Partisipasi Politik Ilmuan Pesantren

Oleh : Fitriyani*

Sudah menjadi niscaya bahwa kemajuan dan kesejahteraan suatu negara akan tercapai, jika dipimpin seorang raja dan aparatur pemerintahan yang memiliki model kepememimpinan seperti Nabi. Sejarah mengajarkan bahwa model kepemimpinan ala Nabi betul-betul telah mampu mengubah raut sejarah dari yang semula primitif (jahiliah) menjadi beradab dalam waktu yang relatif singkat selama 23 tahun.

Model kepemimpinan yang dikembangkan Nabi intinya tidak lain dilandaskan pada moralitas yang kokoh. Nabi sebagai seorang pemimpin umat dan masyarakat benar-benar mencitrakan dirinya sebagai sosok yang memiliki akhlak mulia yang layak diteladani dalam segenap hal.

Model Kepemimpinan Nabi

Ada dua model kepemimpinan yang diajarkan nabi, yakni memimpin dengan Cerdas, dan memimpin dengan Jujur. Model Sifat “cerdas” adalah suatu sifat yang dijadikan seorang pemimpin sebagai roda dalam menggerakan negaranya menuju ranah kemajuan. Sedangkan “jujur” adalah suatu tongkat yang harus ada dalam jiwa seorang pemimpin sebagai penyerang hal-hal yang bersifat kotor dan sebagai pengarah menuju hal-hal yang bersifat positif serta sesuai dengan syari’ah yang ditentukan.

Dalam sifat “cerdas” mempunyai makna yang sangat luas. Sifat “cerdas” akan melahirkan sifat “tegas, berani dan inovatif”. Ketegasan adalah suatu sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam menetapkan suatu ketetapan. Sedangkan keberanian adalah sifat yang harus ada dalam kepribadian seorang pemimpin dalam mengambil resiko dari setiap keputusan. Begitu juga inovatif adalah suatu pemikiran yang harus ada dalam diri seorang pemimpin untuk mempersiapkan berbagai solusi dalam menyambut resiko yang terjadi.

Seperti Amerika Serikat (AS), negara yang dijadikan sebagai kaca dan tolak ukur publik. Dalam kancah politik, AS dianggap sebagai negara Adidaya yang mempunyai kekuasaan lebih di percaturan politik internasional baik dalam mempengaruhi peristiwa-peristiwa global maupun lebih jauh mengambil keputusan dalam proyek-proyek internasional. Selain itu juga, AS memiliki pemimpin yang cerdas, contohnya Barack Obama, Ia mampu mengantarkan AS ke kedudukan yang tertinggi yaitu memposisikan negara dalam ranah negara termaju. Bahkan kecerdasan Barack Obama telah diketahui oleh masyarakat seluruh dunia. Menurutnya, kategorisasi pemimpin dikatakan cerdas, salah satunya adalah pemimpin yang mampu memajukan bidang ekonomi. Misalnya Amerika Serikat memiliki wirausaha 11,5 %, China dan Jepang dengan jumlah wirausaha 10% sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,81% wirausaha.

Sederet data-data diatas, dengan jelas menggambarkan bahwa negara Indonesia yang kaya akan pulau yang membentang dari sabang sampai merauke, pun masih jauh tertinggal dalam pengelolaan ekonomi negaranya.

Secara defacto, disebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah. Sumber alam berupa hasil tambang, pertanian, perikanan, peternakan, dan tanah yang subur merupakan modal dan kekuatan tersendiri bagi Indonesia untuk menjadi negara yang maju. Namun kenyataannya, Indonesia belum mahir dalam memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia. Pasalnya, setiap tahun Indonesia tidak lepas mengimpor produk pangan dari negara lain, maraknya pencurian ikan (illegal fishing) oleh kapal asing yang menyebabkan kerugian mencapai 4 sampai 5 milyar USD per tahun.

Oleh karena itu, pemimpin dan struktur pemerintahan yang kurang cerdas dan kurang inovatif dalam mengolah kekayaan alam yang tersedia mengakibatkan banyak negara maju memanfaatkan kekayaan yang dimiliki Indonesia. Akibat tersebut berdampak kepada bangsa Indonesia seperti kemiskinan merajalela, berkeliaran pengangguran, banyaknya kejahatan, dan lain sebagainya.

Fakta selanjutnya, Indonesia yang dikenal Negara yang kaya akan segalanya, namun warganya tidak dapat hidup bahagia dan sejahtera. Itu dikarenakan kebodohon bangsa kita ini, bangsa kita sebenarnya memiliki banyak generasi anak bangsa yang pandai dan cerdas namun tidak dihargai oleh negerinya sendiri hingga mereka dihargai oleh Negara lain dan memutuskan untuk tinggal di Negara lain.

Sebut saja mantan Presiden Republik Indonesia BJ Habibi yang mensukseskan negara Jerman dalam bidang teknologi. Selain tersebut, Iwan Sunito misalnya, Ia adalah warga yang berasal dari Indonesia yang telah sukses di Australia selama 28 tahun. Iwan merupakan pemilik perusahaan properti Crown International Holdings Group yang berpusat di New South Wales, Australia. Crown Bondi, Crown on the Hill di Pennant Hills, Millennium dan Icon di Homebush, Crown Citiview di Ashfield adalah sejumlah bangunan apartemen hasil garapannya. Dari kesuksesan perusahaan yang Iwan miliki menghasilkan pendapatan yang besar bagi Anggaran Negara Australia. Selain berupa jasa finansial bagi negara asing, terdapat anak bangsa yang dimanfaatkan bakatnya untuk membantu memajukan negaranya. Muhammad Daffa Imran misalnya, Dia mempunyai bakat dalam bidang olahraga. Dia tampil bermain di Klub elit papan atas Spanyol Real Madrid U-15, bahkan baru saja diberitakan bahwa Daffa telah didaulat menjadi kapten tim U-15 Madrid. Fakta itu membuat kecewa bagi semua warga Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Indonesia telah melepaskan anak bangsa yang cerdas dan berbakat yang seharusnya sebagai pengemudi dalam mencapai kemajuan Indonesia tetapi mereka tampil sebagai pengemudi negara lain.

Selain itu sistem pemerintahan Indonesia yang cenderung dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang mempermainkannya untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan bagi pihak-pihak tertentu. Sistem politik di Indonesia saat ini juga sangat kacau, meskipun kita sudah memiliki dasar Negara yang kuat yaitu Pancasila serta aturan yang jelas yaitu UUD 1945 namun dalam praktiknya masih banyak praktik Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan membawa Indonesia kedalam kehancuran moral serta bangsa.

Problematika bangsa Indonesia begitu kompleksnya, dimana negara yang dicintai tanah airnya, di kudeta dan di gerakkan para pejabat yang gila harta. Mereka tidak puas dengan gaji yang menjadi hak mereka yang luar biasa berlimpah sehingga banyak para pejabat yang menyeludupkan harta yang menjadi hak rakyat berpindah ke dalam kantong pribadi mereka. Memiliki pemimpin dan pemerintahan yang kurang cerdas akan mengakibatkan negara kita tidak punya poros roda untuk berputar maju. Ditambah dengan pemimpin dan pejabat yang kurang mengenal syari’ah sehingga ketidakjujuran dalam mengemban amanah tidak ada dalam jiwa para pejabat. Sifat ketidakjujuran yang dimiliki para pejabat tersebut yang mengakibatkan Indonesia berada dalam kematian.

Hingga detik ini, problematika yang terjadi di Indonesia belum mempunyai titik terang terutama problematika korupsi. Walaupun para pejabat telah memberikan solusi dengan dibentuknya suatu lembaga yang khusus mengatasi kasus korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal tersebut tidak sesuai dengan visi yang telah diharapkan. Dimana pejabat berharap dengan dibentuknya KPK dapat memberantas koruptor tetapi justru koruptor semakin meningkat. Bahkan lebih parahnya salah satu pejabat KPK pernah terkena kasus pidana korupsi. Bagaimana tidak, kalau aktornya adalah pejabat pemerintahan dengan disutradarai oleh pejabat pemerintahan sendiri. Lalu bagaimana solusi untuk mengatasi masalah yang sudah mengakar tersebut?

Seperti yang penulis paparkan sebelumnya, bahwa pemimpin minimal harus memiliki sifat “cerdas” dan “jujur”. Dengan kecerdasan yang melatarbelakangi pemimpin berhasil mengangkat negaranya menjadi negara termaju. Dan melalui kejujuran pemimpinnya, dapat menanggulangi kasus tindak pidana korupsi.

Partisipasi Ilmuan Pesantren

Pemimpin merupakan tiang bagi negara dalam mencapai kemajuan. Maka dari itu, kursi pemerintahan lebih baik di duduki para ilmuan yang memiliki latarbelakang agama yang kuat lebih tepatnya adalah para “ilmuan berbasis pesantren”. Maksud dari “ilmuan berbasis pesantren” adalah seorang ilmuan yang mempunyai latarbelakang pesantren. Menurut pengalaman penulis, latarbelakang seorang santri adalah seorang yang selalu dididik untuk menjalankan semua yang menjadi perintah positif dari gurunya tanpa mengharap timbal balik. Selain itu, kemandirian juga menjadi latarbelakang seorang santri sehingga dapat mengembangkan pemikiran seseorang menjadi inovatif. Maka dengan bekal tersebut mampu dijadikan sebagai pegangan menjadi seorang pemimpin yang baik.

Dengan bekal utama tentang pendidikan dan pengetahuan umum seperti yang dimiliki pejabat pada umumnya, dan bekal pengetahuan agama selama di pesantren, maka seorang santri ilmuan memiliki nilai plus yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam mengemban amanah tersebut. Melalui pengetahuan umum yang dipelajarinya dan pengalaman selama di pesantren menjadikan para ilmuan berbasis pesantren lebih cerdas dari pada ilmuan biasa. Sedangkan melalui pengetahuan agama dan karakter yang dibentuk selama dipesantren sebagai basic behavior dalam perjalanannya menjadi seorang pemimpin. Oleh karena itu, dengan bekal yang dimilikinya para ilmuan yang berbasis pesantren tidak akan terjerumus dalam hal yang kotor seperti korupsi dan sebagainya.

Akan tetapi jika dalam kursi pejabat aparatur pemerintahan hanya diduduki sebagian kecil ilmuan berbasis pesantren maka hal tersebut sia-sia karena seorang tersebut justru tenggelam dalam hal-hal yang kotor. Sebagai contohnya dua Menteri Agama Republik Indonesia yang terduga kasus korupsi diantaranya adalah Suryadharma Ali di era kepemimpinan Presiden SBY dan Said Agil Husein al Munawar di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Hemat penulis, kursi pejabat negara harus diduduki sebagian besar para ilmuan berbasis pesantren. Maka dengan digerakkan oleh para sebagian besar ilmuan berbasis pesantren, Indonesia akan terhindar dari hal-hal yang kotor. Sedangkan sebagian kursi yang diduduki oleh ilmuan umum akan terseret hal-hal bersih. Seribu akan mengalahkan satu orang. Oleh karena itu, jika Indonesia dipimpin dan dikelilingi oleh orang-orang yang bersih dari kebohongan maka orang yang awalnya kotor akan berubah menjadi bersih.

Saat ini, Kementrian Agama (Kemenag) RI mempunyai program beasiswa S1 yang ditujukan kepada Santri-santri pilihan yang berprestasi. Program ini dinamakan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Salah satu ketentuan dari Program tersebut adalah pengabdian selama tiga tahun.

Menurut penulis, Program beasiswa ini tepat untuk dijadikan sebagai generasi yang mampu menduduki kursi aparatur Pemerintahan. Visi PBSB “Santri akan mengubah takdir Bangsa pada Tahun 2025” akan tercapai. Jika pengabdian tersebut dilakukan secara langsung kepada negara. Penulis berfikir bahwa jika dilakukan pengabdian oleh para santri setelah menyelesaikan beasiswa Sarjana nya di Kememag sesuai dengan bidang yang dipelajarinya selama tiga tahun. Maka setelah itu, pemerintah bisa mengambil beberapa mahasantri yang dianggap mampu untuk membantu memajukan negara dengan baik.

Untuk itu, program yang dirilis Kemenag RI tersebut dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi problematika yang dialami oleh negara Indonesia. Sehingga diharapkanPemerintahan Republik Indonesia akan digerakkan oleh para pejabat yang bersih dan terhindar dalam hal-hal yang kotor. Dengan begitu, Indonesia sedikit demi sedikit mengalami kemajuan dan kesejahteraan sesuai dengan yang diharapkan.

 

Penulis adalah Mahasiswa PBSB UIN Walisongo Semarang. Naskah mendapatkan Juara 3 dalam Lomba Essay CSSMoRA Nasional 2015.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *