarnai dengan fasilitas teknologi agar dapat beriringan membangun santri yang lebih mumpuni dalam berkontribusi kedepannya.

 

Penulis adalah Mahasiswa PBSB UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2014. Tulisan ini merupakan Juara 2 Lomba Essay CSSMoRA Nasional 2015.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *