Nilai-nilai di Balik Heterogenitas Pesantren

Oleh M. Haromain
Suatu pondok pesantren, terutama pesantren yang besar, di dalamnya berkumpul ribuan santri yang sarat akan perbedaan. Berbeda mulai dari asal daerah, bahasa, kultur, selisih usia, hingga kedudukan sosial orang tua di rumah. Pendek kata, komunitas di sebuah pesantren besar adalah majemuk.
Kalau ditelisik, kemajemukan atau heteroginitas pesantren ini tidak sekedar menciptakan suasana lingkungan pesantren sehingga menjadi ramai dan padat. Namun, lebih dari itu keberadaan santri dan latar belakangnya yang penuh dengan perbedaan di pesantren tersebut sebenarnya banyak menyumbangkan nilai-nilai positif dan mendidik karakter santri.
Pertama, di pesantren santri harus berinteraksi dan bergumul dengan santri lain menembus sekat-sekat perbedaan budaya, bahasa daerah dan pembeda primordial lainnya. Sikap demikian, mengajarkan santri bahwa seseorang itu harus menerima dan bersedia untuk bergaul dengan siapapun orangnya itu tanpa perlu memandang perbedaan yang ada di antara mereka.
Kedua, pergumulan santri di pesantren yang plural itu dapat mengikis fanatisme kelompok atau daerah yang kerap tersemat dalam diri seseorang. Hal itu karena dalam komunikasi dan pergaulan antarbudaya, seseorang memang dituntut bisa menanggalkan segenap karakteristik dan atribut kedaerahannya agar tercipta sebuah hubungan yang harmonis serta komunikasi yang efektif.
Bila kita perhatikan, bahwa munculnya banyak konflik berdarah, pertikaian yang tak kunjung usai, prahara yang membuat resah masyarakat yang pernah terjadi di berbagai daerah negeri ini penyulut utamanya tidak lain ialah hinggapnya rasa fanatik yang berlebihan pada masing-masing orang akan kelompok, agama, suku, organisasi, ideologi ataupun lainnya.
Mereka yang terjangkit fanatisme biasanya mengklaim kelompok atau daerahnya yang paling benar, paling superior, paling tinggi prestisenya. Sebaliknya menganggap golongan lain sebagai golongan yang salah, lemah, inferior dan stigma negatif lainnya. Pandangan dan sikapdemikian jelas mudah sekali dapat mengobarkan api permusuhan.
Mental dan watak tidak sehat seperti fanatisme di atas tidak sesuai dengan pendidikan yang ditransmisikan di pesantren. Dengan lingkungannya yang majemuk seperti paparan di depan, pesantren secara implisit mendidik para santri agar menghargai dan menghormati orang lain yang berbeda. Kearifan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan ini jelas tidak akan berkembang jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang homogen, penuh kesamaan dan keseragaman.
Alhasil, Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia, eksistensinya tidak hanya mengajarkan pelbagai ilmu keislaman semata. Pondok pesantren juga menggembleng dan mendidik santri dengan nilai-nilai egalitarianisme dan humanisme, dua komponen sikap yang sangat berarti bagi terjaganya persatuan dan kerukunan umat dan bangsa. (nu.or.id)
Penulis bergiat di Forum Santri Temanggung, Jawa Tengah.
Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *