PENANTIAN DALAM RINDU

Oleh: Atssania Zahroh*

 

Kala itu, engkau melepasku

Senyum indah terukir di bibirmu

Akan tetapi matamu menatapku tajam

Sedih itu tak bisa engkau sembunyikan

Engkau melepasku dengan segudang harapan

Tapi engkau tak pernah menuntutku

Engkau selalu mengiyakan apa yang menjadi pilihanku

Entah ini egoisnya anakmu

Ataupun cita-citaku untuk kebahagiaan mu, Ibu

 

Aku pun tertawa lepas diluar sana

Sedangkan engkau tersungkur dalam doa

Berlinangan air mata

Aku terjebak dalam huru hara anak muda

Sedang engkau bersimpuh keringat

Berjuang di rumah nun jauh disana

 

Waktu itu, engkau yang memulai menyapaku

Sebenarnya itu rindu yang teramat dalam

Akan tetapi dengan mudahnya aku mengatakan,

“jangan sekarang bu, aku masih banyak urusan perkuliahan”

 

Suatu hari, aku terisak

Karena aku mengingatmu

Itupun aku ditegur

Oleh dia yang tak seberuntung aku

Aku yang masih bisa merengkuh jasadmu

Sedangkan dia hanya bisa menatap nisan sang ibu

Dia tak henti-hentinya berucap doa karena rindu

Sedangkan aku?

 

Dan pagi itu engkau datang dan aku menyambut uluran tanganmu

Senyum yang  hadir pagi itu

Mengiringi perasaan bahagia ketika aku merangkulmu

Aku bersyukur masih bisa menatap wajahmu

Dengan seksama kuperhatikan engkau

Raut wajahmu semakin berubah

Kerut dikeningmu semakian terlihat

Tak kusangka usia mu semakin renta

 

Beribu maaf kuutarakan

Dan engkau tidak mengiyakan

Seraya berkata , “ibu tau, memang itu wajar”

Desir rasa bersalah semakin merasuk dalam jiwa

Tergantikan kebahagiaan yang hadir diantara kita

Dan engkau menganggapku hadiah dalam sebuah penantian

Akupun hanyut dalam dekapan

Dan aku merasakan kehangatan

Ternyata inilah sebuah kerinduan

 

*Penulis adalah anggota CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Tasawuf Psikoterapi.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *