Muhasabah di Era Kompetitif dan Blunderisme Kultural

 

 

 

 

 

Oleh : M. Naufal Waliyuddin*

Hāsibŭ anfusakum qabla an tuĥāsabŭ”, seingat saya demikian ucap sayyidina Umar bin Khattab kepada umat Islam waktu itu. Hisab-lah dirimu masing-masing sebelum engkau di-hisab. Menunjukkan betapa pentingnya muhasabah. Introspeksi diri.

Terbukti begitu urgennya lantaran efek dari introspeksi diri yang sebetulnya penuh dengan hikmah-hikmah kehidupan. Sebagaimana kaum sufi meneladankan dalam bentuk perilaku keseharian. Jujur, saya yakin semua sufi pun melakukannya, ber-muhasabah selalu, tanpa terkecuali.

Ringkasnya, muhasabah adalah bertanya kepada diri sendiri. Dengan ungkapan lain, tindakan seseorang melihat kembali amalnya setiap hari dan setiap saat, tak hirau berupa kebaikan ataupun keburukan. Kebenaran maupun kesalahan. Meskipun dalam urusan tersebut, terutama soal penentuan finalisasi “kebaikan” dan “kebenaran” itu wewenang Allah. Terlebih bagi para sufi hal itu alangkah baik agar dilupakan begitu saja, bagai angin lalu.  Tetapi tidak dengan “keburukan” dan “kesalahan” yang telah kita perbuat. Sungguh perlu untuk direnung-perhatikan agar kemudian disesali dan tak mengulanginya lagi.

Dari situlah titik krusial muhasabah. Mengevaluasi secara deep-interpersonal supaya dapat menghilangkan hal yang serba-keliru serta memperbaiki semua kesalahan dan kekeliruan yang telah telanjur dilakukannya. Atas runtutan itulah maka muhasabah bisa diasosiasi-maknakan sebagai sebuah tekad dan upaya sungguh-sungguh (mujahadah) yang sangat penting bagi aktualisasi—bahkan spiritualisasi—jati diri manusia, yang selama ini sering dikeliru-pahami khususnya oleh Psikologi Barat.

Pada masa silam, pendahulu kita para salafush-shalih senantiasa melihat dengan amat cermat hal-hal hingga titik-bentik yang mereka anggap sebagai noda yang sangat berpotensi menggelisahkan hati nurani. Mereka menggunakan kotoran batin itu untuk menghadapi badai ketertipuan dan ‘ujub yang dapat menyerang diri mereka di masa mendatang.

Dengan menjaga kontinuitas dalam melakukan muhasabah, boleh jadi proses tersebut menjadi pemicu kelahiran intelektual baru dan tercerahkan dalam rangka menggali nilai-nilai kemanusiaan yang sejati. Lantaran dari sisi lain, ia (muhasabah) pun merupakan kerja keras spiritual seorang hamba.

Hal ini tentu erat kaitannya dengan hadits tasawuf yang populer itu, dengan menggali kedalaman lubuk jiwa dan hati sendiri niscaya dapat menetaskan kedekatan diri kita kepada Sang Maha. “Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu.” Barangsiapa makrifat akan dirinya sendiri, maka ia akan makrifat pula kepada Tuhan Pengasuhnya. (Walaupun terkadang Allah Swt. memang gemar bercanda dan membesarkan hati manusia, namun sangat mungkin hadits ini pun bisa bermakna sebaliknya juga).

 

Blunderisme Kultural

Masyarakat kita di zaman gerbang akhir modern ini acapkali meremehkan sesuatu yang sebetulnya special. Serba-terbalik sekarang ini. Yang gulita dicerah-cerahkan. Cemerlang digelap-gelapkan. Pahlawan kita buang. Pecundang kita junjung-junjung. Bahkan dalam urusan nilai penghormatan vertikal-horisontal pun, manusia abad ini semakin asyik dalam kondisi tertipu.

Yang menakjubkan justru dalam sikon tertipu itu, masih saja tidak sedikit yang malah berbangga-bangga bin bahagia dengan keadaannya. Tidak tergoyahkan. Hingga kalau Anda coba-coba mengingatkan ia, bersiaplah menerima hadiah ‘bogem’ darinya. Ini fragmen yang kasar atau yang tampak mata.

Kecenderungan masyarakat kekinian ialah berfokus pada goal tanpa didasari pemetaan pikiran yang lengkap tentang sistem, tata-cara, dimensi ruang waktu (ke-empan-papan-an) dan strategi pencetakan goal yang diidam-idamkannya. Banyak manusia-manusia yang berlari penuh ambisi menyala untuk justru menjebol gawangnya sendiri. Anehnya lagi, ia malah selebrasi. Begitulah perangai wajah jaman kita.

Sedangkan secara lebih implisit lagi, beragam keluhuran budi-pekerti yang tidak jarang ditertawakan seolah barang remeh. Konteks ini misalnya tentang dilematika bermuhasabah. Banyak pernyataan yang mengatakan bahwa tak perlu lah kita sibuk menggali masa-lalu atau menyesali diri sampai mengakibatkan vakum atau stagnan dalam aktivitas sehari-hari.

Mungkin sekali pendapat tersebut bisa benar adanya. Akan tetapi, perlu digarisbawahi apabila tak sekali-pun kita, walau sekadar menengok via spion saja ke masa-silam, besar kemungkinan kita akan tersaduk atau tertabrak angkuhnya gelombang sejarah. Sebab, sejarah sangat penting. Bukan untuk disesali belaka. Melainkan sekaligus demi pemenuhan-amaliyah firman Tuhan yaitu pembelajaran bagi kita untuk kemudian hari dengan senantiasa meningkatkan kualitas diri tanpa membawa-serta rasa sombong di sandingnya. Wal tandhur nafsun ma qaddamat lighadin.

Telah barang tentu, semua manusia (khususnya kita para muslim) butuh benar untuk melakukan muhasabah. Sama sekali tidak ada yang tidak butuh. Seperti yang semenjak berabad-abad silam sudah para sufi amalkan. Juga karena muhasabah bagaikan lentera di dalam dimensi batin, lubuk internal seseorang. Dengannya, jiwa akan terlatih untuk senantiasa eling lan waspadha dan melakukan pengawasan nafsaniyah—saya kutip istilah dari M. Fethullah Gulen—yaitu pengawasan yang dilakukan jiwanya sendiri sehingga meningkatkan presisi, akurasi ketajaman, sensitivitas, dalam menghadapi godaan setan yang memang berenang-renang di penjuru aliran darah kita.

Muhasabah diperlukan terutama di era yang penuh kompetisi ini—bahkan kompetisi bagi-bagi hoax. Sebab peradaban kini yang ada hanya menang-kalah, untung-rugi, tampan-jelek, jelita-buruk, wangi-bau, dan sejenisnya. Manusia semakin terbuai oleh iming-iming, walau berbau surgawi sekalipun semisal lailatul qadr, hanya bertujuan untuk memenuhi hasrat-hasrat dan kepentingan pribadi.

Kenapa kita sesekali tidak memburu, berlomba-lomba, bersaing, atau fastabiqul khairaat demi keperluan dan kemaslahatan banyak pihak, umpamanya se-Indonesia? Kenapa kita tidak berkompetisi, siapapun pemenangnya, namun ia akan tetap bersedia jika hasilnya untuk dipurak bersama-sama? Barangkali dengan kendurian? Bukankah itu cukup mesra untuk diimpikan? Aih, barangkali kita memang lebih termotivasi jika menang sendiri dan hasilnya disabet sendiri.

Maka, agar bisa menjauhkan diri dari bahayanya ampas kotoran batin macam tersebut, yang lama-lama mengendap hingga bahkan mampu merusak sebuah bangsa, perlu kiranya setiap individu mengamalkan introspeksi diri guna menundukkan ego yang selama ini cenderung kita manjakan. Jarang kita puasakan. Karena, pada saat ini, jam terbang kita hanya dihabiskan untuk diajari bagaimana mengungguli yang lain. Bagaimana mengalahkan yang lain. Bagaimana mempecundangi yang lain.

Pusat kita saat ini hanyalah sebatas kemauan ego saja, bahasa noraknya: egosentris. Betul-betul berdampak besar pada tatanan masyarakat kita yang pada gilirannya nanti (atau malah sudah terjadi?) berperangai egois, individualis, bahkan materialistis (mempusatkan pada materi thok sampai lupa pada dirinya sendiri). Merasa lebih tinggi dari yang lainnya, wabah ‘ujub. Kelak, bisa-bisa tidak tumbuh sejumput pun rasa iba sampai sekalipun kepada diri sendiri. Meski tetap, pada akhirnya, setiap malam mereka (mungkin juga kita) dihinggapi rasa hampa, rongga yang begitu besar tetapi lengang di dada. Kekosongan.

Secara otomatis, bermuhasabah mampu menghindarkan diri dari hal semacam demikian itu, juga menghindarkan kita dari perilaku absurd seekor singa yang diilustrasikan dalam bentuk diwan oleh Maulana Rumi.

Seekor Singa bergaul dengan seekor Kelinci:

Mereka berlari bersama ke perigi, sumur tua di sana, lantas melihat ke dalamnya.

Sang Singa melihat bayangan diri; di permukaan air.

Tampaklah muka seekor Singa dan seekor Kelinci

yang gemuk di sandingnya.

            Begitu ia melihat musuhnya, maka ia meninggalkan Kelinci

                        dan meloncat masuk ke dalam perigi.

            Ia jatuh ke dalam lubang yang telah ia gali sendiri:

            Ketidakadilannya lah yang menerkam kepalanya sendiri.

            O, pembaca, betapa banyak keburukan yang engkau lihat

                        pada orang lain, itu tak lain adalah sifatmu sendiri

                        yang terpantul pada diri mereka!

            Semua yang nampak pada pada mereka, adalah dirimu

                        : kemunafikan, ketidakadilan memandang, dan keangkuhanmu.

            Engkau tak mampu melihat jelas keburukan dalam dirimu,

kalau tidak begitu, engkau akan membenci dirimu sendiri

dengan seluruh jiwamu.

            Seperti Singa yang menerkam bayangannya sendiri dalam air,

            Engkau hanya akan menganiaya dirimu sendiri!

            Sedang jika engkau telah mencapai dasar sumur sifat-sifatmu sendiri,

                        maka engkau bakal mengetahui, kejahatan pun ada pada dirimu.[1]

 

Telah terlalu banyak dan sering kita amati akhir-akhir ini, konflik marak terjadi. Antar-sesama saudara. Sesama manusia. Saling menuding, saling menyalahkan satu sama lain. Barangkali hal tersebut termasuk dari dampak kurangnya intensitasn dan kualitas muhasabah kita yang sangat mungkin terlanjur ditimbun oleh rasa jemawa dan ingin menang sendiri.

Memang lumrah dan bisa dimaklumi kalau hal itu terjadi pada masa sekarang. Namun bukan berarti kita lantas memilih hanya berdiam diri atau sekadar memandangi fenomena tersebut. Perlu begitu dalam kita mengurai permasalahan-permasalahan yang tampak maupun tidak, untuk menggali dan menemukan akar masalahnya.

Menurut sehemat-hematnya pengetahuan dan argument saya, mungkin dengan salah satu dari sekian tak terhitung nilai-nilai sufistik para pendahulu kita yang kini dibutuhkan ialah melakukan muhasabah. Secara total-universal, tidak hanya sebagai manusia individu. Yang pada ujungnya, akan terwujud dan membuahkan “seni dalam memandang”. Memandang yang lebih muda, wah, ia hanya menghabiskan sedikit waktu untuk berbuat dosa. Memandang orang yang lebih dewasa atau tua, wah, ia sudah punya lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan kebaikan.

Pendek kata, sangat mungkin orang lain lebih baik daripada kita—justru disebabkan karena kita tahu sendiri apa saja kesalahan, kebusukan, kemunafikan, kepecundangan yang pernah masing-masing kita perbuat sendiri-sendiri. Tidak peduli sekuat apapun kita berusaha memungkirinya, hal itu tidak mungkin dapat kita tutupi dari diri sendiri. Wallahu a’lam.[]

 

 

 

*Penulis adalah alumni pesantren Amanatul Ummah, Pacet-Mojokerto. Pernah aktif di PMII Kab. Bandung dan merupakan bagian dari keluarga besar Tasbih Nusantara (CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung Angkatan 2013). Ig:

[1]) dalam buku Nyanyian Seruling: Puisi-Puisi Sufistik Jalaluddin Rumi, Bandung: Sega Arsy, 2014.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *