Pangeran Diponegoro: Ulama Anti-Penjajahan hingga Pelopor Jejaring Pesantren

Oleh: M. Zidni Nafi’Pangeran-Diponegoro-bw-253x300

Kemerdekaan Indonesia yang kini sudah dirayakan pada tahun ke-70 tidak diraih dengan begitu mudah. Pergulatan politik, ekonomi bahkan tumpah darah akibat penjajahan sudah menjadi ‘sesaji’ yang tak terelakan lagi sepanjang sejarah kolonialisme di Nusantara. Perlawanan pribumi terhadap penjajahan bermula pada Maret 1602 saat Belanda mendirikan serikat dagang VOC (Verenigde Oostindische Compagnie). Selain bertujuan meramaikan kompetisi bursa perdagangan dengan bangsa-bangsa Eropa, VOC juga merambisi memonopoli perdagangan rempah-rempah di kawasan Nusantara pada saat itu.

Kerajaan Banten dan Mataram Melawan VOC

Penguasaan perdagangan yang tidak etis oleh VOC menyulut kerajaan Banten untuk melakukan perlawanan terhadap VOC pada masa Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai gubernur jenderal. Peperangan muncul dalam persaingan perdagangan yang disebabkan JP. Coen memandang bahwa untuk mewujudkan dan menjamin ambisi VOC sebagai pemegang monopoli komoditas rempah-rempah, tidak ada jalan lain kecuali menempuh cara berperang terhadap sesama pesaing (Bernand H.M Vlekke, 2008: 76).

Tak hanya kerajaan Banten, kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung pada saat itu benar-benar menentang niatan VOC yang hendak merebut dan menduduki Pulau Jawa (MC.Ricklefs, 2005: 106). Apalagi waktu itu VOC sudah berhasil merebut Jayakarta yang kemudian berganti nama menjadi Batavia. Namun, sepeninggal Sultan Agung, VOC baru bisa mempengaruhi, mengatur dan ikut campur dalam internal kerajaan Mataram, sehingga sikap kerajaan Mataram terhadap VOC menjadi moderat terhitung sejak Amangkurat I yang menggantikan posisi Sultan Agung. Kondisi tersebut yang membuat kerajaan Mataram mengalami gejolak yang hebat selama satu abad, baik itu dari dalam istana maupun luar istana. Akibatnya, kerajaan ini terpecah menjadi tiga kekuasaan; Pakubuwono, Hamengkubuwono, dan Mangkunegara. Maka sejak tahun 1755 sejarah mencatat bahwa Kerajaan Mataram telah terhapus dari peta pulau Jawa.

Tidak lama kemudian, VOC resmi dibubarkan oleh kerajaan Belanda pada tahun 1800 akibat korupsi, skandal yang dilakukan oleh pejabatnya. Praktis kerajaan Belanda mengambil alih peran VOC, tetapi tragisnya tindakan Belanda lebih dari apa yang dilakukan oleh VOC semakin memberatkan kalangan rakyat pribumi. Di samping itu mereka juga masih tetap ikut campur dengan urusan Istana Mataram.

Perlawanan Pangeran Diponegoro

Kebencian terhadap aksi kolonial Belanda memunculkan sosok Pangeran Diponegoro, salah satu anak Sultan Hamengkubuwono III. Sebagaimana pendapat Peter Carey, yang dikutip Zainul Milal Bizawie, Pangeran Diponegoro yang lahir pada 1785 M, selama ini dikenal sebagai sosok yang tidak berkenan dengan berbagai kebrobokan yang berlangsung di istana. Sebagai anggota kerajaan istana, ia sebenarnya berhak atas segala yang didapatkan dengan statusnya sebagai pangeran kraton. Namun hal ini tidak dilakukannya, dan ia lebih suka menyingkir dari kemewahan istana untuk tinggal di kawasan terpencil di Tegalrejo.

Selama di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro memusatkan perhatian tentang masalah agama, adat-istiadat, sejarah, maupun segala hal yang berhubungan dengan kerohanian. Sikap Pangeran Diponegoro banyak mendapatkan simpati dari kalangan masyarakat biasa, petani serta para ulama dan santri. Bahkan lebih dari itu, ia dianggap sebagai Ratu Adil di kalangan masyarakat yang saat itu dirundung beban berat sehubungan dengan kesewenang-wenangan pihak Belanda dan kalangan istana.

Pecahnya Perang Jawa

Peristiwa pematokan jalan pada Mei 1825, melewati pekarangan rumah Pangeran Diponegoro yang dilakukan Belanda tanpa melakukan pembicaraan terlebih dahulu. Hal tersebut kemudian menjadi pemicu atas meletusnya perang besar yang disebut Perang Jawa (Java Orloog). Pada Juli 1825 Belanda mengirimkan para serdadunya untuk menangkap Pangeran Diponegoro, namun gagal karena ia berhasil meloloskan diri dan bersiap untuk mengorbarkan perang kepada Belanda (Bizawie, 2014: 45).

Menghadapi Musuh, Merangkul Ulama

Menurut Agus Sunyoto (2012), dalam Babad Diponegoro yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro, bahwa ia merupakan mursyid tarekat Syatariyah yang mendapat pewarisan ilmu dari Syeikh Taftazani asal Sumatera Barat. Dalam aksinya melawan penjajah, selain mendapat dukungan dari dalam istana, Pangeran Diponegoro juga mendapatkan dukungan dari ulama-ulama, di antaranya Kyai Mojo dan Sentot Ali Basya. Juga dukungan dari ulama pesisir utara maupun Jawa Timur, antara lain Kyai Umar Semarang, Kyai Abdus Salam Demak Jombang, Kyai Hasan Basyari Tegalsari Ponorogo.

Zainul Milal Bizawie (2014) mencatat, besar kemungkinan Diponegoro membangun komunikasi dengan kekhalifahan Turki Usmani. Hal ini terlihat dari pembentukan pasukan yang menggunakan kesatuan-kesatuan seperti di Turki.

Perang Sabil: Patriotisme dan Religiusitas

Untuk membuat semakin mempertinggi semangat perlawanan perang terhadap penjajah, maka pemahaman yang ditanamkan adalah sebuah perang sabil atau perang di jalan Allah dalam rangka bukan hanya sebatas defense (mempertahankan) serta membela harkat martabat diri, melainkan juga untuk menjaga agama dari kezaliman orang kafir.

Dalam melancarkan perlawanan, Pangeran Diponegoro menempuh strategi perang gerilya, selain secara taktik dan stretegi terbukti efektif menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi Belanda, strategi perang seperti ini lebih memungkinkan bagi pasukan Diponegoro untuk bisa lebih dekat dan menyatu dengan masyarakat umum dan kalangan santri, sehingga kaum perlawanan akan mendapat jaminan dukungan untuk meneruskan perang dan perlawanan (Bizawie, 47).

Sejarah mencatat, perang Jawa merupakan perang paling besar semenjak runtuhnya kerajaan Mataram, sedangkan peperangannya berlangsung pada 1825-1830 M.

Memasuki tahun 1829, posisi Pangeran Diponegoro semakin berat dengan tertangkap dan menyerahnya para pendukungnya seperti Pangeran Mangkubumi dan Sentot Prawirodirdjo. Belanda kemudian menambah jumlah personil pasukan dan menempatkannya di Magelang sebagai pusat kekuatan militer dengan pertimbangan letak Magelang yang berada di tengah-tengah kawasan perang (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 200).

Tahun 1830, sebagaimana dikutip Milal Bizawie, Pangeran Diponegoro tertangkap Belanda dan dibawa ke Semarang dengan pengawalan ketat pasukan Belanda. Pada Mei 1930 ia dibawa ke Manado, Sulawesi Utara. Namun karena dirasa penjagaan di tempat ini kurang menjamin maka ia dibawa ke Makassar pada tahun 1834. Di Makassar, Pangeran Diponegoro menjalani masa pengasingannya hingga meninggal dunia pada 5 Januari 1855 dalam usisa 70 tahun (Kartodirdjo, 1999: 384).

Melahirkan Jejaring Pesantren

Penangkapan Pangeran Diponegoro menandai berakhirnya Perang Jawa. Sebagaimana penelitian dari Milal Bizawie, banyak kyai-kyai yang melarikan diri ke berbagai daerah untuk mendirikan pesantren-pesantren dan tarekat.

Kyai Abdus Salam, salah satu ulama pemimpin pasukan Diponegoro, bersama pasukannya memindahkan basis pasukannya menuju Tambak Beras, Jombang. Ia cenderung berpikir strategis menyiapkan kader-kader untuk meneruskan perjuangannya. Kyai Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Shoichah dan istirnya, Nyai Muslimah, merintis pesantren yang nantinya dikenal sebagai Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras.

Salah satu puterinya bernama Layyinah dipersunting santrinya, Kyai Usman dan memiliki puteri yang dinikahi Kyai Asy’ari, ayah KH Hasyim Asy’ari, seorang tokoh pendiri NU yang sangat berperan dalam masa revoluasi kemerdekaan. Sedangkan puteri Kyai Abbas lainnya, Fatimah dipersunting santrinya, Kyai Said dan memiliki putera Kyai Chasbullah Said yang nantinya memiliki putera bersama KH. Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU bersama KH Hasyim Asy’ari.

Ulama pasukan Diponegoro lainnya, Pangeran Rojoyo atau Syeikh Abul Ghonaim juga mendirikan pesantren pertama di kota Batu. Seluruh prajurit dan punggawa Rojoyo menjadi santri pertama. Pondok pesantrennya juga digunakan untuk berjuang melawan Belanda, sehingga tidak luput dari sasaran Belanda dalam setiap serangannya.

Panasehat Spiritual Pangeran Diponegoro, Eyang Djoego atau yang disebut dengan Kyai Zakaria berlabuh ke dusun Djoego, Blitar. Kemudian banyak berdatangan para bekas pasukan Pangeran Diponegoro ke Padepokan yang dirintis oleh Kyai Zakaria. Padepokan ini digunakan sebagai salah satu kantong basis perhimpunan kekuatan pejuang kemerdekaan.

Ada juga Kyai Abdur Rouf, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro juga membangun pesantren di Muntilan, Magelang. Salah satu cucunya, Kyai Nahrawi Dalhar Watucongol menjadi tokoh penting dalam perjuangan revolusi kemerdekaan.

Ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro lainnya yang memusatkan basis perlawanannya di Semarang, adalah Kyai Umar. Putra Kyai Umar, yakni Kyai Saleh Darat yang merupakan tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara bersama Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Mahfudh at-Tarmasy. Kyai Saleh Darat juga merupakan guru spiritual pejuang perempun, RA Kartini serta guru pendiri NU dan Muhammadiyah. Salah satu guru kyai Saleh Darat adalah KH. M. Syahid, seorang ulama keturunan Syeikh Ahmad Al-Mutamakkin yang memiliki pesantren di Kajen-Waturoyo Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Selain itu, ada Kyai Hasan Basyari II, rekan Kyai Umar dan juga sebagai ajudan Pangeran Diponegoro, salah satu cucunya adalah KH. Moenawir, pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta. Di antara keturunan Kyai Basyari, nantinya mendirikan Pesantren Gontor seperti yang dikenal sekarang ini. Rekan Kyai Umar lainnya adalah Kyai Syada’ dan Kyai Darda’ dua orang prajurit Pangeran Diponegoro. Kyai Darda’ berasal dari Kudus, namun menetap di Mangkang Wetan, Semarang bagian Barat, dan membuka pesantren disana.

Ada pula Kyai Jamasari, prajurit Pangeran Diponegoro di daerah Solo dan mendirikan pesantren Jamsaren, Surakarta. Ketika Kyai Jamsari ditangkap Belanda, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan dan tutup. Pesantren tersebut dihidupkan kembali oleh Kyai Idris, salah satu santri senior Kyai Saleh Darat. Dialah yang menggantikan Kyai Saleh Darat selama ia sakit hingga wafatnya.

Di Purwakarta Jawa Barat, juga salah satu pasukan Diponegoro adalah Syeikh Baing Yusuf. Salah satu muridnya adalah Syeikh Nawawi al-Bantani yang menjadi tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara berikutnya. Pasukan Diponegoro lainnya di Cirebon adalah Kyai Muta’ad. Putera Kyai Muta’ad, bernama Kyai Abdul Djamil juga salah satu tokoh dalam jaringan ulama yang menemukan potensi KH. Hasyim Asy’ari muda. Kyai Abdul Jamil kemudian membawa serta puteranya, Kyai Abbas untuk bersama-sama KH. Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Hijaz.

Masih banyak lagi ulama mantan pasukan Diponegoro yang mendirikan pesantren-pesantren yang tujuannya tidak hanya untuk menyebarkan keilmuan saja, tetapi pada saat itu juga untuk meneruskan perjuangan melawan penjajah diberbagai daerah lainnya. Meskipun tidak sedikit perlawanan bersifat kultural, tetapi hal tersebut telah memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi kemerdekaan Indonesia. Kontribusi yang dilakukan oleh para ulama, santri serta guru tarekat untuk merebutkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa yang kini dikenal dengan bangsa Indonesia.

Penulis adalah alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, mantan ketua CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati periode ’13/14, Koordinator Dept. Kominfo CSSMoRA Nasional Periode ’15/16, Ketua CSSMoRA Nasional Periode ’16/17.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *